TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mencatat okupansi atau tingkat hunian hotel di kawasan pariwisata The Nusa Dua selama semester I Tahun 2026 mencapai 80 persen.
"Semester pertama secara rata-rata kurang lebih diatas 70 persen atau tepatnya 75 persen. Dan waktu liburan tentunya di atas 90 persen. Saya saja cari hotel untuk nginep di sini juga sudah susah," ujar Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, usai menonton atraksi budaya Cipta Rwa Loka di Taksu Art Stage, Peninsula Island, Sabtu 1 Agustus 2026.
Ia menambahkan rata-rata wisatawan hingga investor memilih The Nusa Dua untuk mereka menginap karena bahwasanya okupansi rata-ratanya di atas 70 persen.
Dan saat ini kondisi rata-rata okupansi 70 sampai 80 persen, hal ini patut kita syukuri bahwasanya di Bali khususnya kawasan di The Nusa Dua dengan kategori premium tingkat huniannya mencapai angka tersebut.
Maka dari itu agar wisatawan lebih nyaman lagi menginap di kawasan The Nusa Dua ITDC menggelar sejumlah event atau acara salah satunya menghadirkan atraksi budaya terbaru, "Cipta Rwa Loka by Naluri Manca".
Baca juga: Jordy Bruijn Resmi Tinggalkan Bali United, Akhiri Kerja Sama Jelang Super League 2026/2027
"Jadi yang kita inginkan mereka datang, senang, pengalaman kulinernya bagus, alamnya indah, dan Bali pasti budayanya juga menjadi sesuatu yang indah, sehingga apa mereka akan lebih lama tinggal di Bali, spending-nya makin banyak. Itu yang kita harapkan bahwasanya quality tourism akan tercipta," ungkap Ahmad Fajar.
Kehadiran atraksi budaya "Cipta Rwa Loka by Naluri Manca" diharapkan dapat memperkaya daya tarik The Nusa Dua melalui pengalaman wisata yang lebih autentik dan berkesan.
ITDC menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkenalkan kekayaan seni dan filosofi Bali dalam kemasan yang modern.
Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi ITDC untuk terus memperkaya pengalaman wisata melalui raga atraksi budaya yang melengkapi fasilitas dan layanan berstandar internasional, sekaligus memperkuat posisi The Nusa Dua sebagai destinasi pariwisata kelas dunia yang memadukan standar layanan internasional dengan kekayaan budaya lokal.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menyampaikan, pengembangan atraksi budaya merupakan salah satu strategi perusahaan dalam meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung sekaligus memperpanjang lama tinggal (length of stay) wisatawan di kawasan.
Sejalan dengan implementasi program CX 100 Danantara, ITDC terus menghadirkan inovasi layanan dan pengalaman baru yang memberikan nilai tambah bagi setiap pengunjung.
“Kehadiran Cipta Rwa Loka menjadi bagian dari komitmen kami untuk memperkuat diferensiasi The Nusa Dua sebagai destinasi kelas dunia yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan fasilitas premium, tetapi juga pengalaman budaya yang autentik, berkualitas, dan berkesan. Kami percaya bahwa pengalaman merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepuasan pengunjung sekaligus mendorong loyalitas wisatawan," jelas Agus Dwiatmika.
Cipta Rwa Loka merupakan karya terbaru dari Naluri Manca, komunitas seni dan budaya Bali yang berdiri sejak tahun 2020 dengan komitmen melestarikan sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Nusantara melalui pertunjukan yang kreatif, inovatif, dan berkualitas.
Kiprah Naluri Manca semakin mendapat pengakuan melalui berbagai prestasi, di antaranya menjadi salah satu peserta terbaik dalam Indonesia's Got Talent Season 1 pada tahun 2022, berpartisipasi dalam Organization of World Heritage Cities sejak tahun 2022, serta berhasil meraih Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada tahun 2024 melalui pementasan kolosal multi-genre seni yang diselenggarakan di lokasi aslinya.
Terinspirasi dari filosofi Rwa Bhineda, pertunjukan ini mengangkat makna keseimbangan antara dua unsur yang saling melengkapi dalam kehidupan.
