Kopi Liberika Tungkal dan Robusta Jangkat Ramaikan Malam Bulan Serengkuh Serentak Ketujuan
asto s August 02, 2026 11:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Kopi lokal asal Jambi turut meramaikan stan UMKM pada Malam Bulan Serengkuh Serentak Ketujuan 2026 di Alun-Alun Kota Kuala Tungkal, Sabtu (1/8/2026) malam.

Produk kopi yang dipasarkan mengusung merek Coffee Jambee dengan bahan baku biji kopi Liberika asal Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, serta kopi Robusta dari Jangkat, Kabupaten Merangin.

Pengunjung dapat menikmati beragam varian, mulai dari kopi hitam hingga kopi susu. Penyajiannya dilakukan menggunakan dua metode, yakni manual brew (V60) dan mesin espresso otomatis.

Harga yang ditawarkan mulai Rp10 ribu per gelas. Selain minuman siap saji, Coffee Jambee juga menjual kopi dalam kemasan, baik kopi botolan maupun kopi bubuk dari biji kopi yang telah melalui proses roasting.

Pemilik Coffee Jambee, Ira, mengatakan usahanya mulai dirintis pada 2019. Namun, bisnis tersebut sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 sebelum kembali dijalankan pada 2022.

"Jadi waktu itu perkembangan Liberika lagi hot-hotnya. Pas Covid kami mengalami penurunan dan sempat istirahat dulu. Setelah Covid baru kami rintis lagi sekitar tahun 2022," katanya.

Menurut Ira, kecintaannya terhadap kopi menjadi alasan utama menekuni usaha tersebut. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, tetapi juga menjadi media untuk membangun relasi.

"Dalam kopi ini banyak cerita. Banyak kenalan, banyak saudara yang bisa kita temui. Apalagi sekarang kopi sedang booming," tuturnya.

Ia menilai prospek bisnis kopi di Kuala Tungkal maupun Jambi masih menjanjikan. Hal itu terlihat dari terus bertambahnya kedai kopi yang bermunculan.

"Di Tungkal juga seperti itu. Jadi kami tetap konsisten di kopi karena melihat prospeknya ke depan masih bagus," ujarnya.

Coffee Jambee masih diproduksi secara rumahan dan memasok produknya ke sejumlah sentra bisnis kopi di Jambi.

Meski demikian, Ira mengakui pelaku usaha kopi di daerah hilir masih menghadapi tantangan, terutama akibat tingginya harga bahan baku.

"Bagian hilirnya itu yang menjadi kendala bagi kami karena harga bahan baku sekarang cukup tinggi," katanya.

Jika penjualan dilakukan secara rutin, Coffee Jambee mampu membukukan omzet sekitar Rp500 ribu per hari.

"Pernah kami coba buka secara konsisten. Kalau omzet harian mungkin sekitar Rp500 ribu, karena memang kami belum buka setiap hari," ucapnya.

Ira juga menyoroti masih minimnya penggunaan kopi Liberika oleh pelaku usaha kopi di daerah. Padahal, menurutnya, Liberika memiliki karakter rasa yang khas.

"Asamnya seperti Arabika, pahitnya seperti Robusta. Jadi Liberika ini seperti menyatukan karakter Arabika dan Robusta," jelasnya.

Ia menyayangkan masih sedikit kedai kopi yang menyajikan Liberika lokal.

"Coffee shop di sini sudah banyak, tapi saya belum menemukan yang menjual kopi Liberika. Yang dijual justru kopi dari luar. Seakan-akan kita lebih bangga dengan kopi luar daripada kopi sendiri," katanya.

Karena itu, Ira berharap kopi Liberika khas Kuala Tungkal mendapat promosi yang lebih luas. Menurutnya, meski harga kopi sedang tinggi, produktivitas kebun Liberika justru mengalami penurunan akibat banjir dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Ia juga berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar terhadap pengembangan kopi Liberika agar petani dan pelaku usaha semakin bersemangat mengembangkan komoditas tersebut.

"Dulu Tanjab Barat merupakan daerah penghasil kopi Liberika terbesar di Indonesia, dengan luas lahan sekitar 5.000 hektare. Itu yang terbesar di Indonesia," pungkasnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Prediksi Skor Galatasaray vs Rennes , Head-to-head dan Statistik di Pertandingan Persahabatan

Baca juga: Kemeriahan Malam Pembukaan Bulan Serengkuh Serentak Ketujuan 2026 di Tanjab Barat

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.