Houthi Bantah Ambil Uang dari Kapal di Laut Merah, Pengamat Ungkap Risiko Eskalasi AS-Iran
Nanda Lusiana Saputri August 01, 2026 07:36 PM

TRIBUNNEWS.COM - Kelompok Houthi Yaman membantah laporan yang menyebut mereka akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi Laut Merah.

Bantahan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.

Di saat Houthi berusaha meyakinkan dunia jalur pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb tetap terbuka tanpa pungutan, sejumlah pengamat menilai situasi regional masih sangat rentan terhadap eskalasi.

Kelompok Houthi melalui Humanitarian Operations Coordination Center (HOCC) mengeluarkan bantahan terkait kabar adanya pungutan terhadap kapal yang melintasi wilayah perairan strategis tersebut.

Al Jazeera melaporkan, HOCC dalam pernyataan resmi pada Sabtu (1/8/2026) menegaskan layanan "safe transit" bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Bab al-Mandeb maupun Laut Merah bersifat sukarela dan tidak dikenakan biaya.

HOCC juga memperingatkan perusahaan pelayaran agar tidak memberikan pembayaran kepada pihak mana pun yang mengatasnamakan Houthi maupun pemerintah Yaman.

Menurut kelompok tersebut, pihak yang meminta uang atas nama layanan pengamanan pelayaran tidak memiliki kewenangan resmi.

Pernyataan itu disampaikan setelah muncul laporan Reuters yang menyebut Houthi sedang mempertimbangkan skema pungutan terhadap kapal yang melintas di Selat Bab al-Mandeb.

Baca juga: Houthi Yaman Bantah Pungut Biaya dari Kapal yang Lewati Laut Merah, Sempat Disebut Tiru Langkah Iran

Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi rute utama perdagangan antara Asia, Timur Tengah, serta Eropa.

Pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi mengatakan perkembangan terbaru menunjukkan kemungkinan konflik yang lebih besar masih terbuka.

"Kalau kita mulai dari perkembangan terbarunya, ada kemungkinan serangan lebih besar, minimal itu kalau merujuk pada pernyataan-pernyataan Gedung Putih atau bahkan elite-elite Amerika bahkan juga Israel, cuma memang masih ada kemungkinannya fifty-fifty dengan serangan lebih besar atau justru akan mundur," kata Hasibullah kepada KompasTV, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Hasibullah, hingga kini belum terlihat keputusan politik yang benar-benar membawa Amerika Serikat masuk ke fase konfrontasi penuh.

"Saya mencatat belum ada komitmen bahkan keputusan yang kuat terutama dari Trump untuk betul-betul masuk ke fase gugur," ujarnya.

Ketegangan Kawasan Kembali Sorot Keamanan Laut Merah

Laut Merah sebelumnya menjadi titik panas konflik setelah Houthi melancarkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang mereka klaim berkaitan dengan Israel sebagai bentuk tekanan dalam perang Gaza.

Situasi tersebut membuat sejumlah perusahaan pelayaran internasional mengubah rute perjalanan dengan menghindari Laut Merah dan memilih jalur lebih panjang mengitari Tanjung Harapan di Afrika.

Meski Houthi menyatakan jalur tersebut tetap aman dan terbuka, ketegangan antara kelompok bersenjata yang didukung Iran dengan negara-negara Barat masih menjadi perhatian.

Baca juga: Houthi Ancam Balas Arab Saudi, 14 Negara Bentuk Koalisi Pertahanan Laut

Para pengamat menilai perkembangan konflik antara Amerika Serikat, Israel, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya dapat berdampak langsung terhadap stabilitas kawasan, termasuk keamanan perdagangan global.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.