Januari-Juli 2026, Sebaran Rubella di Bantul Meningkat, Dinkes Catat 35 Kasus
Yoseph Hary W August 02, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mencatat kasus campak Jerman atau rubella mengalami peningkatan mencapai 35 kasus selama awal Januari hingga 30 Juli 2026.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul, Samsu Aryanto, menyebut, pada tahun sebelumnya hanya ditemukan 14 kasus rubella.

"Memang terjadi kenaikan kasus tapi tidak ada kaitan secara epidemiologi," kata Samsu, Minggu (2/8/2026).

Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap mengantisipasi sebaran dan memperhatikan ciri-ciri apabila terpapar rubella. Di mana, ciri-ciri apabila terpapar rubella yakni demam dan ruam makulopapular.

Kasus ini kebanyakan terjadi pada usia balita. Pasalnya, kasus rubella dapat terjadi dikarenakan belum adanya kekebalan yang optimal pada anak, kontak erat dengan penderita, dan daya tahan tubuh lemah.

Sebagai antisipasi, setidaknya anak tetap mendapatkan imunisasi lengkap berupa vaksin Measles Rubella (MR) sesuai jadwal.

"Pemberian vaksin MR sesuai jadwal usia anak yakni sembilan bulan, 18 bulan, dan saat kelas satu sekolah dasar," ujar Samsu.

Di lain sisi, Dinkes Bantul juga telah melakukan penyuntikan vaksin MR dengan sasaran 8.410 bayi, 9.418 anak Bawah dua tahun atau baduta, dan 12.710 anak Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).

Tahun ini, proses vaksinasi ini dilakukan dengan didistribusikan ke masing-masing Puskesmas sebelum pelaksanaan BIAS tahap satu yang berlangsung pada Agustus. Lalu, vaksin untuk BIAS tahap kedua akan dilaksanakan pada November.

"Vaksin rubella ini penting karena dapat melindungi ibu hamil yakni mencegah ibu hamil tertular virus yang dapat berdampak fatal pada janin," tuturnya.

Selain itu, vaksin MR dinilai dapat mencegah sindrom Rubella Kongenital atau menghindari risiko bayi lahir dengan kelainan jantung, gangguan pendengaran, atau katarak bawaan.

Vaksin rubella juga disebut-sebut dapat membangun kekebalan kelompok yakni mengurangi penyebaran virus secara luas di dalam lingkungan masyarakat.

"Namun begitu, masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan sering mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, etika batuk, hingga makan makanan bergizi," imbaunya.(nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.