Enam Pemain Argentina Terancam Sanksi FIFA, Bisa Berdampak ke Piala Dunia 2030
M Zulkodri August 02, 2026 03:25 PM

 

BANGKAPOS.COM--Sejumlah pemain Timnas Argentina terancam mendapatkan sanksi disiplin setelah FIFA membuka proses hukum terkait sejumlah insiden yang terjadi dalam rangkaian Piala Dunia 2026.

Potensi sanksi tersebut bahkan disebut-sebut dapat berdampak hingga Piala Dunia 2030.

Namun, hingga kini belum ada keputusan final FIFA yang menyatakan para pemain tersebut pasti akan dilarang tampil pada turnamen empat tahunan berikutnya.

Polemik ini mencuat setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara dunia. La Albiceleste kalah 0-1 dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di New York New Jersey Stadium, 19 Juli 2026.

Spanyol memastikan gelar juara dunia keduanya setelah Ferran Torres mencetak gol kemenangan pada menit ke-106.

Pertandingan tersebut juga diwarnai kartu merah untuk pemain Argentina, Enzo Fernandez, sementara FIFA mencatat Leandro Paredes juga mendapat kartu merah setelah pertandingan.

Namun, perhatian FIFA tidak hanya tertuju pada insiden di dalam pertandingan. Sejumlah keributan yang terjadi setelah peluit akhir juga menjadi bagian dari proses disipliner.

Molina dan Paredes Masuk Proses Disiplin FIFA

FIFA disebut membuka proses disiplin terhadap sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam insiden setelah final.

Nama Nahuel Molina dan Leandro Paredes menjadi sorotan. Keduanya disebut berpotensi menghadapi tuduhan terkait tindakan penyerangan dan perilaku tidak sportif.

Selain dua pemain tersebut, proses disiplin juga disebut menyasar Thiago Almada serta pemain Spanyol Pablo Martín Paez Gavira atau Gavi.

Sementara itu, Roberto Ayala yang merupakan bagian dari staf kepelatihan Argentina juga disebut masuk dalam proses disiplin terkait dugaan insiden dengan pemain Spanyol Dani Olmo.

Jika terbukti bersalah, para pemain dan ofisial tersebut dapat menghadapi sanksi sesuai dengan aturan disiplin FIFA.

Bentuk dan durasi hukuman nantinya akan bergantung pada hasil pemeriksaan serta keputusan badan disiplin FIFA.

Karena proses tersebut masih berjalan, belum dapat dipastikan apakah hukuman yang dijatuhkan nantinya akan berdampak hingga Piala Dunia 2030.

Baca juga: Semifinal PIala Presiden 20262, Big Match Persib vs Persija & Derby Jatim Persebaya vs Arema Membara

Insiden Usai Argentina Kalah dari Spanyol

Keributan terjadi setelah pertandingan final yang berlangsung sengit. Argentina harus menerima kenyataan kehilangan gelar juara dunia setelah kalah dari Spanyol melalui gol Ferran Torres pada masa perpanjangan waktu.

Spanyol tampil dominan sepanjang pertandingan. FIFA mencatat La Roja melepaskan 20 percobaan ke arah gawang Argentina, sementara La Albiceleste hanya memiliki dua percobaan selama 120 menit pertandingan.

Situasi pertandingan semakin sulit bagi Argentina setelah Enzo Fernandez menerima kartu merah pada penghujung waktu normal.

Setelah laga berakhir, ketegangan kembali muncul.

Beberapa pemain dan anggota staf Argentina disebut terlibat dalam keributan dengan pemain Spanyol.

Enam pemain Argentina berpotensi dilarang bermain di Piala Dunia 2030 setelah FIFA mengonfirmasi adanya proses disiplin terhadap mereka.

La Albiceleste gagal mempertahankan gelar mereka setelah kalah di babak perpanjangan waktu dari Spanyol, yang menjadi juara dunia untuk kedua kalinya setelah Ferran Torres mencetak gol penentu kemenangan.

