TRIBUNWOW.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan agar tidak membantu Amerika Serikat (AS) dalam konflik yang sedang berlangsung.
Teheran menegaskan bahwa negara mana pun yang menjadi "tameng pertahanan" bagi Washington akan menghadapi konsekuensi serius.
Kepala Komando Pusat Militer Iran, Ali Abdollahi, menuduh AS terus mendorong eskalasi konflik di kawasan melalui berbagai langkah militer dan dukungan terhadap sekutunya.
"Amerika Serikat dengan cepat melangkah menuju eskalasi ketegangan di kawasan ini," kata Abdollahi dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, seperti dikutip AFP, Sabtu (1/8/2026).
Ia kemudian menyampaikan ancaman terbuka kepada negara-negara yang memberikan dukungan militer kepada Washington.
Baca juga: Iran Serang Pangkalan AS, Yordania Minta Pasukan Angkat Kaki
"Negara mana pun yang menjadi tameng pertahanan bagi Amerika yang kriminal dan agresif akan dilalap kobaran api perang," tegas Abdollahi.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik Iran dengan AS dan Israel ke negara-negara lain di Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran.
Trump menegaskan pemerintahannya siap meningkatkan tekanan militer dan bertekad memenangkan perang melawan Teheran, yang menurutnya dimulai setelah serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Pertempuran kembali memanas setelah gencatan senjata yang sempat berlangsung singkat berakhir, memicu aksi saling serang di berbagai titik strategis.
"Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, 'Kami benar-benar tidak tahan lagi'," ujar Trump dalam pernyataan terbarunya.
Di tengah perang pernyataan tersebut, media-media terkemuka AS, termasuk CBS News dan The Wall Street Journal (WSJ), melaporkan bahwa Washington dan Tel Aviv tengah mempersiapkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Menurut laporan itu, target utama serangan adalah infrastruktur energi Iran, seperti pembangkit listrik, kilang minyak, dan fasilitas pendukung sektor energi lainnya.
Operasi tersebut disebut-sebut berpotensi dilancarkan pada akhir pekan ini apabila mendapat persetujuan akhir dari Gedung Putih.
Meski Trump dilaporkan masih mempertimbangkan opsi tersebut dan belum memberikan lampu hijau, koordinasi militer antara AS dan Israel disebut terus berlangsung sebagai bagian dari persiapan.
Apabila serangan itu benar-benar dilakukan, maka operasi tersebut akan menjadi serangan besar pertama Israel terhadap Iran sejak gencatan senjata awal yang diberlakukan pada April lalu, sekaligus berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: AS Gagal Lindungi Kuwait! Serangan Iran Tewaskan 6 Prajurit
(*)