Memahami Hulu ke Hilir Soal Penanggulangan Kesehatan Bencana
Siti Fatimah August 02, 2026 01:11 AM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG

Memahami Hulu ke Hilir Soal Penanggulangan Kesehatan Bencana

Oleh; 

Dr. Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University

Dalam telaahan penulis, Jawa Barat merupakan salah satu provinsi berkarakter kebencanaan terkompleks di Indonesia. Posisi geografis yang berada di jalur pertemuan struktur geologi aktif, memiliki banyak gunung api, daerah pegunungan, kawasan aliran sungai besar, serta garis pantai yang panjang menjadikan provinsi ini menghadapi beragam ancaman, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga abrasi pantai.

Dalam dokumen Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, BNPB mencatat Jawa Barat memiliki Indeks Risiko Bencana sebesar 114,15 dengan kategori risiko sedang, disertai spektrum ancaman yang sangat beragam dibanding banyak provinsi lain. 

Kompleksitas ancaman tersebut menunjukkan, keberhasilan penanggulangan bencana tidak lagi dapat bertumpu pada respons darurat semata.

Tantangan terbesar justru muncul setelah fase penyelamatan awal berakhir, ketika pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat harus memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi, mencegah munculnya kejadian luar biasa (KLB), menjaga sanitasi lingkungan, hingga memulihkan kesehatan fisik dan psikososial korban.

Kondisi inilah yang membuat literatur mengenai manajemen bencana berbasis kesehatan masyarakat semakin penting, terutama bagi Indonesia yang terus berhadapan dengan bencana hidrometeorologi maupun geologi hampir setiap tahun. 

Buku ini hadir sebagai salah satu referensi pembelajaran yang cukup sistematis, khususnya bagi mahasiswa kesehatan masyarakat maupun pihak yang ingin memahami tata kelola penanggulangan bencana dari perspektif kesehatan.

Salah satu kekuatan utama buku ini tampak pada pembahasan mengenai penanggulangan masalah kesehatan di lokasi bencana.

Bagian ini terasa relevan karena penulis tidak hanya membahas bencana sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan masyarakat kompleks. 

Di lokasi pengungsian, persoalan tidak berhenti pada penyelamatan korban. Setelah fase darurat berlalu, ancaman baru sering muncul berupa penyakit menular, buruknya sanitasi, hingga gangguan psikologis.

Buku ini menyoroti bahwa lokasi pengungsian sering kali menjadi titik rawan munculnya penyakit akibat kepadatan manusia, minimnya ventilasi, keterbatasan air bersih, dan buruknya sistem sanitasi.

Penjelasan mengenai Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare dan kolera, hingga penyakit kulit seperti scabies dijelaskan secara sederhana namun mudah dipahami.

Penulis juga menghubungkan penyebab penyakit dengan kondisi nyata di lapangan, seperti penggunaan fasilitas bersama, kontak fisik yang tinggi, serta keterbatasan kebersihan pribadi.

Menariknya, pembahasan tidak berhenti pada identifikasi penyakit.

Buku ini juga menjelaskan strategi pencegahan secara praktis.

Pembaca diajak memahami pentingnya ventilasi udara, edukasi kebersihan diri, penggunaan masker, pengelolaan makanan, hingga penyediaan air bersih sebagai langkah dasar pengendalian penyakit di pengungsian.

Pendekatan seperti ini membuat buku terasa aplikatif dan dekat dengan realitas kebencanaan di Indonesia.

Pada bagian manajemen KLB, penulis menguraikan tahapan penanggulangan secara berurutan, mulai dari deteksi dini dan surveilans, respons cepat, pencegahan penyebaran, hingga evaluasi dan pemulihan.

Dalam bagian deteksi dini misalnya, dijelaskan pentingnya pengumpulan data epidemiologi, analisis data secara real time, dan pelaporan cepat kepada otoritas kesehatan.

Penjelasan ini penting karena dalam banyak kasus, keterlambatan membaca tanda awal KLB sering berujung pada meluasnya penyebaran penyakit.

Bagian respons cepat juga cukup menarik karena memperlihatkan bagaimana penanganan bencana membutuhkan kerja kolektif. Penulis menegaskan perlunya mobilisasi tim tanggap darurat, investigasi lapangan, dan diagnosis awal berbasis pemeriksaan klinis maupun laboratorium.

Pembaca dapat melihat bahwa manajemen bencana bukan hanya kerja tenaga medis, tetapi melibatkan koordinasi lintas sektor yang terintegrasi.

Selain itu, buku ini menempatkan edukasi masyarakat sebagai bagian penting dalam pencegahan penyebaran penyakit.

Penyuluhan mengenai hygiene, vaksinasi, dan perilaku hidup bersih diposisikan sebagai strategi utama pengendalian wabah.

Perspektif ini menarik karena memperlihatkan bahwa komunikasi kesehatan memiliki posisi penting dalam manajemen bencana. 

Dalam situasi krisis, informasi yang cepat dan akurat dapat menjadi instrumen penyelamatan yang sama pentingnya dengan bantuan logistik.

Dari sisi sistematika, buku ini disusun lengkap dan berurutan. Bab awal membahas konsep dasar manajemen bencana, definisi bencana dan KLB, sejarah bencana di Indonesia, hingga siklus manajemen bencana.

Setelah itu pembaca diajak memahami pertolongan pertama dalam situasi bencana, termasuk teknik bantuan hidup dasar dan triage korban.

Bab-bab selanjutnya membahas manajemen gizi pada bencana, pengelolaan kesehatan lingkungan, pengelolaan sarana sanitasi, serta pencegahan penyakit infeksius dan berbasis vektor.

Penulis kemudian memperluas pembahasan ke aspek promosi kesehatan dan partisipasi masyarakat, pengelolaan sumber daya alam dalam manajemen bencana, hingga analisis asesmen K3 pada bencana dan KLB.

Tidak berhenti di situ, buku ini juga membahas sistem informasi manajemen risiko bencana, pengelolaan paket pelayanan awal minimum kesehatan reproduksi, dan akhirnya ditutup dengan pembahasan penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana/KLB yang menjadi salah satu inti buku.

Di bagian akhir, penulis juga memasukkan pembahasan dampak psikologis pada pengungsi pasca-bencana, sebuah tema yang sering terlupakan dalam diskursus kebencanaan.

Secara umum, sistematika buku ini menunjukkan bahwa penulis ingin menghadirkan pemahaman menyeluruh mengenai manajemen bencana, mulai dari aspek konseptual, teknis, kesehatan masyarakat, hingga pemulihan pasca-bencana.

Penyusunan materi yang bertahap membuat pembaca relatif mudah mengikuti alur pembahasan.

Di tengah meningkatnya frekuensi bencana dan ancaman wabah, kehadiran buku seperti ini menjadi penting karena membantu membangun kesadaran bahwa penanggulangan bencana tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga soal menjaga keberlangsungan kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Buku ini mengingatkan bahwa setelah bencana datang, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.