Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cikwan Suwandi
KARAWANG, TRIBUNJABAR.ID – Ribuan pelita menyala di kawasan Candi Jiwa, Situs Batujaya, Kabupaten Karawang, dalam perayaan Hari Raya Asadha 2570 Buddhis Era (BE), Sabtu (1/8/2026).
Sebanyak 6.700 pelita dinyalakan sebagai simbol cahaya kebijaksanaan, cinta kasih, dan harapan bagi kehidupan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah di salah satu situs Buddha tertua di Nusantara.
Ketua Pelaksana Asadha Puja 2026, Dr. Khie Khiong, mengatakan penyalaan ribuan pelita bukan sekadar rangkaian seremoni keagamaan, melainkan memiliki makna mendalam sebagai pengingat agar umat terus menumbuhkan kebijaksanaan dan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari.
"Pelita yang kita nyalakan bukan sekadar cahaya yang menerangi kegelapan malam, tetapi melambangkan cahaya kebijaksanaan yang menghalau kebodohan, cahaya cinta kasih yang mengikis kebencian, serta cahaya belas kasih yang menghadirkan kedamaian bagi sesama," ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan Asadha di Candi Jiwa memberikan makna yang lebih istimewa karena situs tersebut merupakan salah satu peninggalan Buddha tertua di Indonesia.
Ia menyebut batu-batu candi menjadi saksi perjalanan panjang ajaran Dharma sejak berabad-abad silam dan hingga kini tetap menjadi inspirasi untuk menjaga nilai-nilai kebajikan di tengah masyarakat.
"Momentum Hari Raya Asadha bukan hanya perayaan, tetapi kesempatan merefleksikan sejauh mana kita mempraktikkan cinta kasih, mengembangkan kebijaksanaan, dan menghadirkan kedamaian bagi lingkungan sekitar," katanya.
Sebelum puncak perayaan, panitia juga menggelar bakti sosial dengan membagikan paket sembako kepada warga di sekitar kawasan Candi Jiwa sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia, Amin Untario, menilai Candi Jiwa memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi perkembangan agama Buddha di Indonesia.
Ia menyebut Candi Jiwa diperkirakan dibangun pada abad ke-5 pada masa Kerajaan Tarumanagara, sehingga usianya lebih tua dibandingkan Candi Borobudur.
Menurut Amin, keberadaan situs tersebut layak menjadi pusat penyelenggaraan perayaan-perayaan besar umat Buddha, termasuk Hari Asadha dan Waisak.
"Kami akan terus berkomitmen bekerja sama dengan pemerintah untuk memajukan Candi Jiwa. Masih banyak yang perlu dibenahi, mulai dari fasilitas hingga sarana pendukung, agar situs bersejarah ini semakin dikenal masyarakat," ujarnya.
Ia juga mengajak umat Buddha di Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Banten untuk terus merawat dan memanfaatkan Candi Jiwa sebagai pusat pelestarian warisan budaya dan spiritual Buddha di Nusantara.
Di kesempatan yang sama, Pembimbing Masyarakat Buddha Kanwil Kementerian Agama Jawa Barat, Bodhi Giri Ratana, mengapresiasi penyelenggaraan Asadha 2570 yang dipusatkan di Candi Jiwa.
Menurutnya, tema "Sejuta Pelita, Sejuta Harapan" sejalan dengan semangat memperkuat kerukunan umat beragama sekaligus mengajak masyarakat mendoakan Indonesia agar semakin maju dan sejahtera.
"Semoga cahaya pelita yang kita nyalakan hari ini menerangi semangat kita untuk menciptakan kerukunan, cinta kasih, dan membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin adil, makmur, serta berdaulat," katanya.
Perayaan Asadha di Candi Jiwa pun menjadi lebih dari sekadar ritual keagamaan. Di tengah situs berusia lebih dari 1.500 tahun itu, ribuan pelita menyatukan nilai sejarah, spiritualitas, kepedulian sosial, serta harapan agar warisan budaya Buddha di Karawang terus lestari dan dikenal generasi mendatang.