TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan awal penyebab insiden yang membuat ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan hasil investigasi sementara, dugaan mengarah pada beberapa bahan makanan yang digunakan dalam menu MBG serta proses memasak yang dilakukan terlalu jauh sebelum waktu distribusi kepada siswa.
Kepala BGN, Sudaryono, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Sejumlah sampel makanan telah dikirim untuk diuji oleh Dinas Kesehatan.
"Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, seperti daun singkong, bumbu rendang dan lainnya yang masih kami cek melalui uji laboratorium. Kami membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh hari kerja untuk mengetahui hasilnya," kata Sudaryono saat meninjau korban di Semarang.
Baca juga: Dinkes Kota Semarang Tangani Dugaan Keracunan Pangan di SMK Negeri 6
Baca juga: BGN: Daun Singkong Hingga Bumbu Rendang Diduga Jadi Penyebab Siswa SMKN 6 Semarang Keracunan MBG
Baca juga: Sudaryono Turun Langsung Investigasi Keracunan Massal MBG di SMKN 6 Kota Semarang
Selain faktor bahan makanan, BGN juga menemukan indikasi bahwa proses memasak dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan ke sekolah.
"Sejauh ini dugaan kami berasal dari bahan-bahan tersebut dan kemungkinan proses memasaknya dilakukan jauh lebih awal," ujarnya.
Insiden dugaan keracunan ini dilaporkan terjadi pada Jumat (31/7/2026). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Semarang, sebanyak 707 orang yang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru mengalami gejala gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Mayoritas korban mengeluhkan mual, muntah, diare, pusing, dan gangguan pencernaan lainnya. Dari ratusan orang yang terdampak, sebagian besar hanya menjalani penanganan ringan, sementara belasan lainnya sempat dirawat di puskesmas maupun rumah sakit.
Sudaryono menyebut jumlah pasien yang sempat menjalani perawatan relatif sedikit dibanding total penerima makanan MBG yang terdampak.
"Dari sekitar 700 lebih yang terdampak, yang dirawat sekitar 13 orang. Ada yang dirawat di rumah sakit dan ada yang di puskesmas. Alhamdulillah saat kami kunjungi kondisinya sudah membaik," katanya.
Salah satu rumah sakit yang menangani korban adalah RS Permata Medika Semarang. Pemberi Informasi dan Pelayanan Pengaduan (PIPP) RS Permata Medika, Bayu Widhiasmara, mengatakan pihaknya sempat menerima dua pasien yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Satu pasien diperbolehkan pulang setelah menjalani pemeriksaan, sedangkan satu pasien lainnya harus menjalani rawat inap karena mengalami mual dan muntah yang cukup berat.
"Kami menerima dua pasien. Satu pasien rawat jalan dan langsung pulang, sementara satu pasien harus menjalani rawat inap karena mengalami mual dan muntah yang tidak dapat ditahan," ujar Bayu.
Menurutnya, gejala yang dialami pasien tidak muncul sesaat setelah makan, melainkan baru dirasakan beberapa jam kemudian.
"Informasi dari tim medis, gejalanya muncul beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut," katanya.
Kondisi pasien yang sempat dirawat inap kini juga telah membaik dan diperbolehkan pulang pada Minggu (2/8/2026).
Sebagai langkah evaluasi dan pencegahan, BGN mempercepat penerapan sistem digital di seluruh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia. Sistem ini akan mencatat seluruh proses produksi makanan secara detail, mulai dari persiapan bahan, waktu memasak, menu yang dibuat hingga penggunaan bumbu.
Menurut Sudaryono, sistem tersebut nantinya memungkinkan seluruh proses produksi makanan dipantau secara real time sehingga setiap tahapan dapat diawasi dengan lebih ketat.
"Kami sedang mempercepat penggunaan sistem digital. Jadi kapan bahan mulai dipotong, kapan dimasak, menu apa yang dibuat, hingga bumbu yang digunakan semuanya akan tercatat dan termonitor," ujarnya.
Sementara itu, BGN juga telah menjatuhkan sanksi penghentian sementara operasional SPPG Karangturi Semarang yang menjadi pemasok makanan dalam kejadian tersebut.
Operasional dapur dihentikan sementara hingga seluruh proses investigasi selesai dan hasil laboratorium keluar.
Selain penghentian sementara, pihak pengelola dapur dan pihak terkait juga telah menerima surat peringatan sebagai bagian dari evaluasi atas insiden tersebut.
BGN menegaskan keselamatan penerima manfaat Program MBG menjadi prioritas utama sehingga seluruh temuan investigasi akan menjadi dasar perbaikan sistem ke depan. (Franciskus Ariel)