TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat politik sekaligus mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi, AS Hikam, berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar bulan depan tidak hanya menghasilkan pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum mengembalikan NU sebagai kekuatan moral, intelektual, dan pemikiran kebangsaan.
Menurut dia, tantangan terbesar NU saat ini bukan semata memilih sosok ketua umum baru, melainkan menentukan arah organisasi agar kembali menjadi rujukan dalam merespons persoalan kebangsaan, demokrasi, hingga kehidupan sosial sebagaimana yang pernah dibangun pada era kepemimpinan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
"Dalam lima tahun terakhir menurut saya justru terjadi semacam setback dalam relevansi NU. Apalagi jika kita melihat apa yang dahulu diinginkan dan dicita-citakan oleh Gus Dur. Menghidupkan Gus Dur berarti menghidupkan kembali paradigma itu. NU hampir kehilangan peran sebagai leading sector kepemimpinan pemikiran," ujar Hikam dalam diskusi bertajuk Mencari Format Ideal Kepemimpinan NU di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (31/7/2026).
Hikam menilai, selama beberapa tahun terakhir posisi NU sebagai organisasi yang aktif melahirkan gagasan-gagasan besar untuk kehidupan berbangsa mulai memudar.
Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Baca juga: Hanief Saha Ingin AHWA Tak Hanya Pilih Rais Aam, Tapi Seleksi Ketua Umum PBNU
Dia menegaskan, gagasan mengembalikan paradigma Gus Dur bukan berarti menghidupkan kembali figur personal Gus Dur, melainkan mengembalikan semangat kepemimpinan yang menempatkan NU sebagai organisasi yang independen, kritis, dan mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Menurutnya, NU pada masa lalu tidak hanya dikenal sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi pusat lahirnya pemikiran-pemikiran progresif yang memberikan pengaruh terhadap arah demokrasi, kebangsaan, hingga kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, Hikam menilai muktamar mendatang menjadi kesempatan penting untuk merumuskan kembali orientasi organisasi agar tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.
Dia juga mengingatkan bahwa upaya menghidupkan kembali paradigma tersebut harus diikuti dengan pembenahan tata kelola organisasi agar kepemimpinan baru memiliki fondasi yang kuat dalam menjalankan agenda perubahan.
"Kalau NU ingin kembali melanjutkan paradigma Gus Dur, tokoh-tokohnya banyak. Tinggal memilih. Tetapi jika paradigma itu hendak dilanjutkan, tentu ada konsekuensinya, termasuk perlunya perbaikan aturan main dan tata kelola organisasi yang menjadi tanggung jawab kepemimpinan NU di masa depan," kata dia.
Baca juga: Peta Dukungan Calon Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar Jombang: Nasaruddin Umar Menguat tapi Masih Cair
Di tengah munculnya berbagai dinamika menjelang Muktamar ke-35 NU, Hikam mengaku tidak mempermasalahkan adanya perbedaan pandangan maupun kritik yang berkembang di internal organisasi.
Dinamika tersebut merupakan bagian dari tradisi organisasi yang telah lama hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Menurut Hikam, selama seluruh proses tetap mengedepankan musyawarah dan menghormati mekanisme organisasi, perbedaan pandangan justru dapat menjadi energi untuk melahirkan kepemimpinan yang lebih kuat dan mampu menjawab tantangan NU ke depan.
Karena itu, dia berharap Muktamar ke-35 NU bukan hanya menjadi forum memilih pemimpin baru, melainkan juga momentum memperkuat kembali posisi NU sebagai kekuatan pemikiran yang mampu memberikan arah bagi kehidupan kebangsaan Indonesia.
Sebagai informasi, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang.
Agenda besar nahdliyin ini bakal dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Jika resmi maju, Nasaruddin Umar diprediksi akan menghadapi persaingan ketat dengan sejumlah tokoh kiai dan ulama besar lainnya.
Beberapa nama yang dikabarkan turut meramaikan bursa Caketum PBNU antara lain petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH M. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), dan KH M. Zaim Chasbullah (Gus Zaim).
Selain itu, muncul pula nama ulama terkemuka lainnya seperti KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH M. Nafi' Abdillah (Gus Rozin), serta KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).