TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 505 kejadian gempa bumi terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) selama Juli 2026. Dari ratusan kejadian tersebut, empat gempa dilaporkan dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Data tersebut disampaikan BMKG dalam Informasi Geofisika Wilayah Nusa Tenggara Barat Bulan Juli 2026 yang dirilis pada Jumat (1/8/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, aktivitas kegempaan di NTB selama Juli masih didominasi oleh sejumlah sumber gempa aktif, yakni zona subduksi Lempeng Indo-Australia, sesar aktif di daratan Pulau Lombok, Sesar Naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust), serta sesar aktif di sekitar Gunung Tambora.
Meski jumlah kejadian tergolong tinggi, sebagian besar gempa yang terjadi berkekuatan kecil sehingga tidak dirasakan masyarakat. Sepanjang Juli 2026, BMKG mencatat hanya empat kejadian gempa yang dirasakan.
Selain aktivitas gempa bumi, BMKG juga merilis informasi terkait aktivitas petir di wilayah NTB. Selama Juli 2026, tercatat 108 kejadian sambaran petir, dengan Kabupaten Sumbawa menjadi wilayah dengan jumlah sambaran terbanyak, yakni seluruh 108 kejadian yang terdeteksi pada periode tersebut.
Baca juga: BMKG Catat 176 Gempa Bumi dan 21 Sambaran Petir di NTB dalam Sepekan
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan saat musim kemarau, untuk tetap mewaspadai potensi sambaran petir ketika terjadi pertumbuhan awan konvektif, meskipun frekuensinya tidak merata di seluruh wilayah NTB.
Sementara itu, hasil pemantauan kemagnetan bumi menunjukkan nilai Indeks K maksimum mencapai 5 dan Indeks A maksimum sebesar 23,625 selama Juli 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya gangguan medan magnet bumi, namun belum mencapai kategori badai magnet sehingga tidak menimbulkan dampak signifikan.
(*)