Eko Nugroho: Internet Memberi Inspirasi, Tangan Manusia yang Melahirkan Karya
Joko Widiyarso August 01, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), banyak orang mulai mempertanyakan masa depan profesi kreatif.

Muncul kekhawatiran bahwa mesin suatu saat mampu menggantikan seniman, ilustrator, hingga desainer. Namun, bagi seniman kontemporer asal Yogyakarta, Eko Nugroho, teknologi bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

Baginya, AI hanyalah satu babak dalam perjalanan panjang peradaban manusia. Sebagaimana berbagai teknologi yang pernah hadir sebelumnya, AI akan terus berkembang. Namun, manusia tetap memiliki sesuatu yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya, yakni pengalaman, intuisi, rasa, serta kemampuan berpikir.

"Buat saya teknologi itu bagian dari perkembangan peradaban manusia. Kita akan melalui ini, mengalami ini, dan nanti pasti akan ada teknologi lain lagi. Tetapi manusia akan tetap manusia. Otak kita, tangan, tubuh, dan segalanya akan kembali kepada kita," ujarnya.

Karena itulah Eko tidak pernah memosisikan teknologi sebagai lawan. Sebaliknya, ia memilih menikmatinya sebagai bagian dari kehidupan yang dapat membuka kemungkinan baru.

"Teknologi itu bukan musuh. Menurut saya itu rasa syukur yang harus bisa dinikmati," katanya.

Pandangan tersebut bukan sekadar pendapat, melainkan juga tercermin dalam praktik berkaryanya selama bertahun tahun. Di tengah kemajuan teknologi digital, Eko tetap setia pada proses manual. Lukisan, drawing, bordir, hingga karya berbahan daur ulang masih menjadi medium utama yang ia gunakan untuk menerjemahkan gagasan.

Baginya, teknologi hanya berfungsi sebagai pemantik inspirasi. Sementara karya lahir dari sesuatu yang jauh lebih personal.

"Yang dekat dengan saya adalah apa yang saya rasakan, kesalahan tangan saya saat menggambar, pikiran yang tiba tiba berubah ketika merespons sebuah ide. Kita selalu kembali kepada apa yang kita bisa," ujarnya.

Di sisi lain, Eko tidak menampik bahwa internet telah mengubah cara dirinya bekerja. Bahkan, ia mengaku kini lebih sering mendapatkan inspirasi dari informasi yang muncul di layar telepon genggam dibanding media cetak yang dahulu rutin dibacanya.

Ia mengatakan berbagai peristiwa yang tersebar melalui internet kerap memunculkan gagasan baru yang kemudian berkembang menjadi karya visual.

"Saya sudah tidak berlangganan koran lagi. Sekarang semuanya lebih mudah di-scroll. Informasi di HP justru banyak memberi inspirasi dan saya bisa langsung meresponsnya," katanya.

Internet buka akses informasi 

Menurut Eko, AI maupun internet telah membuka akses informasi yang jauh lebih luas. Berbagai isu global yang sebelumnya sulit dijangkau kini dapat dipelajari dengan cepat. Meski demikian, ia menilai teknologi hanya membantu memperkaya wawasan, bukan menggantikan proses kreatif manusia.

"Internet dan AI membuka wawasan saya. Saya tidak antipati terhadap teknologi, justru ingin mempelajarinya. Tetapi output karya saya tetap kembali pada tangan, rasa, dan otak," ujarnya.

Cara pandang tersebut kemudian diterjemahkan dalam karya terbarunya yang dipamerkan pada Broken White Project #32 bertajuk 'No Longer Human' di Ace House, Langgeng Art Space, Yogyakarta.

Dalam pameran yang berlangsung hingga 4 September 2026 itu, Eko mengangkat ironi kehidupan manusia di era digital. Internet membuat masyarakat dapat menyaksikan perang, bencana, hingga berbagai tragedi kemanusiaan hanya melalui layar gawai. Namun di saat yang sama, kedekatan informasi justru sering diikuti jarak emosional.

"Kita bisa melihat keruntuhan, kehancuran, kematian, atau kesusahan dengan santai dari layar. Kita memberi komentar, memberi tanda suka, merasa simpati, tetapi karya ini juga mengkritik saya sendiri dan kita semua," katanya.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi mampu memperluas akses informasi, tetapi belum tentu memperbesar empati manusia.

Meski banyak merespons isu digital, Eko tetap memilih menyampaikan gagasannya melalui medium yang sangat manual. Baginya, sentuhan tangan masih menyimpan nilai yang tidak bisa digantikan mesin.

"Basic saya tetap manual. Apa pun yang terjadi, saya ingin menggerakkan intuisi dengan karakter manual. Saya lebih memilih menggerakkan seni rupa saya dengan bahasa yang human," ujarnya.

Seni jadi ruang dialog

Bagi Eko, seni juga tidak pernah hadir untuk menghakimi atau memaksakan satu sudut pandang kepada publik. Ia justru ingin karya menjadi ruang dialog yang terbuka bagi siapa saja.

"Dampak seni itu jangka panjang. Saya tidak ingin menggurui. Saya ingin membangun dialog lewat karya," katanya.

Ia menjelaskan penikmat seni tidak harus langsung memahami pesan yang ingin disampaikan. Menurutnya, proses menikmati karya dimulai dari pengalaman visual, kemudian berkembang ketika seseorang membaca judul, mencari informasi, hingga akhirnya menemukan tafsirnya sendiri.

"Orang menikmati visualnya dulu. Kalau ingin lebih memahami, mereka akan membaca judulnya. Kalau masih penasaran, mereka akan mencari tahu. Di situlah dialog itu terjadi," ujarnya.

Eko percaya seni akan kehilangan daya hidupnya apabila hanya menawarkan satu jawaban. Sebaliknya, semakin banyak kemungkinan tafsir yang muncul, semakin terbuka pula ruang diskusi antara seniman dan publik.

"Saya mengembalikan perkembangan itu kepada publik. Berkesenian harus cair, menyenangkan, dan memberi ruang perspektif yang luas," katanya.

Di tengah derasnya perkembangan AI dan teknologi digital, Eko memilih tidak terjebak pada perdebatan apakah manusia akan dikalahkan mesin. Ia justru melihat teknologi sebagai alat yang memperluas kemungkinan, sementara manusia tetap menjadi pusat dari setiap proses kreatif.

Baginya, selama manusia masih memiliki tangan untuk berkarya, rasa untuk merasakan, dan otak untuk berpikir, teknologi akan tetap menjadi alat. Sedangkan makna dari sebuah karya akan selalu lahir dari pengalaman manusia itu sendiri. (nto)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.