Jejak Sejarah 1 Abad Eks RS Kadipolo: dari Klinik Keraton, Sekolah Perawat hingga Mes Arseto Solo
Faiz Fadhilah August 02, 2026 04:42 PM

- Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan perjalanan panjang sejarah kota.

Temboknya mungkin mulai kusam, sebagian bangunannya pun kini tak lagi digunakan.

Namun, bangunan yang berada di Jalan Dr Radjiman, Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah itu pernah menjadi salah satu pusat pelayanan kesehatan penting di Solo.

Bangunan tersebut adalah Rumah Sakit Kadipolo.

Lebih dari satu abad lalu, tepatnya pada 1915, rumah sakit ini dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X.

Sebelum dikenal sebagai Rumah Sakit Kadipolo, bangunan ini bernama Panti Rogo.

Panti Rogo merupakan klinik milik Keraton Surakarta yang secara khusus digunakan untuk merawat para abdi dalem.

Seiring berjalannya waktu, fungsi bangunan tersebut berkembang.

Panti Rogo kemudian berubah menjadi Rumah Sakit Kadipolo dan mulai memiliki peran yang lebih luas dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

Rumah sakit ini bahkan pernah dipimpin oleh salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia, yakni dr Radjiman Wedyodiningrat, seorang dokter pribumi yang kelak dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan nasional.

Di balik bangunannya yang masih menyisakan arsitektur bergaya Belanda, Kadipolo juga menyimpan cerita tentang perjuangan menghadapi wabah.

Rumah sakit ini pernah menjadi salah satu garda terdepan dalam menangani wabah pes yang merebak di wilayah tersebut.

Namun, perjalanan Kadipolo sebagai rumah sakit kerajaan perlahan berubah.

Pada 1948, pengelolaan rumah sakit mulai diambil alih pemerintah.

Jika sebelumnya fasilitas tersebut diperuntukkan bagi abdi dalem, masyarakat umum kemudian dapat memperoleh pelayanan kesehatan di tempat ini.

Hingga pada 1960, status Rumah Sakit Kadipolo resmi diserahkan kepada pemerintah daerah.

Sejak saat itu, Kadipolo semakin memiliki peran sebagai salah satu fasilitas kesehatan publik di Kota Solo.

Tetapi masa kejayaan tersebut tidak berlangsung selamanya. Memasuki era 1970-an, fungsi pelayanan kesehatan di Kadipolo mulai dihentikan.

Pasien dan berbagai peralatan medis dipindahkan secara bertahap ke rumah sakit lain, salah satunya Rumah Sakit Mangkubumen.

Pemindahan pasien dari Kadipolo dimulai pada 1 Agustus 1976 dan berakhir pada April 1977.

Berakhirnya proses pemindahan itu sekaligus menandai berhentinya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Kadipolo.

Namun, kisah bangunan ini belum selesai. Setelah sempat kosong, bangunan Kadipolo kembali digunakan.

Pada 24 April 1977, tempat ini difungsikan sebagai Sekolah Pendidikan Keperawatan atau SPK Kadipolo.

Bangunan yang masih dianggap memadai untuk kegiatan belajar mengajar membuat kompleks tersebut kembali dipenuhi aktivitas.

Namun, beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1982, SPK Kadipolo disinyalir berpindah ke kawasan Mojosongo, Jebres, Surakarta.

Bangunan itu kembali mengalami masa kosong. Hingga kemudian, sejarah Kadipolo berbelok ke dunia yang sama sekali berbeda.

Pada sekitar 1980 hingga 1998, kompleks tersebut digunakan sebagai mes Klub Bola Arseto Solo.

Bagi pencinta sepak bola Indonesia, nama Arseto bukanlah nama asing.

Klub yang didirikan oleh putra Presiden Soeharto, Sigit Harjojudanto sekitar 1978 itu pernah menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola profesional Indonesia pada era 1980-an hingga 1990-an.

Arseto tercatat pernah meraih sejumlah prestasi. Di antaranya juara Piala Liga 1985, juara Invitasi Perserikatan Galatama, hingga juara Galatama 1992.

Arseto bahkan sempat membawa nama Indonesia ke kompetisi sepak bola level Asia pada 1993.

Sejumlah pemain besar juga pernah memperkuat klub tersebut. Mulai dari Ricky Yacobi, Rochy Putiray, Agung Setyabudi, I Komang Putra, hingga Bambang Nurdiansyah.

Yang menarik, tempat para pemain Arseto beristirahat ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih tua.

Kamar tidur yang digunakan para pemain disebut merupakan bekas bangsal pasien, ruang perawat, hingga ruang dokter, ketika bangunan tersebut masih berfungsi sebagai Rumah Sakit Kadipolo.

Bangunan yang dahulu menjadi tempat merawat pasien pun berubah menjadi bagian dari mini training center klub sepak bola profesional.

Di tempat yang sama, jejak dunia kesehatan dan sepak bola seolah bertemu.

Namun, saat krisis ekonomi dan runtuhnya rezim pada 1998 turut menjadi titik balik bagi Arseto Solo. Klub tersebut akhirnya bubar.

Sejak saat itu, bangunan bekas Rumah Sakit Kadipolo kembali kehilangan aktivitas. Perlahan, tempat ini menjadi kosong dan terbengkalai, hingga akhirnya ditetapkan menjadi Cagar Budaya pada 2012.

Meski demikian, tidak seluruh kawasan benar-benar mati.

Lapangan yang berada di kompleks Kadipolo hingga kini masih dimanfaatkan untuk kegiatan SSB Ksatria Solo.

Ketika Tribun-Video.com mendatangi lokasi pada Rabu (29/4/2026), suasana di sekitar lapangan masih terasa hidup.

pada sore itu, terdengar suara anak-anak berlatih sepak bola.

Para orangtua yang mengantar dan menunggu anak-anak mereka di pinggir lapangan pun ikut meramaikan kawasan tersebut.

Tetapi ketika matahari mulai tenggelam, suasana berubah. Lapangan perlahan sepi.

Bangunan tua yang pernah menjadi rumah sakit, sekolah keperawatan, hingga mes pemain sepak bola itu kembali sunyi dan gelap.

Di balik dinding-dinding tuanya, tersimpan lebih dari satu abad cerita.

Tentang Keraton, wabah pes, pelayanan kesehatan, pendidikan keperawatan, hingga kejayaan sepak bola Indonesia.

Kini, Rumah Sakit Kadipolo mungkin tak lagi menjadi tempat orang datang untuk berobat.

Namun bangunan tua itu masih berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang Kota Solo.

Sebuah bangunan yang pernah hidup dalam berbagai zaman, sebelum akhirnya perlahan ditinggalkan waktu.(*)

Program: Local Experience
Editor: Faiz Fadhilah

#rs #kadipolo #arseto #solo #drradjiman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.