TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang menemukan fenomena unik saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Seorang pengusaha tebu di Kecamatan Jatiroto diketahui juga bekerja sebagai pegawai di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Temuan tersebut diperoleh ketika capaian pendataan sensus ekonomi di Kabupaten Lumajang telah mencapai 72,38 persen hingga Sabtu (1/8/2026).
Kepala BPS Kabupaten Lumajang, Sonhaji, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku usaha memiliki lebih dari satu sumber pendapatan. Menurutnya, pengusaha tebu tersebut memanfaatkan waktu luang di luar musim panen dengan bekerja di SPPG.
"Jadi ada pengusaha tebu, tapi dia juga pegawai MBG jadi dia juga jadi buruh juga," ujar Sonhaji, Sabtu (1/8/2026).
Ia menjelaskan, pekerjaan di SPPG dilakukan sembari menunggu masa panen tebu sehingga waktu yang tersedia tetap produktif.
Baca juga: Profil AKBP Riki Yariandi, Kapolres Lumajang Baru Pengganti AKBP Alex Sandy Siregar
"Menarik ya, jadi menunggu itu bekerja daripada dia menganggur, dia bekerja di SPPG," katanya.
Dalam pendataan sensus ekonomi, BPS mencatat seluruh aktivitas ekonomi responden. Pendapatan sebagai pekerja di SPPG dihitung terpisah dari hasil usaha perkebunan tebunya.
"Jadi dia sebutkan pendapatannya setiap minggu selama bekerja di SPPG. Tapi pendapatan dari tebu jauh lebih banyak, jadi kami data lahannya berapa hektare, berapa banyak tebu yang dihasilkan, pupuknya berapa dan buruh yang dikerjakan berapa," jelas Sonhaji.
Sonhaji mengatakan sektor perkebunan menjadi salah satu fokus utama Sensus Ekonomi di Lumajang. Pendataan dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk jumlah petani dan pelaku usaha di sektor pertanian.
Baca juga: Kisah Anak Petani Lumajang Kuliah Gratis Berkat Beasiswa Tahfidz, Kini Hampir Lulus S1
"Harus tampak betul dalam sensus ekonomi, berapa petani kita, petani atau pengusaha padi dan berapa jumlah pengusaha tebu. Ini jadi konsen kami," ujarnya.
Selain sektor perkebunan, BPS juga memetakan potensi ekonomi lain yang menjadi ciri khas Kabupaten Lumajang, termasuk usaha pertambangan pasir di wilayah Pasirian dan Candipuro.
Tak hanya itu, pendataan juga mencakup komoditas kehutanan dan hortikultura seperti kelapa, durian, alpukat, hingga pisang Kirana untuk memperoleh potret ekonomi daerah yang lebih komprehensif.
"Terus juga kayunya, termasuk hortikultura juga harus tampak. Kami harus tahu berapa jumlah petani kelapa, petani durian, alpukat serta pisang Kirana," imbuh Sonhaji.