Kadis Kesehatan Gorontalo Ismail Akase Ungkap Ancaman TBC Kebal Obat, Minta Pasien Tak Putus Minum
Aldi Ponge August 01, 2026 08:47 AM

TRIBUNGORONTALO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gorontalo mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan penyakit tuberkulosis (TBC), terutama kasus Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO) atau TBC kebal obat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Ismail Akase, mengatakan, TBC-RO umumnya muncul ketika pengobatan tidak dijalani secara tuntas atau pasien tidak disiplin mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter. 

Hal itu disampaikan Ismail saat menjadi narasumber dalam Tribun Podcast bertema Ancaman TBC Kebal Obat di Daerah, Bagaimana Dinkes Membentenginya yang dipandu host sekaligus Editor Tribun Gorontalo, Fajri A. Kidjab, Rabu (29/7/2026).

Menurut Ismail, TBC bukan hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain. 

Pada sebagian kasus, bakteri penyebab TBC dapat menjadi resisten sehingga obat yang biasa diberikan tidak lagi bekerja secara optimal.

Ia mengaku, hingga tahun 2026 terdapat ratusan pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan di Kabupaten Gorontalo.

Dari jumlah tersebut, sebagian di antaranya mengalami TBC resisten obat sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis paru.

Pasien dengan kondisi tersebut akan menjalani pemeriksaan laboratorium lanjutan untuk mengetahui jenis obat yang masih efektif digunakan. Hasil pemeriksaan itu menjadi dasar dokter menentukan terapi yang tepat.

PODCAST--Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Ismail T. Akase, menjadi narasumber dalam Tribun Podcast yang dipandu host sekaligus Editor Tribun Gorontalo, Fajri A. Kidjab, Rabu (29/7/2026).
PODCAST--Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Ismail T. Akase, menjadi narasumber dalam Tribun Podcast yang dipandu host sekaligus Editor Tribun Gorontalo, Fajri A. Kidjab, Rabu (29/7/2026). (TribunGorontalo.com/TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE TRIBUNGORONTALO)

Ismail menegaskan, tantangan terbesar dalam penanganan TBC bukan hanya menemukan pasien, tetapi memastikan mereka menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

Ia menjelaskan, pengobatan TBC berlangsung selama enam hingga sembilan bulan. 

Jika pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan, terutama saat sudah merasa sehat, maka terapi dapat dinyatakan gagal dan harus dimulai kembali dari awal.

Karena itu, dukungan keluarga dinilai sangat penting agar pasien tetap disiplin mengonsumsi obat setiap hari sesuai jadwal.

Selain kepatuhan berobat, Ismail juga mengingatkan masyarakat mengenai tingginya risiko penularan TBC.

Menurutnya, penularan dapat terjadi melalui udara ketika penderita batuk atau bersin. 

Lingkungan rumah yang tertutup, lembap, dan memiliki ventilasi buruk dapat meningkatkan risiko penularan kepada anggota keluarga lainnya.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan agar tidak hanya mengandalkan obat yang dibeli sendiri.

Apabila setelah sekitar satu minggu pengobatan keluhan belum membaik, masyarakat diminta segera datang kembali ke puskesmas.

Tujuannya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan dahak bila diperlukan.

Lebih jauh kata Ismail, Seluruh puskesmas di Kabupaten Gorontalo, telah memiliki petugas penanggung jawab program TBC yang siap memberikan pelayanan dan melakukan skrining kepada masyarakat.

Bila hasil pemeriksaan mengarah pada TBC, pasien akan mendapatkan pengobatan sesuai standar nasional tanpa dipungut biaya melalui fasilitas kesehatan.

Dalam kesempatan itu, Ismail juga mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap penderita TBC.

Menurutnya, penderita TBC tidak boleh dijauhi ataupun didiskriminasi. 

Maka yang dibutuhkan justru dukungan keluarga dan lingkungan agar pasien tetap semangat menjalani pengobatan sampai sembuh.

Ia menambahkan, penanggulangan TBC tidak bisa hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan. 

Baik pemerintah desa, aparat kecamatan, kader kesehatan, tokoh masyarakat hingga keluarga memiliki peran penting dalam menemukan kasus lebih awal sekaligus mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.

Sebagai upaya memperkuat penanganan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo juga mengembangkan program Desa Siaga TBC. 

Melalui program tersebut, kader kesehatan di tingkat desa akan membantu melakukan edukasi, pemantauan minum obat, hingga mendorong masyarakat yang memiliki gejala TBC agar segera memeriksakan diri.

Selain itu, skrining TBC juga diperluas melalui program Cek Kesehatan Gratis yang dilaksanakan di berbagai titik pelayanan kesehatan di Kabupaten Gorontalo.

Ismail menegaskan, semakin banyak kasus ditemukan sejak dini, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan semakin kecil risiko penularan kepada masyarakat.

"Kami berharap masyarakat tidak takut memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula pengobatan dilakukan sehingga penularan dapat dicegah," pungkasnya. (*/Jefri) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.