Melalui perpaduan koreografi, musik, tata cahaya, kostum artistik, serta teknologi visual dengan efek glow in the dark, Cipta Rwa Loka menghadirkan pengalaman pertunjukan yang memadukan nilai budaya, spiritualitas, dan inovasi kreatif dalam satu panggung yang spektakuler.
Nama Cipta Rwa Loka sendiri merepresentasikan tiga makna utama, yakni Cipta sebagai kesadaran dan daya kreativitas manusia, Rwa sebagai simbol dualitas, serta Loka sebagai ruang kehidupan tempat seluruh dinamika tersebut berlangsung.
Filosofi tersebut diterjemahkan dalam sebuah pertunjukan yang mengajak penonton merasakan harmoni antara tradisi dan modernitas.
Sementara itu, Ida Bagus Eka Haristha selaku salah satu Founder Naluri Manca, mengatakan persiapan untuk menampilkan Cipta Rwa Loka dibutuhkan waktu lebih dari satu bulan.
"Kami kurang lebih hampir 1,5 bulan untuk melakukan proses ini (hingga tampil malam ini) dan ini intens latihannya pagi sama malam. Kami di sini melibatkan lintas generasi paling muda umur 9 tahun masih SD, SMP bahkan yang sudah lanjut," paparnya.
Satu penampilan Cipta Rwa Loka melibatkan 45 orang terdiri dari 40 talent, 5 orang yang mem-backup.
Menjadi tantangan terbesar bagi Gus Eka adalah merealisasikan sebuah ide ke dalam pertunjukan, karena bukan dari segi koreografi saja yang kami pikirkan.
"Pertama bagaimana merealisasikan ada eksperimen, ada multidisipliner atau lintas media. Ini sebenarnya kita memanfaatkan juga dari segi pewarnaan gitu. Jadi tidak semua warna yang bisa menghadirkan glow in the dark. Bahkan respon pewarnaan lighting juga tidak bisa sembarangan. Kalau blue light begini hadir, kalau red light begini hadir. Jadi itu beda-beda semua," tuturnya menjelaskan kendala terbesarnya dalam menampilkan Cipta Rwa Loka.
Menurutnya aktualisasi potensi terjadi di sini. Jadi bukan tentang menghadirkan pertunjukan saja, tapi edukasi juga.
"Ini anak-anak semua mereka belajar, jadi ada ruang untuk mereka tampil dan menguji kemampuan mereka," ucapnya.
Sebagai bagian dari kolaborasi strategis antara ITDC dan Naluri Manca, pertunjukan Cipta Rwa Loka akan digelar secara rutin setiap hari Sabtu, pukul 19.00 hingga 20.00 WITA, di Taksu Art Stage, Peninsula Island, The Nusa Dua, dengan harga tiket sebesar Rp250.000 per orang.
Melalui penyelenggaraan rutin ini, ITDC menghadirkan atraksi budaya yang diharapkan dapat memperkaya pilihan aktivitas malam (night-time attraction) di kawasan The Nusa Dua, sekaligus memberikan pengalaman wisata yang lebih autentik dan bernilai tambah bagi wisatawan yang menginap maupun masyarakat umum.
Program ini juga menjadi bagian dari strategi ITDC dalam memperkuat ekosistem pariwisata berbasis budaya melalui kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif lokal.
Dengan menghadirkan ruang ekspresi bagi seniman Bali, ITDC tidak hanya meningkatkan kualitas pengalaman wisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, serta penciptaan nilai bersama (shared value) bagi masyarakat sekitar destinasi.
“Melalui aktivasi ini, ITDC optimistis The Nusa Dua akan semakin dikenal sebagai destinasi yang mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lengkap, mulai dari akomodasi berkelas internasional, fasilitas MICE, rekreasi, kuliner, hingga atraksi seni budaya yang autentik," ucap Agus Dwiatmika.
Menurutnya langkah ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadikan The Nusa Dua sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang berdaya saing global sekaligus mendukung transformasi sektor pariwisata nasional melalui implementasi program CX 100 Danantara.
(*)