Gelandang Chelsea, Enzo Fernandez, diusir keluar lapangan karena dua pelanggaran konyol, tetapi sejumlah pemain Argentina kehilangan kendali diri setelah peluit akhir dibunyikan dan kini sedang diselidiki atas perilaku mereka tersebut.

Nahuel Molina tertangkap kamera sedang melampiaskan kemarahannya kepada kapten Spanyol, Rodri.

Sementara Leandro Paredes benar-benar kehilangan kendali dan menyerang Eric Garcia dan Gavi.

Paredes terlihat mencekik Garcia dan membanting Gavi ke lantai, tapi sistem informasi komentator FIFA secara keliru melaporkan bahwa ia dikeluarkan dari lapangan.

Insiden mengejutkan lainnya terjadi ketika asisten manajer Argentina, Roberto Ayala, memukul Dani Olmo dalam sebuah keributan.

Beberapa hari kemudian, ia menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya, meskipun bersikeras bahwa itu lebih merupakan dorongan, bukan pukulan."

Olmo tidak menerima permintaan maaf tersebut dan menuduh Ayala berbohong ketika ia memberikan wawancara kepada media Spanyol Diari de Terrassa.

Ketiga pemain yang disebutkan di atas, serta Thiago Almada dan Gavi dari Spanyol, semuanya disebut dalam pernyataan FIFA yang mengonfirmasi bahwa proses disiplin sedang dilakukan atas potensi pelanggaran.

Pernyataan tersebut mengatakan: "Komite Disiplin FIFA telah menerima laporan dari Jaksa Disiplin dan Etika yang ditunjuk mengenai insiden yang terjadi selama final Piala Dunia 2026 dan mengikuti rekomendasi yang terkandung di dalamnya, telah membuka proses disiplin, atas potensi pelanggaran pasal 14 ayat 1 i) Kode Disiplin FIFA (penyerangan), terhadap pemain Argentina Nahuel Molina (dua dakwaan, satu berhasil dan satu percobaan) dan Leandro Paredes (tiga dakwaan) serta wasit Argentina Roberto Ayala (satu dakwaan)."

"Proses disiplin juga telah dibuka atas potensi pelanggaran pasal 14 ayat 1 b) Kode Disiplin FIFA (perilaku tidak sportif) terhadap pemain Argentina Nahuel Molina (satu dakwaan) dan Thiago Almada (satu dakwaan) serta pemain Spanyol Pablo Martín Paez Gavira (satu dakwaan)."

Peristiwa tersebut kemudian menjadi perhatian FIFA dan berujung pada proses disiplin.

Kontroversi Spanduk Las Malvinas

Selain keributan pada final, Argentina juga menghadapi proses terpisah terkait insiden yang terjadi setelah kemenangan atas Inggris di semifinal.

Sejumlah pemain Argentina terlihat membawa pesan bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas", yang berkaitan dengan klaim Argentina atas Kepulauan Falkland atau Malvinas.

Pesan tersebut memiliki sensitivitas politik dan sejarah karena berkaitan dengan sengketa kedaulatan antara Argentina dan Inggris.

Proses terpisah juga dibuka terkait pengibaran bendera Falklands menyusul kemenangan di semifinal atas Inggris.

Spanduk itu memuat kata-kata 'Las Malvinas Son Argentinas', yang diterjemahkan menjadi 'Kepulauan Falkland adalah Argentina', merujuk pada konflik tahun 1982.

Total korban jiwa mencapai 907 orang, 649 tentara Argentina, 255 pejuang Inggris, dan tiga warga sipil, saat Argentina menyerah.

Sejak saat itu, Argentina masih berulang kali mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Falkland dan beberapa pemain mengangkat pesan politik tersebut setelah mengalahkan Inggris di Atlanta.

FIFA sebelumnya juga pernah menjatuhkan sanksi kepada Asosiasi Sepak Bola Argentina terkait penggunaan pesan serupa. 

