Negara-negara UEFA sepakat memboikot seluruh kompetisi FIFA setelah rencana besar Infantino menjual saham kepada investor swasta
Dewi Rahayu August 01, 2026 02:06 AM

Negara-negara UEFA sepakat memboikot seluruh kompetisi FIFA setelah rencana mengejutkan Gianni Infantino untuk melepas sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta.

UEFA menegaskan bahwa 55 asosiasi anggotanya tidak akan ambil bagian dalam kompetisi FIFA selama rencana mengejutkan Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak Piala Dunia kepada investor swasta masih ada. Langkah tegas ini muncul setelah serangkaian pernyataan dan reaksi beragam dari federasi sepak bola di seluruh dunia, yang kabarnya tidak diberi tahu mengenai proses pengambilan keputusan FIFA.

'Tidak akan berpartisipasi'

Pada Rabu pagi, Infantino mengumumkan bahwa ia secara sepihak memutuskan membentuk perusahaan terpisah untuk hak komersial FIFA, yang diberi nama FIFA Forward Enterprises, dengan sekitar 20 persen sahamnya dapat dibeli oleh investor swasta.

Pengumuman itu, yang dibuat tanpa memberi tahu enam konfederasi FIFA, memicu guncangan besar di dunia sepak bola. UEFA kemudian menggelar rapat darurat pada Kamis, dan dalam pertemuan itu menyepakati boikot terhadap seluruh kompetisi FIFA.

Mereka menjelaskan keputusan tersebut dalam sebuah pernyataan: "Model seperti ini tidak punya tempat dalam sepak bola dunia. Masa depan sepak bola tidak boleh ditentukan oleh harapan pihak-pihak yang kewajiban utamanya adalah memaksimalkan keuntungan finansial. Kepentingan asosiasi nasional, liga, klub, pemain, dan pendukung juga tidak boleh ditempatkan di bawah kepentingan imbal hasil investor. Sepak bola tidak bisa menggadaikan masa depannya demi keuntungan finansial.

"Posisi Eropa jelas. Kami tidak akan pernah memberikan legitimasi kami pada model ini. Tidak seorang pun memiliki otoritas moral untuk menjual sesuatu yang hanya mereka pegang sebagai titipan bagi generasi berikutnya. Sebagai hasil dari pembahasan hari ini, tidak ada tim nasional UEFA yang akan berpartisipasi dalam kompetisi FIFA mana pun selama proposal ini masih hidup, kecuali proposal ini telah ditinggalkan sepenuhnya dan ada jaminan yang mengikat bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya kepada kepemilikan swasta."

Tindakan diambil segera

Keputusan UEFA tampaknya menempatkan sejumlah kompetisi dalam ancaman. Masalah yang paling langsung adalah Piala Dunia Wanita 2027, di mana tim-tim UEFA akan tampil sangat dominan. Piala Dunia putra di masa depan dan Piala Dunia Antarklub juga bisa ikut terancam.

UEFA menegaskan hal itu dalam pernyataannya: "Ada hal-hal yang memang terlalu penting untuk dijual. Piala Dunia FIFA adalah milik sepak bola. Itu selalu demikian. Dan selama Eropa masih memiliki suara, itu tidak akan pernah dijual."

Hubungan yang memang sudah dingin

Langkah UEFA tampaknya akan semakin memperumit hubungan yang sudah sulit antara Eropa dan FIFA. Presiden konfederasi Aleksander Ceferin memboikot final Piala Dunia sebagai bentuk protes terhadap FIFA, sementara UEFA menyebut keputusan FIFA untuk menghentikan skorsing kartu merah Folarin Balogun sebagai sesuatu yang 'belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan.'

Sebelumnya pada Kamis pagi juga dilaporkan bahwa UEFA sedang mempertimbangkan seorang kandidat untuk maju melawan Infantino dalam pemilihan FIFA Maret mendatang. Infantino diperkirakan akan maju tanpa lawan dan mengamankan masa jabatan lain sebagai presiden FIFA. Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi termasuk di antara nama-nama yang disebut sebagai penantang, meski ia dilaporkan enggan mencalonkan diri untuk posisi tersebut.

Alasan untuk optimistis?

Namun, keputusan UEFA juga bisa membuka pintu bagi negosiasi. Akan sangat sulit menyelenggarakan kompetisi sepak bola besar apa pun tanpa dukungan sepak bola Eropa.

Herve Verhoosel, mantan Direktur Komunikasi PBB yang bekerja erat dengan FIFA selama berada di organisasi tersebut, mengatakan bahwa ancaman boikot itu mungkin masih menyisakan ruang untuk negosiasi yang lebih serius.

"Posisi UEFA seharusnya tidak dilihat semata-mata sebagai ancaman... Tujuan sekarang seharusnya bukan mempertahankan posisi yang sudah diambil. Yang harus dilakukan adalah memulai kembali percakapan," katanya. "Jalan terbaik ke depan bukanlah memulai dengan sebuah proyek yang sudah memiliki nama, penasihat keuangan, calon investor, dan struktur yang sudah terbentuk.

"Jalan terbaik ke depan adalah memulai dengan selembar kertas kosong dan mengajukan satu pertanyaan sederhana: apa yang benar-benar sesuai dengan kepentingan jangka panjang sepak bola? Jika pembahasan itu terbuka, transparan, dan inklusif, sepak bola akan keluar lebih kuat—apa pun model akhirnya nanti."

Konfederasi lain ikut bersuara

UEFA bukan satu-satunya pihak yang mengambil tindakan. CONCACAF menggelar rapat darurat pada Kamis siang setelah mengeluarkan pernyataan yang mengkritik kurangnya 'tata kelola yang baik' dari FIFA.

Konfederasi Sepak Bola Asia juga menyampaikan kekhawatiran mereka atas kurangnya transparansi dari FIFA:

"AFC sangat prihatin bahwa tindakan sepihak FIFA tampaknya merusak fondasi utama sepak bola kontinental, yang dibangun di atas solidaritas, kerja sama, dan transparansi," demikian bunyi pernyataan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.