TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akhirnya angkat bicara mengenai kontroversi rencana Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang ingin menjual sebagian saham perusahaan baru yang akan mengelola operasional Piala Dunia.
Namun, alih-alih memberikan dukungan atau kritik, Trump memilih menjaga jarak dari polemik tersebut.
"Tidak, saya tidak pernah berbicara dengannya (Gianni Infantino)," kata Trump kepada wartawan saat rapat kabinet di Camp David, Jumat waktu setempat, dikutip dari Sportbible.
Pernyataan itu muncul di tengah gelombang penolakan terhadap rencana Infantino membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), perusahaan baru yang diproyeksikan mengelola berbagai kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia.
Infantino berencana menjual 20 persen saham FFE kepada investor swasta. Thrive Capital, perusahaan investasi asal Amerika Serikat yang didirikan Joshua Kushner (saudara ipar keluarga Trump) yang disebut menjadi investor utama dalam proyek tersebut.
Untuk mendapatkan dukungan, FIFA bahkan menawarkan pembayaran sebesar 30 juta poundsterling kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota yang menyetujui proposal tersebut sebelum 19 September.
Namun, langkah tersebut justru memicu penolakan besar-besaran.
UEFA menjadi pihak pertama yang mengecam keras proposal tersebut. Seluruh 55 anggota UEFA bahkan dikabarkan siap memboikot Piala Dunia apabila rencana itu tetap dijalankan.
Penolakan kemudian meluas setelah konfederasi lain seperti CONCACAF dan AFC ikut menyuarakan keberatan, sehingga jumlah asosiasi yang menolak disebut telah melampaui 100 anggota.
Tak hanya dari luar organisasi, penolakan juga datang dari internal FIFA.
Penasihat utama Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mengundurkan diri dari jabatannya setelah secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan terhadap proyek tersebut.
Sementara itu, Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, juga melontarkan kritik keras.
Menurut Lamour, banyak staf FIFA merasa "ditipu" oleh usulan tersebut.
"Kalaupun itu membuat saya kehilangan pekerjaan, biarlah. Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak pada malam hari," ujar Lamour.
Baca juga: Sosok Joshua Kushner, Investor yang Berada di Balik Rencana Kontroversial FIFA
Infantino Pilih Batalkan FFE
Banyaknya penolakan tersebut akhirnya membuat Gianni Infantino resmi membatalkan FIFA Forward Enterprise (FFE) yang diproyeksikan mengelola ajang Piala Dunia.
Lewat story instagram pribadinya, Infantino mengatakan tidak ingin melanjutkan rencana proyeknya tersebut.
"Proyek FIFA Forward Enterprise dimaksudkan untuk memberi landasan bagi penguatan lanjutan Asosiasi Anggota FIFA dan olahraga kita di seluruh dunia, terutama di negara yang paling membutuhkan dukungan," bunyi pernyataan resmi yang dirilis Infantino.
"Terlebih lagi seperti yang kami katakan sejak awal, rencana ini akan dilakukan jika mayoritas anggota FIFA mendukung, dan kami juga terus berkonsultasi dengan mereka entah Dewan FFIA, konfederasi dan pemangku kepentingan yang lebih luas,"
"Setelah mendengarkan dengan seksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan, terlepas dari tingkat dukungannya, rencana ini tidak lagi sesuai dengan tujuan yang kami tetapkan sejak awal,"
"Karena tujuan kami selalu demi persatuan dan peningkatan diri, oleh karenanya proposal ini tidak akan dilanjutkan," tambahnya.
Hubungan Trump dan Infantino Kembali Jadi Sorotan
Sikap hati-hati Trump menarik perhatian karena keduanya dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat menjelang Piala Dunia 2026.
Pada acara pengundian Piala Dunia Desember lalu, Infantino bahkan memberikan FIFA Peace Award perdana kepada Trump, penghargaan yang dibuat FIFA untuk menghormati individu yang dinilai berjasa dalam mempromosikan perdamaian dunia.
Keputusan tersebut sempat menuai kontroversi, terutama setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran hanya beberapa bulan kemudian.
Hubungan keduanya juga pernah menjadi sorotan ketika Trump mengaku menghubungi Infantino terkait kemungkinan banding kartu merah yang diterima Florian Balogun agar sang pemain dapat tampil pada babak 16 besar Piala Dunia.
Belum lama ini, laporan lain juga menyebut Trump bahkan ingin mengusulkan nama Infantino sebagai calon Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dengan kedekatan tersebut, keputusan Trump untuk tidak memberikan komentar terkait rencana kontroversial Infantino dinilai tidak mengejutkan, meski polemik di tubuh FIFA terus memanas.
(Tribunnews.com/Ali)