Karena itu, kemunculan kembali pesan tersebut dalam perayaan kemenangan Argentina menjadi perhatian badan sepak bola dunia.

FIFA mendenda Argentina pada tahun 2014 ketika seluruh skuad berpose dengan spanduk tersebut, dan proses disiplin dibuka terkait pesan terbaru itu.

Pernyataan tersebut mengatakan: "Komite Disiplin FIFA telah membuka proses hukum terhadap Asosiasi Sepak Bola Argentina atas potensi pelanggaran pasal 13 ayat 2 c) (Menggunakan acara olahraga untuk demonstrasi yang bukan bersifat olahraga), pasal 14 ayat 5 (Perilaku buruk tim), pasal 15 (Diskriminasi dan pelecehan rasis) dan pasal 17 (Ketertiban dan keamanan di pertandingan) dari Kode Disiplin FIFA sehubungan dengan nyanyian dan gestur diskriminatif, keterlambatan kick-off, kegagalan untuk mematuhi protokol pertandingan dan keamanan, tampilan pesan yang tidak pantas oleh tim dan penonton, serta pelemparan benda oleh penonton terkait dengan beberapa pertandingan tim perwakilan Argentina di Piala Dunia FIFA 2026."

Sejumlah pemain yang terlihat memegang spanduk tersebut dilaporkan antara lain Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Giovani Lo Celso.

Proses yang berkaitan dengan insiden tersebut tidak secara otomatis berarti para pemain akan mendapatkan larangan bermain.

FIFA masih harus menyelesaikan pemeriksaan dan menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap aturan disiplin yang berlaku.

Mengapa Bisa Berdampak ke Piala Dunia 2030?

Potensi larangan bermain pada Piala Dunia 2030 menjadi perhatian karena sanksi disiplin FIFA, tergantung jenis dan durasinya, dapat berlaku pada pertandingan internasional di masa mendatang.

Namun, sampai saat ini belum ada keputusan final yang menyatakan enam pemain Argentina tersebut akan absen dari Piala Dunia 2030.

Jika FIFA nantinya menjatuhkan hukuman berupa larangan bertanding dalam jangka panjang dan hukuman tersebut mencakup kompetisi internasional, barulah kemungkinan dampaknya terhadap Piala Dunia 2030 dapat diperhitungkan.

Argentina sendiri memiliki posisi khusus dalam Piala Dunia 2030.

Turnamen tersebut akan menjadi edisi peringatan 100 tahun Piala Dunia dan Argentina termasuk negara yang dijadwalkan menjadi salah satu lokasi pertandingan.

Dengan demikian, jika hukuman disiplin dijatuhkan dan masa berlakunya mencakup periode Piala Dunia 2030, sejumlah pemain Argentina berpotensi terkena dampaknya.

Namun, semua itu masih bergantung pada hasil proses disiplin FIFA.

Argentina Kehilangan Gelar Dunia

Kontroversi disiplin tersebut menjadi babak tambahan setelah Argentina gagal mempertahankan trofi Piala Dunia.

La Albiceleste sebelumnya datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara bertahan.

Mereka berhasil mencapai final setelah melewati perjalanan panjang di turnamen, tetapi harus mengakui keunggulan Spanyol.

Ferran Torres menjadi pahlawan La Roja setelah mencetak gol penentu pada menit ke-106. Gol tersebut memastikan Spanyol menjadi juara dunia untuk kedua kalinya.

Kini, perhatian tertuju pada keputusan FIFA terhadap para pemain dan pihak yang tengah menjalani proses disiplin.

Jika sanksi berat benar-benar dijatuhkan, bukan tidak mungkin hukuman tersebut memengaruhi perjalanan sejumlah pemain Argentina menuju Piala Dunia 2030.

Namun, untuk saat ini, status mereka masih sebatas menghadapi proses disiplin dan belum ada keputusan final mengenai larangan tampil di turnamen mendatang.

Superballa.bolasport.com/FIFA.com/Bangkapos.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.