Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk membangun konsorsium sebagai wadah bersama untuk menjawab persoalan pembangunan daerah.
"Jika bicara tentang tata kelola pendidikan tinggi dari tahun ke tahun, saya kira memang ada dinamika positifnya. Tetapi ada satu hal yang perlu menjadi pemikiran kita bersama, yakni apakah perguruan tinggi kita ini dapat memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan?" kata Wamendiktisaintek dalam keterangan di Jakarta, Minggu.
Wamen Fauzan menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu terus mengevaluasi sejauh mana kehadirannya dirasakan masyarakat. Ia menilai pendidikan tinggi merupakan aset strategis karena kampus menjadi ruang utama pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, kapasitas tersebut perlu diarahkan pada persoalan nyata yang dihadapi daerah.
Secara khusus, Fauzan menyoroti perguruan tinggi di wilayah Riau dan Kepulauan Riau (Kepri). Menurut dia, kedua wilayah tersebut memiliki modal pembangunan yang kuat sekaligus tantangan yang khas.
Perekonomian Riau tercatat sebagai yang terbesar keenam secara nasional, sementara Kepri mencatat pertumbuhan tertinggi ketiga di Indonesia pada Triwulan III 2025 dengan Indeks Pembangunan Manusia 80,53 berada pada urutan ketiga tertinggi nasional. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut selaras dengan penyerapan tenaga kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka Kepri berada pada 6,94 persen per Februari 2025.
Tantangan lain berupa kesenjangan antarwilayah. Di Riau, tingkat kemiskinan Kepulauan Meranti tercatat 23,15 persen berbanding Kota Dumai 3,14 persen. Di Kepri, kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Natuna sebesar 8,06 persen, sementara Kota Batam 4,03 persen.
Pada bidang kesehatan, prevalensi stunting di Riau meningkat dari 13,6 persen pada 2023 menjadi 20,1 persen pada 2024, melampaui ambang batas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Wamendiktisaintek menilai potensi dan sekaligus tantangan sebesar itu tidak dapat diselesaikan oleh satu perguruan tinggi secara sendiri-sendiri.
Menurutnya, berbagai kepakaran, program, sumber daya, dan fasilitas kampus dapat dihimpun melalui konsorsium perguruan tinggi agar bekerja pada sasaran yang sama.
"Konsorsium itu sebenarnya adalah membangun satu ekosistem untuk memajukan pendidikan tinggi dan sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan daerah," ujar Wamen Fauzan menjelaskan.
Ia mencontohkan konsorsium perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menghimpun 27 perguruan tinggi untuk menangani stunting dan kemiskinan.
Melalui KKN Tematik Pendampingan Keluarga Stunting, ribuan mahasiswa diterjunkan ke desa-desa dengan pembinaan dosen, sekaligus menghasilkan riset yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah.
"Risetnya mengambil problem yang ada di daerah. Sehingga mereka lulus itu, menyerahkan disertasinya dan dapat menjadi rekomendasi dasar pembuatan kebijakan daerah," tutur Wamendiktisaintek.





