Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Hobi fotografi tidak hanya menjadi aktivitas untuk mengisi waktu luang, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan.
Hal itu dibuktikan fotografer asal Bengkulu, Andes Syaputra, yang memanfaatkan hobinya memotret berbagai aktivitas olahraga untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Andes menceritakan pengalamannya dalam acara Kito Obroli yang membahas sejumlah hobi yang dapat menghasilkan cuan.
Menurut Andes, aktivitasnya saat ini banyak berkaitan dengan fotografi olahraga. Ia mendokumentasikan berbagai kegiatan, mulai dari olahraga lari, bersepeda, sepak bola, hingga sejumlah kegiatan lainnya.
“Kalau sekarang lebih ke hobi. Mendokumentasikan teman-teman yang hobi olahraga, misalnya lari, sepeda, bisa juga bola,” ujar Andes dalam Podcast Kito Obroli, Sabtu (1/8/2026).
Ia menyebut fotografi sebagai aktivitas untuk “membukukan momen”.
Foto-foto tersebut kemudian dapat dibeli oleh orang yang merasa membutuhkan dokumentasi dirinya saat berolahraga.
Andes mulai mengenal dunia fotografi sejak menempuh pendidikan di SMK dengan jurusan yang berkaitan dengan penyiaran (broadcasting).
Di sekolah, ia mulai belajar mengoperasikan kamera hingga akhirnya memiliki kamera pertamanya, yakni Canon 550D.
Setelah lulus SMK, ketertarikannya terhadap dunia kamera terus berlanjut.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan film sehingga pengetahuan mengenai fotografi dan videografi semakin berkembang.
Menurut Andes, pada masa sekolah, memiliki kamera menjadi sesuatu yang cukup istimewa.
Tidak banyak pelajar yang mempunyai kamera sehingga aktivitas memotret menjadi pengalaman yang menarik.
Perjalanan Andes memperoleh penghasilan dari fotografi melalui aplikasi Fotou dimulai sekitar akhir 2024.
Saat itu, ia melihat orang-orang yang selesai melakukan aktivitas olahraga mencari foto mereka melalui aplikasi tersebut.
“Kalau di FotoYu sebenarnya lebih mudah menjangkau orang yang membutuhkan foto. Orang yang beraktivitas olahraga di pantai, stadion, atau acara bisa mencari fotonya melalui aplikasi,” jelasnya.
Fotografer cukup mengunggah hasil jepretan ke FotoYu. Selanjutnya, orang yang merasa memiliki foto tersebut dapat mencari dan membeli hasil dokumentasi.
Ia mengaku penghasilan dari aktivitas tersebut mulai terasa ketika dirinya semakin rutin memotret.
Pada akhir 2025, Andes bahkan mengaku bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dalam satu minggu ketika aktivitas memotret dilakukan secara rutin.
“Kalau sudah rutin, seminggu bisa mendapatkan Rp1 juta sampai Rp2 juta,” katanya.
Untuk harga foto, para fotografer di Bengkulu memiliki kisaran harga sekitar Rp30 ribu untuk foto harian.
Sementara itu, harga foto dalam sebuah acara tertentu dapat mencapai sekitar Rp35 ribu.
Tidak hanya foto, Andes juga menerima pekerjaan dokumentasi video dengan harga yang berbeda, tergantung kebutuhan dan durasi.
Menurutnya, menjadi fotografer olahraga membutuhkan peralatan yang memadai, tetapi tidak selalu harus menggunakan kamera mahal.
Bagi fotografer pemula, ia menyarankan untuk tidak terburu-buru membeli kamera dan lensa dengan harga tinggi.
“Kalau belum punya kamera, sewa saja dulu. Banyak tempat yang menyewakan kamera. Kalau belum punya lensa, jangan dipaksakan membeli,” ujarnya.
Menurut Andes, kemampuan fotografer tidak hanya ditentukan oleh mahalnya peralatan.
Kemampuan menangkap momen juga menjadi faktor penting.
Ia menyarankan fotografer pemula mempelajari dasar-dasar fotografi, seperti pengaturan ISO, kecepatan rana, bukaan diafragma, serta pengoperasian kamera secara manual.
“Ketika punya alat bagus tetapi tidak punya kemampuan menangkap momen, hasilnya belum tentu bagus. Sebaliknya, kalau punya kemampuan tetapi alatnya terbatas, momen juga tidak bisa terekam dengan maksimal. Jadi keduanya harus dikombinasikan,” jelasnya.
Selain kemampuan teknis, Andes mengingatkan fotografer untuk memahami etika ketika memotret orang di ruang publik.
Menurutnya, fotografer perlu memperhatikan respons orang yang akan dipotret.
Jika seseorang menunjukkan tanda tidak ingin difoto, fotografer sebaiknya menghormati dan tidak memaksakan diri.
“Komunikasi itu penting. Kalau orang tidak mau difoto, cukup dihapus. Tidak perlu diperpanjang,” katanya.
Andes juga menyoroti persoalan penggunaan foto tanpa membeli. Ia mengaku pernah menemukan orang yang menghilangkan tanda air (watermark) dari foto yang dihasilkan fotografer.
Menurutnya, tindakan tersebut merugikan fotografer karena setiap foto membutuhkan peralatan, waktu, tenaga, dan proses penyuntingan.
“Setidaknya, meskipun sudah mendapatkan fotonya, jangan dicuri. Kami juga mengeluarkan biaya untuk peralatan dan waktu,” ujarnya.
Di Bengkulu, aktivitas fotografer olahraga saat ini banyak dilakukan di kawasan Pantai Panjang.
Selain itu, beberapa fotografer juga memotret aktivitas masyarakat di sejumlah lokasi olahraga dan acara lari.
Andes mengaku penghasilan dari fotografi cukup membantu kondisi ekonominya.
Bahkan, sebagian penghasilan dari memotret digunakan untuk mendukung hobinya yang lain, termasuk membeli perlengkapan olahraga.
“Dari hobi untuk hobi. Hasil memotret digunakan untuk mendukung hobi lari,” ungkapnya.
Andes menilai setiap orang sebenarnya dapat mengembangkan hobi menjadi sumber penghasilan apabila memiliki keterampilan yang dapat ditawarkan.
Tidak hanya fotografi, menurutnya, kemampuan di bidang musik, pembawa acara, pembuatan konten, hingga keterampilan lainnya juga dapat menjadi peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Bagi fotografer yang ingin mulai menjual karya melalui Fotou, Andes berpesan agar tidak terlalu memikirkan keterbatasan peralatan.
“Kalau mau mulai, mulai saja dulu. Belum punya kamera, sewa. Yang penting belajar dan terus menghasilkan karya,” katanya.
Ia juga mengingatkan para fotografer untuk tetap menjaga kesehatan dan keseimbangan antara pekerjaan, hobi, serta kehidupan pribadi.
“Selagi menghasilkan, gas terus. Yang penting tetap sehat dan tetap waras,” pungkas Andes.