TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dunia seni rupa Tanah Air berduka. Maestro seni lukis kontemporer Indonesia, Nasirun (60), meninggal dunia pada Sabtu (1/8/2026) pukul 05.50 WIB.
Pelukis yang karya-karyanya selalu lekat dengan elemen kebudayaan Jawa tersebut mengembuskan napas terakhir di rumah sakit akibat henti jantung, setelah sebelumnya mengalami sesak napas.
Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum di Bayeman Permai, Jalan Wates, Onggobayan, Ngestiharjo, Bantul, DI Yogyakarta, pada Sabtu (1/8/2026).
Kepergiannya tidak sekadar meninggalkan karya fisik, tetapi juga jejak panjang eksplorasi estetik dan dedikasi yang membentuk wajah seni rupa kontemporer Indonesia di mata dunia.
Kurator seni sekaligus Staf Pengajar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, yang hadir melayat di rumah duka, mengenang Nasirun sebagai sosok pemicu keberanian bagi generasi muda untuk teguh di jalur kesenian.
Stigma bahwa seniman sulit bertahan hidup berhasil dipatahkan oleh kiprah Nasirun.
"Saya mengenal Nasirun sejak kuliah tahun 1993-1994, saat itu Pak Nasirun tugas akhir, hampir selesai. Dari situ, saya mengenal Nasirun sebagai orang yang secara singkat mampu membuat saya percaya diri hidup di dunia kesenian. Pada saat itu, bahkan hingga hari ini, kadang-kadang ada keluarga yang masih belum yakin bahwa anaknya yang di kesenian itu bisa hidup. Nah, Pak Nasirun membuka itu semua karena sejak kuliah beliau sudah aktif sekali berpameran dan karyanya diterima oleh banyak kolektor," tutur Mikke.
Selain produktif, Nasirun dikenal sangat membumi. Ia adalah seniman yang jarang menolak ajakan pameran dari siapa pun, menjadikannya sosok yang populer dan dekat dengan berbagai kalangan.
Baca juga: Maestro Seni Lukis Indonesia Nasirun Meninggal Dunia Akibat Henti Jantung
Bahkan, karya-karya koleksinya yang tersimpan di museum kerap dipersilakan untuk dipinjam dan dipamerkan oleh rekan-rekannya, selama proses administrasinya berjalan baik.
Keterlibatan Nasirun dalam merespons dinamika sosial terekam kuat saat masa pandemi Covid-19, ketika ia berkolaborasi dengan budayawan Sujiwo Tejo.
"Salah satu yang menarik itu ketika kolaborasi antara Nasirun dan Sujiwo Tejo, pameran performans daring 24 jam saat pandemi Covid. Di situ banyak sekali hal-hal yang menarik untuk kita sadari sebagai bagian dari kebutuhan publik, bukan hanya sebagai seniman, tetapi bagaimana seniman itu mampu mengambil hikmah-hikmah kehidupan untuk masyarakat secara luas," papar Mikke.
Di kancah global, warisan terbesar Nasirun adalah kemampuannya menancapkan tonggak penting melalui genre yang memadukan akar tradisi lokal dengan napas kontemporer.
Nasirun secara konsisten mengangkat metafora wayang, mitologi, hingga spiritualitas Islam Jawa, lalu mengorelasikannya dengan situasi sosial politik kiwari, seperti pada lukisan-lukisannya tentang sosok Petruk.
"Pak Nasirun ini kan salah satu bentuk berkesenian yang kita sadari sebagai pola yang Indonesia banget di ranah global, bahkan ASEAN atau Asia. Beliau mampu memberikan satu dimensi atau perspektif baru dalam perkembangan skena seni kontemporer. Yang paling utama adalah bagaimana Pak Nasirun mampu membuat satu pola, satu genre karya yang mengelaborasi tradisionalisme itu ke dalam ranah global. Nah, dia kita sebut sebagai post-traditionalist," jelas Mikke.
Gagasan liar dan melimpah sang maestro ditopang oleh etos kerja yang sangat disiplin dan ketidakpuasan pada satu medium saja.
Nasirun melukis di atas kanvas, kayu, gerabah, membuat instalasi, video, hingga merespons medium tak lazim seperti mobil dan rumah.
"Pak Nasirun itu kan tipe yang haus akan eksplorasi teknik. Terbukti mediumnya sangat bervariasi. Bahkan bentangan kanvasnya tidak cuma tiga kali tiga (meter), tapi kadang sepuluh meter atau lebih. Ini menandai bahwa tenaga Pak Nasirun itu berlimpah. Setiap hari dia melakukan kerja kreatif selayaknya seorang karyawan sebuah perusahaan, sehingga dia punya pola yang konstan. Ini salah satu bentuk cara berkesenian yang berkesinambungan yang membuat kita bisa memberikan satu penilaian bahwa Pak Nasirun itu tidak pernah kehabisan ide dan teknik," ungkap Mikke.
Kerap disandingkan dengan maestro pelukis almarhum Joko Pekik, Nasirun nyatanya memiliki jalur dan metodologi estetikanya sendiri.
Keduanya beririsan kuat dalam tema realitas Jawa, namun berbeda tajam dalam eksekusi visual.
Joko Pekik fokus pada objek manusia Jawa dengan pendekatan realis, sementara Nasirun hadir murni layaknya seorang pencerita di atas kanvas raksasa.
"Pak Nasirun itu objeknya lebih bervariasi dan dia seperti menggambar wayang pada kanvas besar. Jadi dia tidak satu objek yang utuh begitu saja seperti Pak Joko Pekik, tapi ibaratnya seperti layar wayang yang di situ bisa berupa pertempuran atau cerita-cerita. Lebih kurang Nasirun itu seperti dalang seni visual dalam bentuk yang dekat dengan wayang beber. Tekniknya mengeksplorasi dekorativisme sehingga kesan volume tidak ada, sedangkan Pak Joko Pekik realis sehingga ada volume wajah dan tubuh. Itu perbedaan esensinya di situ," pungkas Mikke. (*)