Wali Kota Surakarta Tegaskan Komitmen Inklusi dan Pengentasan Stigma ADHA Lewat Edukasi Lingkungan
Nanda Lusiana Saputri August 01, 2026 07:36 PM

TRIBUNNEWS.COM, SOLO – Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto menghadiri kegiatan tanam sayur bersama anak-anak Rumah Panti Lentera di Pajang, Laweyan, Surakarta, Sabtu (1/8/2026). 

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan pertanian sederhana di lingkungan yayasan, tetapi juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengelolaan sampah organik maupun anorganik.

Respati menyebut pengenalan lingkungan sejak usia dini menjadi bekal penting bagi tumbuh kembang anak. 

Pengalaman menanam, merawat tanaman, hingga menjaga kebersihan lingkungan akan lebih mudah membekas dan membentuk karakter mereka di masa depan.

"Edukasi seperti ini sangat luar biasa. Semakin dini anak-anak dikenalkan untuk mencintai lingkungan dan semesta, akan semakin membekas dalam diri mereka sehingga tumbuh dengan mental yang baik dan memiliki wawasan menjaga lingkungan," jelasnya ketika ditemui Tribunnews di sela kegiatan.

Sebagai bentuk dukungan lanjutan, Pemerintah Kota Surakarta menawarkan anak-anak Yayasan Lentera belajar lebih mendalam di Taman Winasis milik Pemkot Surakarta yabg ada di kawasan Kantor Dinas Pertanian dan Pangan yang ada di Jagalan, Jebres.

Di lokasi tersebut, mereka tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga dikenalkan dengan budidaya bioflok lele dan ikan konsumsi sebagai bagian dari pendidikan ketahanan pangan.

Pria yang akrab Respati Ardi ini mengapresiasi konsistensi Yayasan Lentera dalam mendampingi anak-anak yang membutuhkan perhatian. Ia berharap yayasan tersebut semakin profesional sehingga mampu menjangkau lebih banyak anak.

Pemkot Surakarta juga menegaskan komitmennya menghapus stigma terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) maupun Anak dengan HIV/AIDS (ADHA). 

Edukasi kepada masyarakat mengenai cara penularan HIV dinilai menjadi langkah penting agar tidak terjadi diskriminasi.

Baca juga: Mensos dan Gubernur Malut Sepakat Bangun Layanan Terpadu untuk Kelompok Rentan

Ia memastikan anak-anak tetap memperoleh hak yang sama, mulai dari akses pendidikan hingga peluang mengikuti pelatihan keterampilan di Solo Technopark sebagai bekal memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Dalam mendukung agenda lingkungan, Pemkot telah membentuk Satuan Tugas Semesta yang melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah, Universitas Sebelas Maret (UNS), TNI, Polri, Kejaksaan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Satgas tersebut bertugas mendukung berbagai program berwawasan lingkungan sekaligus memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku pencemaran lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketua Yayasan Lentera Surakarta, Yunus Prasetyo, mengaku bersyukur kegiatan tersebut mendapat dukungan langsung dari Pemerintah Kota Surakarta.

Kegiatan tanam sayur, kata dia, menjadi sarana membangun kepedulian anak-anak terhadap lingkungan sekaligus melatih kemandirian melalui pemanfaatan hasil kebun dan pengelolaan sampah di lingkungan yayasan.

"Anak-anak belajar menanam sayur untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka sendiri. Mereka juga dikenalkan cara mengelola sampah sehingga tumbuh rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sejak dini," ujarnya.

Pendamping kegiatan sekaligus pegiat lingkungan, Denok Marty Astuti, memandu anak-anak mulai dari proses penanaman sayuran hingga edukasi pemilahan sampah organik dan anorganik.

Sejumlah peralatan dan perlengkapan penunjang ia bawa serta. Mulai dari pot-pot dari galon bekas dan botol bekas hias, aneka benih sayuram hingga bibit tanaman siap tanam.

Sedikitnya 19 anak seumuran SMP-SMA itu juga mempraktikkan penggunaan komposter untuk mengolah sisa makanan menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan kembali bagi tanaman.

Denok menjelaskan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah harus segera dilakukan karena kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) di berbagai daerah sudah mengalami kelebihan beban.

Perubahan tersebut, kata dia, harus dimulai dari lingkungan keluarga dan diri sendiri.

"Sampah organik berupa sisa makanan dapat diolah menjadi kompos melalui komposter sehingga mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA kita yang sudah overload," urainya.

Sementara itu, sampah anorganik seperti botol air mineral masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dijual kembali sehingga mampu memberikan tambahan manfaat bagi masyarakat.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan kebun sirkular Yayasan Lentera Surakarta yang menggabungkan edukasi lingkungan, ketahanan pangan skala kecil, serta penguatan ruang tumbuh yang inklusif bagi Anak dengan HIV/AIDS (ADHA). 

Program tersebut dirancang sebagai model pemberdayaan berbasis komunitas untuk mengurangi stigma sekaligus membangun kemandirian anak-anak melalui literasi, berkebun, dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.