TRIBUN-TIMUR.COM - Makassar seperti sedang memperlambat masa di kawasan Jalan Mappaouddang selama dua hari terakhir. Sejak Kamis hingga Jumat (30–31 Juli 2026), arus manusia terus mengalir menuju Yayasan Budi Luhur.
Mereka datang bergelombang, bergantian memasuki ruang VIP lantai 1 Rumah Duka Budi Luhur. Sebagian hanya beberapa menit berada di samping peti jenazah, menangkupkan tangan, menundukkan kepala, lalu beranjak memberi ruang kepada pelayat berikutnya. Namun aliran itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Di luar gedung, halaman rumah duka nyaris tak pernah lengang. Kendaraan memenuhi area parkir hingga meluber ke ruas-ruas jalan di sekitarnya. Jalan Mappaouddang, Jalan Daeng Ngeppe, dan Jalan Baji Dakka berubah menjadi lorong panjang yang dipenuhi karangan bunga. Ucapan belasungkawa berdiri rapat, seolah membentuk pagar penghormatan terakhir.
Menjelang Shalat Jumat, suasana itu bahkan menjadi perbincangan jamaah Masjid di Kompleks Asrama Militer Armed Kostrad, tidak jauh dari rumah duka. Jalan di depan komplkes Armed juga dijejali karangan bunga.
"Belum pernah saya lihat karangan bunga duka sebanyak ini," ujar seorang jamaah sambil memandang deretan papan bunga yang memenuhi sisi jalan.
Kalimat itu sederhana. Namun justru dari kesederhanaannya tergambar sesuatu yang sulit dihitung dengan angka. Bukan sekadar banyaknya papan bunga, melainkan luasnya jejaring pergaulan yang pernah disentuh seseorang selama hidupnya.
Darwanto Tandiawan wafat pada Kamis (30/7/2026) dini hari dalam usia 97 tahun. Ia meninggalkan istri, Marlena Purnama, lima orang anak, 15 cucu, 35 cicit, belasan menantu, dan cucu menantu. Di tengah keluarga besar itulah para pelayat silih berganti datang menyampaikan penghormatan terakhir.
Di ruang VIP, kelima anaknya—Sieske Tandiawan, Ricky Tandiawan, Lucy Tay, Ridwan Tandiawan, dan Rizal Tandiawan—mengenakan pakaian serba putih. Mereka bergantian menyambut tamu, mengantar hingga ke sisi peti jenazah, lalu kembali ke pintu masuk untuk menerima rombongan berikutnya. Ritmenya berlangsung tanpa jeda sejak pagi hingga malam.
Di sela-sela kesibukan itu, ada pemandangan kecil yang nyaris luput dari perhatian. Beberapa kali Rizal Tandiawan membungkuk memungut sampah plastik yang tercecer di halaman rumah duka. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang meminta. Gerakan itu dilakukan begitu saja di tengah ribuan tamu yang datang.
Seorang sahabat keluarga yang juga Pemimpin Umum Tribun Timur memperhatikan pemandangan tersebut. Ia lalu mendekati Rizal.
"Luar biasa. Banyak sekali orang, Pak. Ini artinya, Bapak orang baik yang menggaul dengan semua kalangan," katanya.
Ucapan itu bukan sedang menghitung jumlah pelayat. Yang terbaca justru hubungan-hubungan sosial yang terbangun selama puluhan tahun. Ada relasi bisnis, persahabatan, organisasi, keluarga besar, hingga orang-orang yang mungkin hanya pernah merasakan satu kebaikan kecil dari almarhum, tetapi memilih datang untuk mengucapkan selamat jalan.
Darwanto Tandiawan bukan hanya dikenal sebagai pengusaha senior. Ia juga berasal dari keluarga yang telah lama dikenal dalam dunia usaha Indonesia. Ia merupakan anak kedua dari 12 bersaudara, putra pasangan Tan A Siong dan Phoa A Tjoan. Salah seorang adiknya adalah Hari Darmawan, pendiri Matahari Group.
Jejak keluarga itu kemudian berkembang ke berbagai bidang usaha. Ricky Tandiawan dikenal sebagai pemilik Kumala Group. Rizal Tandiawan menjabat Presiden Komisaris Galesong Group. Ridwan Tandiawan mengembangkan Benteng Baru, sedangkan Sieske Tandiawan berada di Harapan Jaya Group. Namun di ruang duka itu, seluruh identitas korporasi seolah diletakkan di luar pintu. Yang tampak hanyalah anak-anak yang sedang menerima tamu untuk ayah mereka.
Deretan kursi di depan ruang penyemayaman hampir tak pernah kosong. Direksi dan manajemen Galesong Group datang bergantian. Pimpinan perbankan, rekan-rekan usaha, sahabat lama, hingga kolega dari berbagai perusahaan memenuhi ruang tunggu.
"Sejauh ini yang datang dari sejumlah relasi usaha, baik direksi maupun manajemen," ujar Abdul Haris Sulaeman dari Media Corporate Affair Galesong Group.
Rencananya, salah seorang Direktur Indomobil Group, Wilianto Husada, juga akan hadir memberikan penghormatan terakhir.
