Melampaui Target Nasional, Mampukah Revitalisasi Sekolah Mengubah Kualitas Pembelajaran?
Fitriadi August 01, 2026 09:03 AM

Penulis: Muhammad Isnaini

(Pengamat EdTech dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Raden Fatah Palembang)


Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) patut diapresiasi sebagai salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional.

Laporan capaian Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) per 13 November 2025 menunjukkan hasil yang melampaui ekspektasi. Dari target revitalisasi 10.440 satuan pendidikan pada jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan menengah, realisasi mencapai 14.071 sekolah.

Sementara itu, pada pendidikan vokasi, dari target 982 sekolah, jumlah penerima manfaat meningkat hingga 2.000 sekolah. 

Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa negara memiliki komitmen serius untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Namun demikian, sebuah pertanyaan mendasar perlu diajukan, Apakah keberhasilan melampaui target kuantitatif tersebut secara otomatis akan meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah?

Pertanyaan ini penting karena pembangunan pendidikan tidak dapat berhenti pada aspek fisik semata. Gedung yang megah, ruang kelas yang nyaman, laboratorium yang modern, maupun fasilitas sanitasi yang memadai memang merupakan prasyarat penting bagi terselenggaranya proses belajar yang berkualitas. Akan tetapi, kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam ruang kelas: bagaimana guru mengajar, bagaimana peserta didik belajar, bagaimana teknologi dimanfaatkan, dan bagaimana budaya akademik dibangun.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan fisik sekolah memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar siswa.

Sekolah yang bersih, aman, terang, memiliki ventilasi yang baik, serta dilengkapi sarana pembelajaran yang memadai mampu meningkatkan kenyamanan belajar, menurunkan tingkat ketidakhadiran siswa, serta meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. 

Lingkungan belajar yang baik juga berdampak positif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis peserta didik.

Namun, pengalaman berbagai negara juga memperlihatkan bahwa investasi infrastruktur tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan capaian belajar apabila tidak diikuti reformasi pada aspek pedagogik.

Laporan berbagai studi internasional menunjukkan bahwa kualitas guru tetap menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi hasil belajar siswa. 

Dengan kata lain, revitalisasi sekolah merupakan syarat perlu, tetapi belum menjadi syarat cukup untuk menciptakan transformasi pendidikan.

Konteks Indonesia, revitalisasi sekolah seharusnya dipandang sebagai titik awal perubahan, bukan tujuan akhir pembangunan pendidikan.

Sekolah yang telah direvitalisasi seyogianya menjadi ruang lahirnya inovasi pembelajaran.

Guru perlu memanfaatkan fasilitas baru untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, berbasis proyek (Project-Based Learning), berbasis masalah (Problem-Based Learning), maupun pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang saat ini menjadi salah satu pendekatan penting dalam membangun kompetensi abad ke-21.

Revitalisasi fisik tanpa revitalisasi praktik pembelajaran berisiko hanya menghasilkan bangunan baru dengan pola pembelajaran lama. Tidak sedikit sekolah yang memiliki laboratorium komputer tetapi masih menggunakannya secara terbatas.

Ada pula laboratorium IPA yang lengkap, namun jarang dimanfaatkan karena keterbatasan kompetensi guru atau minimnya budaya eksperimen. Hal ini menunjukkan bahwa investasi fisik harus berjalan beriringan dengan investasi pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Keberhasilan program revitalisasi juga patut diapresiasi karena menggunakan model swakelola yang melibatkan masyarakat. 

Pendekatan ini tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian lokal.

Pembelian bahan bangunan dari pelaku usaha sekitar serta keterlibatan tenaga kerja lokal membuka lapangan pekerjaan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat.

Model pembangunan partisipatif semacam ini sejalan dengan semangat pembangunan berbasis komunitas (community-based development).

Sekolah tidak lagi dipandang sebagai institusi yang terpisah dari masyarakat, melainkan menjadi pusat pertumbuhan sosial dan ekonomi di lingkungan sekitarnya. 

Ketika masyarakat merasa memiliki sekolah, mereka akan lebih terdorong menjaga fasilitas, mendukung kegiatan pendidikan, bahkan ikut berpartisipasi dalam pengembangan program sekolah.

Namun demikian, keberhasilan pembangunan fisik hendaknya diikuti dengan sistem evaluasi yang lebih komprehensif.

Selama ini indikator keberhasilan revitalisasi sering kali berhenti pada jumlah sekolah yang selesai dibangun atau direhabilitasi. 

Ke depan, indikator tersebut perlu diperluas hingga mengukur dampaknya terhadap mutu pendidikan. Misalnya, apakah angka kehadiran siswa meningkat? Apakah tingkat putus sekolah menurun? Apakah hasil asesmen nasional menunjukkan peningkatan literasi dan numerasi? Apakah pemanfaatan laboratorium dan perpustakaan menjadi lebih optimal? Apakah kepuasan guru, siswa, dan orang tua terhadap lingkungan belajar meningkat?

Pendekatan berbasis data semacam ini akan menghasilkan kebijakan yang lebih akuntabel sekaligus menjadi dasar penyempurnaan program revitalisasi pada masa mendatang.

Revitalisasi sekolah harus mampu menjawab tantangan pendidikan di era digital. Ruang kelas masa kini tidak cukup hanya dilengkapi meja, kursi, dan papan tulis.

Sekolah memerlukan akses internet yang stabil, perangkat teknologi informasi, ruang pembelajaran digital, sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System), perpustakaan digital, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai pendukung pembelajaran yang adaptif.

Guru juga perlu dibekali kemampuan literasi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara efektif. Kehadiran AI, misalnya, dapat membantu guru menyusun perangkat ajar, memberikan umpan balik yang lebih cepat kepada siswa, menganalisis perkembangan belajar, bahkan menyediakan materi pembelajaran yang lebih personal. Namun, teknologi hanya akan menjadi investasi yang bernilai apabila digunakan secara bijaksana dan didukung oleh peningkatan kompetensi pendidik.

Pada konteks pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, revitalisasi sekolah sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pembangunan gedung.

Revitalisasi harus menjadi momentum membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Sekolah yang baik bukan hanya memiliki bangunan yang indah, tetapi juga mampu menumbuhkan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kepedulian sosial peserta didik.

Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat.

Perguruan tinggi, misalnya, dapat berperan melalui pendampingan guru, penelitian pendidikan, pengembangan media pembelajaran, serta pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kualitas sekolah. 

Dunia industri dapat mendukung penyediaan teknologi, khususnya bagi sekolah vokasi, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi sekolah tidak boleh hanya diukur dari banyaknya gedung yang selesai dibangun, melainkan dari banyaknya peserta didik yang memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik.

Sekolah yang direvitalisasi harus menjadi ruang yang menginspirasi, tempat lahirnya generasi yang berkarakter, cerdas, kreatif, serta mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.

Melampaui target nasional merupakan prestasi yang layak diapresiasi. Namun, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai. 

Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa setiap ruang kelas yang telah diperbarui benar-benar menghadirkan pembelajaran yang lebih bermutu. Sebab, pendidikan bukan sekadar membangun tembok dan atap sekolah, melainkan membangun manusia.

Ketika revitalisasi infrastruktur mampu berjalan seiring dengan revitalisasi kualitas guru, inovasi pembelajaran, transformasi digital, serta penguatan budaya belajar, saat itulah revitalisasi sekolah benar-benar menjadi tonggak perubahan menuju pendidikan Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.