Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Rangka atap yang hangus menghitam masih menjulang di atas deretan rumah Asrama Polisi (Aspol) Panularan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah pada Sabtu (1/8/2026).
Hampir seluruh genteng runtuh, menyisakan kerangka kayu yang gosong dan terbuka, sementara garis pembatas masih membentang mengelilingi lokasi kebakaran.
Sehari setelah api melalap 12 unit rumah, sekitar 30 korban masih harus mengungsi di Loji Gandrung dan rumah kerabat sambil menunggu kejelasan nasib tempat tinggal mereka.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kerusakan paling parah terlihat pada bagian atap bangunan yang nyaris habis terbakar.
Sebagian besar rangka kayu tampak rapuh dan menghitam, sedangkan beberapa sisi rumah hanya menyisakan dinding bagian depan. Teras rumah masih berdiri, tetapi bagian dalam bangunan terlihat terbuka setelah atap ambruk dilalap api.
Suasana di kawasan Aspol Panularan tampak lengang.
Garis pembatas masih dipasang mengelilingi area terdampak, sementara sejumlah pot tanaman dan beberapa barang milik penghuni masih berada di depan rumah yang kini tak lagi layak dihuni.
Ketua RT 6 RW 7 Panularan, Laweyan, Hendro Kushendratmo, mengatakan hingga kini belum ada kepastian kapan rumah-rumah yang terbakar dapat dibangun kembali.
"Ya nanti belum tahu. Koordinasi terkait dengan pihak-pihak terkait semoga ada solusi. Kita nggak bisa memastikan," jelasnya saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (1/8/2026).
Seperti diketahui, sebanyak 12 unit rumah di Aspol Panularan ludes terbakar pada Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Seragam Hingga Buku Ludes, Pengungsi Korban Kebakaran Aspol Panularan Butuh Bantuan Alat Sekolah
Kebakaran diduga dipicu obat nyamuk yang mengenai kasur hingga api membesar dan merembet ke rumah-rumah lainnya.
Pasca musibah tersebut, Pemerintah Kota Solo memfasilitasi para korban untuk mengungsi di Guest House Loji Gandrung.
"Sekarang korban musibah kebakaran Asrama Panularan di Loji Gandrung. Sama Pak Wali diarahkan ke sana. Ada di rumah saudaranya Gentan," terang Hendro.
Menurut Hendro, seluruh kebutuhan dasar para pengungsi telah dipenuhi oleh pemerintah, mulai dari makanan, pakaian hingga selimut.
"Alhamdulillah sudah terbantu dari pihak terkait. Dampak 10 KK kurang lebih 30-an. Sebagian di Loji, sebagian di tempat saudara," jelasnya.
Bantuan juga terus berdatangan dari berbagai instansi, di antaranya Polresta Solo, Bhayangkari Solo, BPBD, Dinas Sosial, hingga Tagana yang menyalurkan kebutuhan logistik bagi para korban.
"Logistik dari Polres ada, Bhayangkari memberikan bantuan. BPBD, Dinas Sosial, Tagana banyak membantu," terangnya.
Hendro menambahkan, kondisi para pengungsi saat ini relatif baik. Sempat ada korban yang mengalami sesak napas akibat syok setelah kebakaran, namun kini kondisinya telah membaik. "Sementara itu tidak. Ada sesak napas shock, sekarang sudah membaik," tuturnya. (*)