Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha Warisan Nek Gani Abad Ke-19, Satu-satunya yang Masih Bertahan
Mursal Ismail August 01, 2026 10:36 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin | Aceh Utara

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha di Desa Matang Keupula, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, diyakini sebagai salah satu kelompok Rapai Pase tertua yang masih bertahan hingga kini.

Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun oleh para syekh dan awak rapai, kelompok ini diperkirakan telah berdiri pada penghujung abad ke-19.

Di Aceh Timur, Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha kini menjadi satu-satunya kelompok Rapai Uroeh atau Rapai Pase yang masih aktif mempertahankan tradisi tersebut.

Keberadaannya menjadi bukti kesinambungan warisan budaya yang telah melewati lebih dari satu abad.

Sejarah grup ini berawal dari sosok Abdul Gani atau yang lebih dikenal sebagai Nek Gani, tokoh yang dipercaya membawa dan mengembangkan tradisi Rapai Pase dari kawasan Pirak, yang kini masuk wilayah Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, menuju Aceh Timur.

Menurut cerita yang diwariskan secara lisan, perjalanan itu bermula ketika Nek Gani bersama sejumlah syekh rapai dari Pirak masuk ke hutan belantara di kawasan perbatasan Aceh Utara dan Aceh Timur untuk mencari banie (banir) pohon tualang sebagai bahan pembuatan baloh rapai.

Baca juga: Pohon Tualang Kian Sulit Diperoleh, Pelestarian Rapai Pase juga Bergantung pada Penanaman Hari Ini

Lokasi pencarian tersebut diyakini berada di kawasan Alue Mirah, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara.

Pada masa itu, memilih banie tualang tidak dilakukan sembarangan. Mereka hanya mencari pohon tualang berukuran besar yang diyakini mampu menghasilkan kualitas suara terbaik sekaligus memiliki daya tahan tinggi.

Setelah sekitar empat bulan berada di tengah hutan, Nek Gani dan rombongannya berhasil membuat empat buah rapai dari sebatang banie pohon tualang.

Namun saat pertama kali diuji setelah pemasangan membran, tiga di antaranya justru pecah berkeping-keping.

Hanya satu rapai yang mampu bertahan. Rapai itulah yang kemudian diberi nama Ceureumen Apui atau Cermin Api, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu rapai pusaka paling legendaris dalam tradisi Rapai Pase.

Sekitar lima tahun kemudian, Nek Gani bersama rombongannya kembali masuk ke hutan untuk mencari banie tualang.

Baca juga: Rahasia Suara Gemuruh Rapai Pase, Bukan Sekadar Kayu Tualang, Akademisi ISBI Aceh Ungkap Alasannya

Kali ini mereka berencana membuat sepuluh rapai, namun hanya lima yang berhasil diselesaikan dengan cara dipahat.

Pada masa yang hampir bersamaan, masyarakat Matang Keupula juga berinisiatif menambah koleksi rapai. Melalui dana zakat masyarakat, mereka membeli empat rapai pusaka dari Grup Rapai Pirak.

Pirak sendiri sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan Rapai Pase. Dari kawasan inilah tradisi tersebut kemudian menyebar ke berbagai daerah di pesisir timur Aceh.

Ketua Grup Rapai Tualang Tuha, Iskandar, mengatakan seluruh kisah tersebut ia peroleh langsung dari pamannya, Tarmizi, putra Nek Gani, yang sejak kecil sering mengajaknya mengikuti uroeh atau pertandingan rapai.

"Saya tahu cerita tersebut dari paman saya, Tarmizi, anak Nek Gani.

Waktu saya berusia sekitar 15 tahun, beliau sering mengajak saya ikut uroeh atau pertandingan rapai," ujar Iskandar kepada Serambinews.com, Sabtu (1/8/2026).

Baca juga: Banir Pohon Tualang Dinilai Lebih Berkualitas untuk Baloh Rapai Pase, Ini Penjelasannya

Menurut Iskandar, empat rapai yang dibeli masyarakat Matang Keupula dari Pirak masing-masing bernama Tualang Tuha, Aneuk Bude Meuh, Emping Buso, dan Boh Keuceubong.

Pembelian rapai pusaka tersebut difasilitasi oleh seorang warga Matang Keupula yang memiliki hubungan keluarga melalui pernikahan dengan masyarakat Pirak.

