Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Terik matahari yang menyengat jelang siang hari tak menyurutkan langkah Eva Putri Anton menyusuri gang-gang sempit permukiman warga di Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Menjinjing tas berisi berkas pendataan dan mengantongi surat tugas resmi, perempuan asal Lingkungan Rancapetir ini mengetuk satu per satu pintu rumah serta tempat usaha warga di Tatar Galuh Ciamis.
Bagi Eva, menjadi Petugas Pencacah Lapangan Sensus Ekonomi 2026 Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ciamis bukan sekadar rutinitas mencatat angka di atas kertas. Ada humanisme, perjuangan, hingga kepercayaan warga yang harus dirajut pelan-pelan.
"Saya ingin berkontribusi menyediakan data akurat untuk pembangunan daerah maupun nasional. Selain itu, pekerjaan ini memberi kesempatan bertemu banyak orang dan belajar dari kehidupan mereka," ujar Eva, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Pernah Ditolak hingga Disuguhi Makan, Kisah Eva Menyusuri Gang-gang Ciamis demi Data Sensus Ekonomi
Menyusuri Pasar Manis Hingga Temukan Usaha Unik
Saban hari, Eva mengemban tugas mencacah di wilayah RT 006/RW 028, RT 001 dan RT 002/RW 025 Kelurahan Ciamis, hingga kawasan Pasar Manis Ciamis Blok D. Bersama tim pencacah dan Pengawas Pemeriksa Lapangan (PML), ia memastikan tidak ada unit usaha warga yang terlewat.
Di balik peluh yang menetes, Eva mengaku takjub melihat geliat ekonomi masyarakat bawah. Dari pengrajin kuliner rumahan hingga pedagang pasar yang puluhan tahun bertahan, ia menyaksikan langsung daya juang warga Ciamis.
"Yang paling menarik itu melihat kreativitas masyarakat. Banyak sekali usaha kecil yang unik dan berkembang. Dari situ saya jadi tahu bagaimana gigihnya warga menghidupi keluarga," tutur Eva penuh semangat.
Menghadapi Penolakan, Dituduh, dan Dicurigai
Perjalanan menyusuri lapangan tak selamanya mulus. Penolakan dari pemilik usaha kerap menjadi 'makanan harian' bagi para petugas sensus. Tak sedikit warga yang menaruh curiga atau khawatir data usahanya disalahgunakan.
Namun, berbekal kesabaran dan pendekatan humanis khas warga Priangan, Eva perlahan melunakkan sikap para responden. Ia senantiasa menunjukkan identitas resmi dan menjamin kerahasiaan data sesuai undang-undang.
"Kalau kita datang dengan ramah dan menjelaskan baik-baik, biasanya warga mulai paham. Malah yang tadinya menolak, akhirnya berubah jadi ramah. Ada yang menyuguhi minum, makanan, sampai mengajak ngobrol panjang. Momen seperti itu membuat lelah langsung hilang," ucapnya tersenyum.
Tantangan Cuaca dan Re-visit Berulang
Selain ujian mental saat menghadapi beragam karakter warga, fisik Eva juga diuji cuaca ekstrem. Musim kemarau membuat suhu di Ciamis terasa membakar, memaksa para petugas berjalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lain di bawah terik mentari.
Tantangan makin terasa tatkala pemilik usaha tak berada di tempat, sehingga Eva harus bolak-balik melakukan kunjungan ulang (re-visit).
"Perjuangannya bukan cuma fisik, tapi juga mental. Harus sabar re-visit berkali-kali sampai bisa bertemu pemilik usahanya," terangnya.
Meski harus menguras tenaga dan menyusuri panasnya jalanan Ciamis, Eva mengaku bangga menjalankan tugas negara ini. Ia berharap deretan data yang dikumpulkannya mampu menjadi fondasi kuat bagi pemerintah dalam melahirkan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran bagi kesejahteraan rakyat. (*)