Mentrans Iftitah Ungkap Paradigma Baru Program Transmigrasi
Dewi Agustina August 02, 2026 12:19 PM

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman mengungkap paradigma baru dari program transmigrasi.

Menurutnya, keberhasilan transmigrasi kini tidak lagi diukur dari banyaknya penduduk yang dipindahkan, melainkan dari kemampuan kawasan menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Menko AHY Minta Pengelolaan Transmigrasi Fokus pada Sektor Investasi

"Keberhasilan transmigrasi tidak lagi diukur dari berapa banyak orang yang dipindahkan, tetapi dari berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, investasi yang masuk, dan masyarakat yang semakin sejahtera. Itulah paradigma baru transmigrasi yang sedang kami bangun,” kata Iftitah dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/2026).

Untuk mendukung itu, sebanyak 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 dilepas pada Rabu (29/7/2026) guna memetakan potensi daerah, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membuka peluang investasi berbasis potensi lokal.

 

 

Iftitah mengatakan kawasan transmigrasi harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui pengembangan industri berbasis potensi lokal.

Karena itu, kehadiran Tim Ekspedisi Patriot diharapkan mampu mengidentifikasi peluang pengembangan kawasan sekaligus menjembatani kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.

Ia mencontohkan beberapa pendekatan yang telah menunjukkan hasil seperti di Kawasan Transmigrasi Toriwang, Kabupaten Halmahera Utara.

Menurutnya, investasi pada industri pengolahan kelapa telah membuka ribuan lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan diproyeksikan terus berkembang hingga mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja. 

Model pengembangan kawasan berbasis investasi dan hilirisasi tersebut akan direplikasi di berbagai kawasan transmigrasi lainnya.

Dari total peserta, Kementerian Transmigrasi menempatkan sekitar 1.200 personel Tim Ekspedisi Patriot yang akan bertugas di 10 kawasan transmigrasi khususnya di Papua.

Kehadiran mereka merupakan tindak lanjut atas aspirasi pemerintah daerah dan masyarakat Papua yang menginginkan dukungan sumber daya manusia unggul untuk memperkuat pendidikan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mempercepat pengembangan ekonomi kawasan.

Melalui tim ini, Kementerian Transmigrasi berharap kawasan-kawasan transmigrasi tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga tumbuh menjadi pusat-pusat ekonomi baru yang mampu menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Disebar ke 53 Kawasan Transmigrasi

Untuk informasi, sebanyak 1.467 peserta Tim Ekspedisi Patriot 2026 yang terdiri dari guru besar, doktor, dan magister ini akan disebar 53 kawasan transmigrasi yang terdiri atas 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan prioritas di Papua setelah melakukan pembekalan.

Para peserta berasal dari berbagai kampus, di antaranya:

  1. ITB
  2. UI
  3. IPB
  4. Universitas Padjadjaran
  5. UGM
  6. Universitas Diponegoro
  7. ITS
  8. Universitas Airlangga
  9. Universitas Brawijaya 
  10. Universitas Hasanuddin

Wakil Menteri Transmigrasi (Wamen Transmigrasi) Viva Yoga Mauladi mengatakan selama empat bulan, para peserta akan menindaklanjuti rekomendasi hasil TEP 2025 melalui program inovasi, kreasi, dan pengembangan potensi unggulan di berbagai kawasan transmigrasi.

"Sebelum dilepas ke berbagai kawasan transmigrasi, anggota TEP diberi pembekalan berbagai materi keilmuan," katanya.

Menurut Viva Yoga, pembekalan diberikan agar seluruh anggota memahami berbagai hal yang perlu dipersiapkan dalam menjalankan misi riset di lapangan.

Ia optimistis para anggota mampu menjalankan tugas tersebut karena berasal dari perguruan tinggi unggulan dan telah melalui proses seleksi yang ketat.

"Yang mendaftarkan diri tercatat mencapai 10.359 orang dari berbagai kampus di tanah air bahkan ada yang dari luar negeri. Mereka sosok-sosok yang cerdas dan manusia unggul," ujarnya.

Viva Yoga berharap para peserta TEP dapat menjadi calon pemimpin Indonesia di masa depan sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di kawasan transmigrasi.

Ia juga menambahkan, apabila program TEP mampu menghadirkan solusi dan mendorong kemajuan masyarakat di kawasan transmigrasi, program tersebut akan terus dilanjutkan pada periode berikutnya.

Viva Yoga pun optimistis hasil riset para peserta akan memberikan dampak positif karena selama ini mereka telah terbiasa melakukan penelitian sesuai bidang keilmuannya.

"Bila sebelumnya mereka melakukan riset di laboratorium atau dalam lingkup yang lain, sekarang saatnya melakukan riset di kawasan yang lebih besar," tuturnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.