TRIBUN-TIMUR.COM - “Tuhan yang menginginkan saya begini.” Prof Masrurah Mochtar mengucapkannya pelan di ruang VIP Auditorium Al Jibra Kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumoharjo Km 5, Makassar, Sabtu siang, 1 Agustus 2026.
Sejurus kemudian, mantan Rektor UMI itu menegaskannya dalam bahasa Bugis. “Elo'na Puang Allah Ta'alah.”
Kalimat itu bukan jawaban atas persoalan jabatan, karier akademik, atau perjalanan hidupnya sebagai guru besar.
Ketua Yayasan Wakaf UMI itu sedang menjelaskan sebuah kebiasaan yang nyaris sulit dipercaya: selama 48 tahun terakhir ia tidak pernah minum air putih. Yang diminumnya hanya teh.
Bukan teh khusus. Bukan pula teh dengan campuran apa pun. Hanya teh manis. Dalam bahasa Bugis dikenal sebagai “teh cenning”, sementara masyarakat Makassar menyebutnya “teh te'neh”.
Hitungan 48 tahun itu bukan perkiraan. Prof Masrurah mengingatnya persis karena bertepatan dengan usia putrinya, Yuliana.
Saat mengandung itulah semuanya bermula. Ia mengaku ngidam minum teh, sementara air putih justru tidak bisa lagi diminumnya.
Kebiasaan yang semula diperkirakan hanya berlangsung selama masa kehamilan ternyata terus berlanjut hingga kini.
Prof Masrurah mengucapkan “Elo’na puang Allah Taalah” sembari berusaha memutar penutup tupperware.
Berkali-kali dia menjepit aluminium bundar dengan telunjuk, jari manis, jari tengah, ibu jari. Tangan terputar. Tapi penutup tumbler tak bergeming.
Pemimpin Redaksi Tribun Timur Thamzil Thahir merunduk ke kanan, “Tabe, Prof!” Dia meraih tumbler dari tangan Prof Masrurah.
Sekali putar. Penutup tumbler melonggar. Thamzil Thahir meletakkannya di permukaan meja.
Prof Masrurah meraihnya. Lalu minum. Minum teh manis.
“Jadi saya selalu bawa ini. Isinya teh,” kata Prof Masrurah Mokhtar.
“Ini juga!” Katanya sambil mengangkat teko teh keramik di meja. Warna putih.
“Jadi sudah 48 tahun,” ujarnya.
Prof Dr Mansyur Ramli di samping kanannya menyahut. “Iya, sudah lama,” katanya.
Prof Mansyur juga pernah Rektor UMI dan pernah Ketua Yayasan UMI.
Prof Masrurah menyebut “Elo Puang!” Karena dia mulai kebiasaan itu dari ngidam.
Hebatnya, kesehatan tidak pernah protes. Cek kesehatan normal.
Prof Masrurah duduk di sofa kulit berwarna coklat mengenakan jas almamater hijau Universitas Muslim Indonesia dan kerudung putih bermotif polkadot hitam. Tangan kanannya menggenggam sebuah tumbler hijau.
Di tangan orang yang duduk di sebelah kanannya tampak penutup tumbler yang baru saja dilepas..
Di atas meja, suasana makan siang masih terasa. Mangkuk, piring yang belum sempat dibereskan, sendok, teko keramik putih, dan beberapa botol air mineral tersusun di antara hidangan yang tersisa.
Botol-botol air itu menjadi kontras yang menarik. Air putih tersedia dalam jumlah cukup, tetapi Prof Masrurah memilih meneguk teh yang dibawanya sendiri. Teh manis.
Para pimpinan dan tokoh UMI tampak duduk santai mengelilingi meja. Sebagian masih menikmati makan siang, sebagian mendengarkan percakapan.
Tidak ada kesan acara formal. Justru dalam suasana yang cair itulah kisah tentang 48 tahun tanpa minum air putih mengalir begitu saja.(*)