SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Persaingan antarwilayah di Pulau Sumatra tak hanya terjadi antaribu kota provinsi, melainkan juga antardaerah tingkat kabupaten yang memiliki letak geografis dan potensi sumber daya alam yang melimpah.
Kali ini, Kabupaten Sarolangun di Provinsi Jambi diadu daya saingnya dengan Kabupaten Lahat di Provinsi Sumatera Selatan.
Sarolangun berdiri kokoh dengan luas wilayah mencapai 5.935,89 kilometer persegi yang terbagi dalam 10 kecamatan dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Sarolangun.
Di sisi lain, Lahat daerah yang dikenal luas sebagai "Negeri Seribu Megalit" dan kaya akan potensi tambang serta air terjun memiliki cakupan administratif yang lebih padat, yakni terdiri dari 24 kecamatan dan dihuni oleh sekitar 448.141 jiwa.
Lantas, bagaimana jika performa pembangunan dan iklim investasi kedua daerah ini diukur berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD)?
Berdasarkan penilaian indikator IDSD terbaru, Kabupaten Lahat unggul secara keseluruhan atas Kabupaten Sarolangun.
Lahat membukukan skor agregat sebesar 3,58, sedangkan Sarolangun berada di angka 3,32.
Keunggulan utama Lahat disokong oleh pilar infrastruktur dan stabilitas ekonomi makro yang terbilang sangat solid.
Melimpahnya aktivitas ekonomi berbasis industri dan penataan ruang wilayah membuat aksesibilitas serta daya dukung fisik Lahat dinilai lebih siap.
Dari perbandingan angka-angka tersebut, terdapat sejumlah catatan penting bagi kedua pemerintah daerah:
Infrastruktur Lahat Mentereng: Lahat mencatatkan skor infrastruktur yang cukup menonjol di angka 4,32, berbanding 3,08 milik Sarolangun.
Jaringan konektivitas jalan, logistik pertambangan/perkebunan, serta fasilitas publik di Lahat menjadi modal kuat dalam menarik minat investor.
Kedua daerah menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik. Namun, Lahat kembali memimpin dengan skor 4,04 dibanding Sarolangun (3,36), dipicu oleh tingginya volume output produk domestik regional bruto (PDRB) daerah.
Lahat juga mencatatkan efektivitas pasar tenaga kerja yang lebih tinggi (3,23 vs 2,65), mengindikasikan tingkat penyerapan tenaga kerja lokal dan kesiapan SDM yang relatif lebih responsif terhadap kebutuhan industri.
Sektor inovasi menjadi pekerjaan rumah paling krusial bagi kedua daerah. Baik Sarolangun (1,55) maupun Lahat (1,80) masih mencatatkan skor di bawah angka 2,00.
Hal ini menegaskan pentingnya dorongan riset daerah, digitalisasi pelayanan publik, serta pendaftaran hak kekayaan intelektual atas produk unggulan lokal.
Memasuki paruh kedua tahun anggaran 2026, capaian IDSD ini diharapkan menjadi peta jalan bagi Pemerintah Kabupaten Sarolangun maupun Lahat dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih presisi dan berdaya saing global.