Tubuh Langsing Bukan Jaminan Bebas Kolesterol, Ini Penjelasan Dokter
Abd Rahman August 01, 2026 04:47 PM

 

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Banyak orang menganggap tubuh langsing identik dengan kondisi yang sehat dan bebas dari kolesterol tinggi.

Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengatakan orang bertubuh kurus tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi hingga penyakit jantung.

Bahkan, kondisi itu kerap tidak disadari karena gejalanya cenderung tidak muncul pada tahap awal.

"Berdasarkan riset di Eropa, orang kurus juga bisa mengalami kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Bedanya, mereka sering kali tidak memiliki tanda-tanda peringatan sebelum muncul keluhan atau serangan jantung," ujar dr. Susetyo dalam sesi edukasi media di Jakarta.

Menurutnya, orang dengan berat badan normal atau cenderung kurus memiliki beban tubuh yang lebih ringan sehingga tetap mampu beraktivitas tanpa banyak keluhan.

Akibatnya, penyumbatan pembuluh darah jantung sering kali tidak terdeteksi hingga kondisinya sudah cukup serius.

ILUSTRASI - Obat herbal kolestrol dan asam urat
ILUSTRASI - Obat herbal kolestrol dan asam urat (canva ai)

Sebaliknya, pada orang yang mengalami obesitas, gejala seperti mudah lelah, sesak napas, atau nyeri dada saat beraktivitas biasanya muncul lebih cepat sehingga menjadi sinyal untuk memeriksakan diri.

Dr. Susetyo menegaskan, tubuh langsing bukan berarti terbebas dari dislipidemia atau kadar kolesterol yang tidak normal.

Salah satu penyebabnya adalah penumpukan lemak visceral, yakni lemak yang berada di rongga perut dan mengelilingi organ-organ vital seperti hati, pankreas, serta usus.

"Lemak visceral dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan kadar kolesterol LDL maupun trigliserida," katanya.

Karena itu, pemeriksaan darah secara berkala menjadi cara paling akurat untuk mengetahui kadar kolesterol jahat atau LDL-C. Menurut dr. Susetyo, banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya tinggi setelah menjalani pemeriksaan laboratorium.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kadar LDL-C, terutama pada pasien dengan risiko penyakit kardiovaskular yang tinggi.

Mengacu pada panduan medis terbaru, kelompok ini dianjurkan menurunkan kadar kolesterol jahat serendah mungkin untuk mengurangi risiko serangan jantung, stroke, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular.

"Semakin rendah kadar LDL-C yang berhasil dicapai, semakin kecil pula risiko terjadinya serangan jantung, stroke, maupun komplikasi penyakit kardiovaskular lainnya," jelasnya.

Untuk mencapai target tersebut, terapi tunggal tidak selalu cukup.

Saat ini, pendekatan yang banyak digunakan adalah terapi kombinasi, yakni penggunaan statin untuk menghambat produksi kolesterol di hati yang dipadukan dengan ezetimibe guna mengurangi penyerapan kolesterol di usus.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.