BOLASPORT.COM - UEFA tetap menuntut Gianni Infantino mundur dari jabatannya sebagai Presiden FIFA walaupun sudah membatalkan rencana privatisasi saham Piala Dunia.
Pria Swiss itu akhirnya menyerah. Jumat (31/7/2026), Gianni Infantino resmi menghapus rencana penjualan kepemilikan hak komersial turnamen garapan FIFA, termasuk Piala Dunia.
Hal ini dilakukan setelah muncul gelombang perlawanan dari konfederasi maupun sejumlah anggota asosiasi FIFA beberapa hari terakhir.
Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) menjadi pelopor koalisi yang beroposisi terhadap proyek kontroversial Infantino.
Langkah UEFA diikuti Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah dan Karibia (CONCACAF) serta Asia (AFC).
Sementara itu, badan kontinental sisanya (CAF, OFC, CONMEBOL) masih menunggu diskusi dan penjelasan lebih lanjut serta konsultasi dengan konfederasi lain.
Kekuatan koalisi UEFA, CONCACAF dan AFC saja sudah mencakup 143 asosiasi atau melebihi 50 persen dari total negara anggota FIFA (211).
Supaya rencana pembagian saham kepada investor swasta tercapai, Infantino memerlukan dukungan dari Dewan Pengurus FIFA dan 50 persen negara anggotanya.
Menyadari derasnya perlawanan, suksesor Sepp Blatter itu pun membatalkan proposal itu hanya empat hari setelah diluncurkan kepada publik.
"Setelah mendengarkan secara saksama semua pandangan, jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang tidak lagi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal," kata Infantino dalam pernyataan yang dikutip BolaSport.com dari Sky News.
"Tujuan kami selalu untuk menyatukan dan meningkatkan persatuan. Akibatnya, proposal ini tidak akan dilanjutkan."
"Ke depannya, niat saya adalah menyatukan kembali semua pihak yang berkepentingan dalam beberapa hari dan minggu mendatang lewat semangat kepentingan bersama untuk sepak bola, dan dengan tujuan untuk terus mengembangkan sepak bola di mana pun, khususnya di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan."
Setelah pernyataan itu dirilis, UEFA turut memberikan respons. Badan pimpinan Aleksander Ceferin menyambut baik pembatalan proposal tersebut.
Hanya, kubu Eropa telanjur memandang Infantino tak layak lagi memimpin organisasi induk sepak bola dunia.
Mereka menilai FIFA sebenarnya bisa mencairkan dana yang mengendap di rekening guna mendorong perkembangan sepak bola di negara-negara anggotanya tanpa perlu menjual kepemilikan hak komersial kepada investor luar.
"Kita tidak bisa terus seperti ini dengan skema rahasia yang dipercepat, yang dirancang oleh individu-individu tak dikenal, dan manfaatnya bagi sepak bola yang diragukan."
"Kita harus mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab dan meminta pertanggungjawaban mereka."
Capres Baru
"Kepemimpinan FIFA saat ini tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya."
"Kesepakatan kotor, rahasia, dan tidak jelas yang ia rancang dan coba paksakan sama sekali tidak transparan," demikian bunyi pernyataan blok Eropa.
Dengan tuntutan yang semakin deras, media pun sudah memunculkan sejumlah kandidat jika Gianni Infantino jadi makzul.
Beberapa di antaranya adalah Nasser Al-Khelaifi (Presiden PSG, Komite Eksekutif UEFA), Aleksander Ceferin (Presiden UEFA), Victor Montaglie (Presiden CONCACAF) hingga Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa (Presiden AFC).
Sebelumnya, Infantino menyampaikan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), semacam anak perusahaan yang akan mengatur penjualan hak-hak komersial dan operasional semua turnamen garapannya, termasuk Piala Dunia, kepada investor eksternal.
Entitas bisnis itu ditaksir memiliki valuasi sekitar 20 miliar dolar AS (361 triliun rupiah).
Dengan menjual 20 persen kepemilikannya kepada pemodal swasta, cuan yang ditargetkan Infantino dkk sebesar 4,2 miliar dolar AS (68 triliun rupiah).
FIFA menyampaikan ultimatum kepada negara anggotanya untuk segera menyetujui proposal tersebut.
Infantino diklaim memberi ancaman dengan memotong 75 persen dana pengembangan kepada setiap member jika tidak meneken surat persetujuan proyek ini - walaupun kemudian dia menegaskan sifatnya 'bukan paksaan, melainkan hanya usulan'.
Mereka berdalih uang hasil penjualan saham tersebut akan dialirkan kembali untuk membantu pembangunan infrastruktur, kompetisi, dan pengembangan sepak bola setiap anggotanya.
Asosiasi dijanjikan mendapatkan suntikan 20 juta dolar AS (361 miliar rupiah) pertama untuk siklus pendanaan 2027-2030 dan akan terus tumbuh di siklus-siklus berikutnya.
Para negara anggota diberikan waktu hingga September 2026 guna menentukan sikapnya supaya aliran dana bisa mulai diproses pada Januari 2027.