Masyarakat setempat meyakini keempat rapai tersebut berasal dari banie pohon tualang yang lokasinya sama dengan rapai legendaris Ceureumen Apui.

Saat itu, Pirak memiliki koleksi rapai yang cukup banyak sehingga sebagian di antaranya diserahkan kepada masyarakat Matang Keupula sebagai bagian dari penyebaran tradisi Rapai Pase ke Aceh Timur.

Dari salah satu rapai pusaka bernama Tualang Tuha itulah kemudian lahir nama Grup Rapai Uroeh Tualang Tuha, yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai identitas kelompok.

Sepeninggal Nek Gani, kepemimpinan grup diteruskan oleh putra sulungnya, Tarmizi.

Baca juga: VIDEO - Gemuruh Duel 50 Rapai Pase di Syamtalira Aron Aceh Utara

Setelah itu estafet kepemimpinan beralih kepada Ridwan atau yang akrab disapa Keuchik Wan, sebelum akhirnya dipimpin Iskandar hingga sekarang.

"Setelah paman saya meninggal, Grup Rapai Tualang Tuha dipimpin Keuchik Wan (Ridwan), kemudian baru saya," kata Iskandar.

Di bawah kepemimpinannya, grup kini memiliki sekitar 20 anggota tetap berusia antara 20 hingga 40 tahun. Mayoritas pemain berada pada usia produktif, yakni 30–35 tahun.

Sementara para pemain senior yang telah berusia di atas 60 tahun masih aktif mendampingi latihan sebagai guru bagi generasi muda.

"Kami berusaha menjaga regenerasi. Para senior tetap mendampingi agar ilmu dan tradisi tidak terputus," ujarnya.

Saat ini Grup Rapai Tualang Tuha memiliki 15 unit rapai. Rapai terbaru dibeli oleh Iskandar dan diberi nama Sikureung, menambah koleksi rapai yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Grup ini juga rutin tampil dalam berbagai agenda budaya, termasuk Pekan Kebudayaan Aceh (PKA).

Namun, Iskandar menegaskan bahwa kekompakan seluruh awak rapai menjadi prinsip utama kelompoknya.

"Kalau panitia meminta lima rapai, kami siap hadir. Tetapi kalau hanya dua rapai, biasanya kami pertimbangkan karena tidak ingin menimbulkan kerenggangan di antara awak rapai yang sudah lama berlatih bersama," ujarnya.

Menurut Iskandar, kekuatan tradisi Rapai Pase di kawasan Madat tidak hanya dimiliki Desa Matang Keupula.

Di Desa Matang Keupula Dua terdapat dua  rapai, yakni Sibrok dan Sibrek, sedangkan Desa Blang Ubit memiliki Rapai Angen dan Rapai Tualang.

Keseluruhan koleksi rapai di kawasan Matang Keupula kini mencapai sekitar 15 unit, dengan lima rapai di antaranya menjadi andalan dalam berbagai uroeh dan pertunjukan budaya.

Iskandar mengatakan hubungan antarkelompok rapai di Aceh Timur dan Aceh Utara juga sangat erat. Latihan bersama rutin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi sekaligus memperkuat silaturahmi antarsyekh dan awak rapai.

Bahkan saat banjir melanda beberapa waktu lalu, seluruh koleksi rapai di Matang Keupula berhasil diselamatkan sehingga aktivitas latihan dapat kembali dilakukan hanya sebulan setelah bencana.

"Saat banjir kemarin kami berhasil menyelamatkan semua rapai sehingga sebulan kemudian latihan sudah bisa dimulai lagi. Berbeda dengan beberapa grup di Aceh Utara yang membran rapainya rusak karena terendam banjir," katanya.

Menurut Iskandar, latihan bersama juga sering diikuti awak rapai dari Lhok Merbo, Kecamatan Tanah Jambo Aye, maupun Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Sebaliknya, ketika kelompok di Aceh Utara menggelar latihan, para awak rapai dari Matang Keupula juga turut hadir.

"Begitu seterusnya. Karena itu setiap ada uroeh di Aceh Timur maupun Aceh Utara, para awak rapai dari kedua daerah selalu saling hadir," ujarnya.

Semangat gotong royong juga menjadi nilai yang terus dipertahankan.

"Kami saling membantu. Kalau ada rapai yang rusak atau perlu diganti kulitnya, semua awak rapai ikut bergotong royong. Tradisi ini tidak mungkin bertahan kalau dijaga sendiri-sendiri," pungkas Iskandar. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.