Tekuni Hobi yang Bisa Datangkan Penghasilan Tambahan, Agus Bikin Ternak Ayam Kampung Silangan
muslimah August 01, 2026 07:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, BREBES - Di sela kesibukannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Dinkominfotik) Kabupaten Brebes, Agus Mauludin berhasil mengembangkan usaha ternak ayam kampung silangan yang kini menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.

Agus mengaku, awalnya ia tidak memiliki niat untuk menjadikan ternak ayam sebagai usaha sampingan. Kegiatan tersebut bermula dari rasa penasaran dan keinginan menyalurkan hobi sebagai upaya memanfaatkan waktu luang.

Menurutnya, kondisi perekonomian keluarga yang belum sepenuhnya stabil turut mendorong dirinya untuk mencoba beternak ayam sebagai alternatif menambah pemasukan.

Selain alasan ekonomi, Agus juga memiliki tujuan lain, yakni menjaga ketahanan pangan keluarga melalui ketersediaan sumber protein yang dapat dipenuhi secara mandiri.

"Awalnya sih kita bukan untuk usaha sampingan, karena iseng aja ekonomi juga lagi seperti ini. Kemudian juga untuk ketahanan pangan mas," ujarnya, saat ditemui Tribun Jateng, Rabu (29/07/2026). 

Inspirasi beternak ayam juga datang dari kebiasaan anak-anaknya yang gemar mengkonsumsi telur dan daging ayam. Dari situlah ia memutuskan untuk memelihara ayam sendiri.

"Kebetulan juga anak saya suka sama telur, anak yang besar suka sama ayam. Jadi  sekalian aja kita ternak ayam," ungkapnya.

Dalam usahanya, Agus memilih mengembangkan beberapa jenis ayam kampung hasil persilangan yang memiliki produktivitas tinggi dan nilai ekonomis yang menjanjikan. Salah satu jenis yang dipelihara adalah ayam kampung elba.

Ayam ini dikenal memiliki kemampuan bertelur hingga sekitar 300 butir per tahun.

Menurut Agus, ayam elba merupakan hasil persilangan antara ayam kampung lokal dengan ayam arab sehingga menghasilkan produktivitas telur yang jauh lebih tinggi dibanding ayam kampung biasa.

"Kami menernak ayam persilangan, ada ayam kampung jenis elba yang produktivitas telurnya sangat tinggi bisa sampai 300 butir per tahun," katanya.

Kemudian, ayam kuntara yang memiliki keunggulan tidak hanya pada produksi telur, tetapi juga memiliki fungsi ganda atau dual purpose karena dapat dimanfaatkan sebagai ayam pedaging.

Agus menjelaskan, nama Kuntara merupakan singkatan dari Kampung Unggul Nusantara yang merupakan hasil persilangan ayam ras pedaging dan petelur.

"Selain elba, ada ayam kuntara. Jenis ayam ini memiliki produktivitas telur yang sama tingginya, yakni mencapai sekitar 300 butir per tahun," tuturnya.

Jenis lainnya yang dikembangkan adalah ayam mahdi. Berbeda dengan dua jenis sebelumnya, ayam ini lebih difokuskan sebagai ayam pedaging.

Ayam mahdi merupakan ayam hybrid asal Malaysia yang memiliki pertumbuhan sangat cepat sehingga dalam waktu sekitar dua bulan sudah dapat mencapai bobot satu kilogram.

Untuk memulai usaha tersebut, Agus mengaku hanya membeli satu paket bibit ayam yang terdiri atas satu ekor pejantan dan empat ekor betina. Saat itu, satu paket ayam elba dibelinya dengan harga sekitar Rp 700 ribu sebagai modal awal membangun peternakan kecil di rumah.

Usaha peternakan yang dijalankan Agus baru mulai dirintis pada tahun lalu. Setelah berjalan beberapa waktu, Agus kemudian mulai mengembangkan pembibitan secara mandiri.

Ia pun menambah koleksi ternaknya dengan membeli satu paket ayam kuntara seharga Rp 1 juta.

Sementara untuk ayam Mahdi, Agus juga membeli satu paket bibit dengan harga sekitar Rp 700 ribu.

Seiring bertambahnya populasi ternak, Agus kini mampu memproduksi telur setiap hari dari ayam-ayam petelurnya. 

Untuk ayam pedaging, panen dilakukan sesuai permintaan konsumen sehingga hasil penjualan dapat terus berjalan sepanjang tahun.

Meski demikian, Agus mengaku saat ini lebih memprioritaskan produksi telur karena dinilai lebih stabil dan berkelanjutan.

Dalam pengelolaan ternaknya, Agus menerapkan sistem yang fleksibel. Ketika kandang sudah penuh, ayam petelur akan dijual sebagai ayam konsumsi.

Sebaliknya, apabila stok bibit mulai menipis, telur-telur yang dihasilkan akan lebih banyak diarahkan untuk proses penetasan guna menghasilkan bibit baru.

"Biasanya saya menggunakan sistem begini, kalau kandang sudah penuh, maka kami jual ke telur. Kalo pembibitannya habis, kami ke penetasan," kata Agus.

Strategi tersebut dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembibitan dan penjualan hasil ternak. Dari hasil penjualan telur, Agus mengaku mampu memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 1 juta setiap bulan.

Sementara dari penjualan ayam pedaging, keuntungan lebih besar biasanya dirasakan saat momen Hari Raya Idul Fitri ketika permintaan pasar meningkat.

Pada musim Lebaran, pendapatan dari penjualan ayam pedaging dapat mencapai kisaran Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.

"Kalau dari telur ya kita bisa nerima bersih kisaran Rp 1 jutaan setiap bulan. Kalau di pedaging paling kita bisa menikmati manisnya saat lebaran nih," tuturnya.

Bagi Agus, usaha ternak ayam bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mendukung ketahanan pangan keluarga dan memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif.

Ketekunannya juga mendapat apresiasi dari Kepala Dinkominfo Brebes Dr Warsito Eko Putro SSos. Ia mengaku bangga kepada stafnya yang bisa mempunyai kerja sampingan tanpa mengganggu pekerjaan utamanya sebagai ASN.

"Saya kira ini merupakan sebuah terobosan yang bagus bagi seorang ASN, selain itu juga bisa menjadi contoh para ASN yang lain," pungkasnya. (Wahyu Nur Kholik)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.