TRIBUNPALU.COM - Chief Executive Organizer (CEO) Tribun Network, Dahlan Dahi, menantang civitas akademika Universitas Muslim Indonesia (UMI) berani menentukan identitas dan tujuan besar pada 2030.
Hal tersebut disampaikan Dahlan Dahi dalam kegiatan UMI Executive Strategic Summit 2026 di Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jl Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Sabtu (1/8/2026).
Pada kegiatan itu, Dahlan Dahi hadir menjadi narasumber penting untuk memaparkan perkembangan teknologi saat ini.
Menurut Dahlan, UMI saat ini tidak kekurangan sumber daya untuk berkembang menjadi institusi pendidikan yang lebih besar dan berpengaruh.
Persoalan utamanya justru terletak pada keberanian menentukan siapa UMI dan hendak dibawa ke mana.
Baca juga: Hanya Dua Kampus di Sulsel, UMI Dipercaya Jadi Mitra Pendidikan Anggota Reskrim
“Jika kita memahami siapa kita, kita tahu harus ke mana,” kata Direktur Utama PT Bosowa Media Grafika, perusahaan yang menaungi Tribun Timur itu dalam sambutannya.
Mengidentifikasi identitas, kata dia, merupakan pekerjaan paling sulit dalam membangun sebuah institusi.
Sebab, kata mantan jurnalis Harian Surya Malang ini, kejelasan identitas akan menentukan arah sekaligus target yang harus dicapai.
Dahlan mencontohkan, UMI harus mendefinisikan terlebih dahulu skala yang ingin dicapai.
Apakah ingin menjadi kampus unggulan di Sulawesi Selatan, tingkat Sulawesi, Indonesia, Asean, atau bahkan lebih luas.
Menurutnya, penentuan target tersebut penting agar UMI dapat mengukur jarak antara posisi saat ini dengan tujuan yang ingin dicapai.
“Kalau saya levelnya Sulawesi Selatan, saya tahu gapnya seberapa tinggi. Kalau saya levelnya Indonesia, saya tahu besarnya seberapa tinggi,” ujar Ketua Komisi Digital Dan Sustainability Dewan Pers ini.
Dahlan menilai, UMI memiliki modal yang sangat kuat untuk menentukan target besar tersebut.
Di antaranya ditunjukkan dengan keberadaan 117 profesor yang menjadi bagian dari sumber daya akademik kampus.
“Universitas Muslim Indonesia ada di titik di mana dia punya semua resources yang diperlukan untuk menjadi hebat. 117 profesor," kata Anggota Dewan Pers ini.
"Jadi, dia punya semua yang dibutuhkan. Dia punya kemewahan itu,” katanya mantan jurnalis TV 7 itu.
Karena itu, Dahlan menilai UMI kini hanya perlu menjawab dua pertanyaan mendasar, yakni siapa mereka dan ke mana mereka akan menuju.
“Jadi persoalannya cuma siapa Anda, mau ke mana. Itu saja,” kata Chief Digital Officer (CDO) Kompas Gramedia ini.
Ia pun mendorong UMI untuk tidak terjebak pada terlalu banyak pilihan tujuan.
Menurutnya, kampus harus memilih satu tujuan utama agar seluruh energi dan sumber daya dapat diarahkan secara maksimal.
“Pilihan bagi UMI mungkin ada 100. Menurut saya pilih satu, jangan 99. Karena 99 membuat kita tidak begitu jelas. Kita ini mau ke tengahnya surga atau ke pinggirnya, ini harus clear,” kata lelaki kelahiran Wanci, Wakatobi, Sulawesi Tenggara tahun 1971 ini.
Baca juga: SPS Anugerahi 4 Media Tribun Network Penghargaan Media Brand Award 2026
Dahlan menilai, penetapan identitas dan tujuan tersebut harus segera diterjemahkan dalam target yang konkret dengan batas waktu yang jelas, salah satunya melalui visi menuju 2030.
Selain kekuatan akademik, Dahlan juga menilai UMI memiliki modal penting lainnya, yakni kekompakan dan hubungan yang harmonis di antara para tokoh serta pimpinan kampus.
Mantan Pemimpin Redaksi Tribunnews.com itu menyebut sejumlah figur seperti Prof Mansyur Ramly dan Prof Masrurah yang dinilainya dapat menjadi bagian dari kekuatan UMI.
Menurutnya, tidak semua perguruan tinggi swasta memiliki kondisi internal yang saling menghormati seperti yang dimiliki UMI.
“UMI di titik di mana ada Prof Mansyur Ramly, ada Prof Masrurah, semua akur-akur. Tidak semua universitas swasta akur, saling menghormati,” ujarnya.
Dahlan juga mengapresiasi visi rektor serta keberadaan jajaran wakil rektor dan profesor yang dinilainya memiliki kapasitas untuk membawa UMI menuju level yang lebih tinggi.
Dengan seluruh modal tersebut, ia mengingatkan agar UMI tidak menyia-nyiakan sumber daya dan kondisi positif yang telah dimiliki.
“Pak Rektor dengan visi yang luar biasa tadi, ada Wakil Rektor yang hebat-hebat ini, ada profesor yang bagus-bagus ini. Jangan sia-siakan kenikmatan Tuhan,” pungkasnya.(*)