Namun pelayat yang datang bukan hanya mereka yang memiliki jabatan. Di antara kerumunan itu tampak pula wajah-wajah biasa: tetangga, sahabat lama, mitra kerja, karyawan, dan orang-orang yang mungkin tidak pernah berdiri dalam satu panggung bersama Darwanto, tetapi pernah berbagi ruang kehidupan dengannya.
Sore berganti malam. Malam berganti pagi. Karangan bunga terus berdatangan. Kursi-kursi kembali terisi. Pintu rumah duka terus terbuka menerima pelayat baru.
Kepergian seseorang memang selalu meninggalkan kesedihan bagi keluarga. Namun terkadang, cara sebuah kota mengantar kepergian itu juga menghadirkan cerita lain: tentang hubungan yang dipelihara sepanjang hidup, tentang nama yang tetap diingat lintas generasi, dan tentang penghormatan yang tumbuh tanpa perlu diminta.
Darwanto Tandiawan dijadwalkan dimakamkan di Pekuburan Pannara, Jalan Antang Raya, Makassar, Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 10.00 Wita. Hingga Jumat malam, keluarga masih terus menerima pelayat yang datang silih berganti. Di halaman Rumah Duka Budi Luhur, deretan karangan bunga pun terus bertambah, seakan menjadi penanda bahwa bagi banyak orang, perpisahan ini adalah perpisahan yang sangat pribadi.
Doa Bhikkhu
Tidak jauh dari peti jenazah, sekitar tiga meter di sisi ruangan, beberapa bhikkhu duduk melingkar mengitari sebuah meja bundar. Mereka nyaris tidak bergerak. Sesekali terdengar lantunan doa yang lirih, lalu kembali tenggelam dalam keheningan.
Dari wadah-wadah dupa, asap putih mengepul perlahan, melayang ke langit-langit ruangan sebelum menyebar ke seluruh ruang VIP. Harum dupa memenuhi setiap sudut, menyatu dengan bunga-bunga yang memenuhi ruang duka.
Di meja bundar lain yang berada tidak jauh dari para bhikkhu, beberapa anak dan remaja duduk melingkar. Mereka nyaris tidak banyak berbicara.
Jemari mereka bergerak cepat, menggulung lembar demi lembar kertas, membentuk bulatan-bulatan kecil dengan ukuran hampir seragam.
Setelah selesai, gulungan-gulungan itu dimasukkan ke dalam wadah plastik bening yang telah disiapkan di atas meja.
Sesekali mereka saling bertukar kertas atau merapikan hasil gulungan teman di sebelahnya, lalu kembali bekerja dengan tenang.
Kesibukan kecil itu berlangsung terus di tengah arus pelayat yang keluar masuk ruang VIP, seolah telah menjadi bagian dari irama penghormatan terakhir yang berlangsung sepanjang hari.
Di tengah lalu lalang pelayat yang datang silih berganti, doa-doa itu terus mengalir tanpa putus, memberi suasana hening yang tetap terjaga di tengah ramainya penghormatan terakhir.
Canda Rizal
Di depan ruang VIP, arus tamu tidak berhenti. Begitu selesai memberi penghormatan terakhir di depan peti jenazah, para pelayat diarahkan menuju teras rumah duka. Di sana telah disiapkan hidangan bagi siapa pun yang datang.
"Makan ki dulu," ujar Rizal Tandiawan hampir kepada setiap pelayat yang melangkah keluar dari ruang penyemayaman.
Sebagian mengangguk dan mengikuti arah yang ditunjukkan. Sebagian lain menggeleng pelan sambil tersenyum, memberi isyarat sudah kenyang atau harus segera berpamitan.
"Manna sike'de'," kata Rizal dalam bahasa Makassar kepada mereka yang menolak halus, seolah meminta agar setidaknya mencicipi sedikit hidangan yang telah disediakan.
Ajakan itu berulang berkali-kali sepanjang hari. Tidak terdengar sebagai basa-basi. Ia menjadi bagian dari cara keluarga menerima setiap orang yang datang, sebagaimana tamu diterima di sebuah rumah.
Menjelang Shalat Jumat, suara lantunan pengajian dari masjid di sekitar Jalan Mappaouddang terdengar hingga ke halaman rumah duka.
Di bawah tenda terowongan berwarna merah yang menghubungkan halaman dengan ruang VIP, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf masih duduk bersama sejumlah pelayat lainnya, berbincang pelan sambil menunggu kesempatan berpamitan kepada keluarga.
Saat Andi Utta berdiri dan menghampiri untuk meminta izin pulang, Rizal Tandiawan menyambutnya dengan senyum lebar.
"Ini juga Andi Muchtar Ali Yusuf Tandiawan," ujarnya berkelakar, mengundang tawa orang-orang di sekitarnya.
Sambil menepuk pelan punggung Andi Utta, Rizal melanjutkan, "Beliau ini juga anaknya Bapak."
Andi Utta tersenyum, lalu menjura dengan hormat sebelum melangkah meninggalkan rumah duka.
Darwanto Tandiawan dimakamkan di Pekuburan Pannara, Jalan Antang Raya, Makassar, pukul 10,00 wita, Sabtu (1/8/2026) pagi.(*)