Salman Al Jugjawy: Vespa Klasik Mengajarkan Kesabaran dan Keseimbangan
Joko Widiyarso August 01, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah menjamurnya motor modern yang menawarkan teknologi serba praktis, pendakwah sekaligus musisi asal Yogyakarta, Salman Al Jugjawy, justru menemukan kenyamanan di balik kesederhanaan sebuah Vespa klasik.

Baginya, skuter lawas asal Italia itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga teman perjalanan yang mengajarkan kesabaran, keseimbangan hidup, hingga arti persaudaraan.

Kecintaan Salman terhadap Vespa bermula dari seorang sahabat yang lebih dulu menggemari skuter klasik. Dari pertemuan itu, ia mulai mencoba mengendarai Vespa dan perlahan jatuh hati.

"Vespa klasik itu ternyata banyak berkaitan dengan filosofi hidup saya," ujarnya.

Perjalanan koleksinya dimulai dari Vespa Super 1966. Setelah itu ia sempat memiliki Vespa PX, Sprint, hingga Bagol. Kini, Salman kembali menggunakan Vespa Super keluaran 1977 yang menjadi teman berkendara sehari hari.

Vespa Super merupakan salah satu model klasik yang cukup populer pada era 1960 hingga 1970-an. Skuter ini mengandalkan mesin dua langkah berkapasitas sekitar 150 CC dengan transmisi manual empat percepatan yang dioperasikan melalui tuas di setang kiri, sebuah ciri khas Vespa klasik. 

Selain itu, konstruksi bodi monokok berbahan baja membuat tampilannya tetap ikonik hingga sekarang, lengkap dengan posisi mesin yang berada di sisi kanan belakang.

Bagi Salman, daya tarik Vespa bukan terletak pada tampilannya yang sempurna, melainkan karakter yang terbentuk seiring usia.

Ia memilih mempertahankan konsep ori look pada motornya. Dalam dunia Vespa klasik, istilah tersebut merujuk pada motor yang tetap mempertahankan karakter asli pabrikan tanpa ubahan berlebihan, termasuk membiarkan jejak pemakaian tetap terlihat sebagai bagian dari sejarah kendaraan.

"Kalau saya lebih suka ori look yang dipakai. Namanya kehidupan kan begitu. Kadang ada goresan, kadang masih mulus. Menurut saya itu natural," katanya.

Vespa Super 1977 miliknya memang tidak lagi tampil mulus. Cat dan bodinya telah memperlihatkan bekas pemakaian selama puluhan tahun. Namun, menurut Salman, justru di situlah letak pesonanya.

"Memang sudah bocel-bocel, tapi alhamdulillah tarikan mesinnya masih bagus. Saya suka tampilannya dan saya suka larinya," ujarnya.

Selain Vespa Super yang digunakan sehari hari, Salman juga pernah memiliki Vespa Super Sprint 1969 bergaya ori look. Model tersebut dikenal sebagai salah satu Vespa klasik yang banyak diburu kolektor karena populasinya tidak sebanyak seri lainnya.

Pelajaran hidup dari skuter 

Di balik kecintaannya terhadap Vespa, Salman menemukan banyak pelajaran hidup dari karakter skuter bermesin dua langkah tersebut.

Salah satunya ketika mesin tidak langsung menyala saat kick starter diinjak.

"Kalau diselah sekali enggak hidup, jangan putus asa. Coba lagi, bismillah, selah lagi. Saya belajar bahwa kita jangan pernah putus asa untuk terus mencoba perkara yang baik," katanya.

Pelajaran lain datang dari karakter mesin dua langkah yang membutuhkan campuran bensin dan oli samping. Berbeda dengan motor empat langkah yang memiliki sistem pelumasan terpisah, mesin dua langkah membutuhkan takaran oli yang tepat agar pelumasan tetap optimal dan performa mesin terjaga.

Bagi Salman, keseimbangan itu mengingatkannya pada kehidupan.

"Bensin itu ibarat iman, oli samping itu amal saleh. Harus seimbang supaya jalannya terus maju dengan lancar," ujarnya.

Sebagai seorang pendakwah yang juga berkegiatan di dunia kreatif, Salman mengaku sering menjadikan perjalanan menggunakan Vespa sebagai ruang mencari inspirasi. Baginya, ide tidak selalu datang ketika berada di rumah.

"Kadang memang keluar naik Vespa karena lagi memikirkan sesuatu. Alhamdulillah, setelah keluar sering muncul ide ide baru," katanya.

Menurutnya, pengalaman tersebut tidak jauh berbeda dengan seorang petani yang harus turun ke sawah atau wartawan yang turun ke lapangan untuk menemukan cerita. Keluar dari rutinitas membuat pikiran lebih terbuka terhadap berbagai pengalaman baru.

Persaudaraan pengguna Vespa

Hal lain yang membuatnya terus menikmati Vespa klasik adalah budaya persaudaraan yang sudah lama tumbuh di kalangan para penggunanya.

Ia mengaku beberapa kali merasakan bagaimana sesama pengguna Vespa tanpa ragu berhenti membantu ketika ada motor yang mogok di jalan.

"Kalau pakai Vespa klasik lalu motornya susah hidup atau macet, tiba tiba ada yang datang membantu. Menurut saya itu bagus sekali karena membuat orang saling tolong menolong dalam perkara yang baik," ujarnya.

Pengalaman serupa kembali ia rasakan saat menghadiri Jogja Scooter Parade. Menurut Salman, ajang tersebut bukan hanya tempat memamerkan Vespa, tetapi juga ruang silaturahmi bagi para pecinta skuter klasik dari berbagai daerah bahkan mancanegara.

"Saya bertemu teman dari Palembang, Malaysia, Jakarta, sampai Jogja sendiri. Vibes-nya bagus. Orang datang bukan hanya melihat motor, tetapi juga bersilaturahmi. Insya Allah banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa diambil," katanya.

Meski memiliki beberapa Vespa klasik, Salman mengaku tidak menganggapnya sebagai benda yang harus dimiliki selamanya. Baginya, motor tetaplah kendaraan yang seharusnya dipakai dan dinikmati, bukan sekadar disimpan sebagai koleksi.

"Ini kendaraan yang saya pakai dan saya senangi. Tapi kalau ada yang mau beli seratus miliar, ya saya jual," ujarnya sambil tertawa.

Bagi Salman Al Jugjawy, Vespa klasik pada akhirnya bukan hanya soal suara khas mesin dua langkah atau desain lawas yang tak lekang zaman. Lebih dari itu, setiap perjalanan selalu mengingatkannya bahwa hidup membutuhkan kesabaran, keseimbangan, dan kesediaan untuk terus berjalan bersama orang lain. (nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.