BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sosok Faturhadi mendadak tuai sorotan setelah berhasil diterima di tiga institusi bergengsi sekaligus.
Yakni Akademi Angkatan Laut (AAL), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Curtin University Australia melalui program beasiswa.
Namun, dari ketiga institusi bergengsi itu, Faturhadi memilih Akademi Angkatan Laut (AAL).
Anak pasangan Fahlepi dan Heni Kusuma Dewi asal Desa Nibung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung memutuskan melanjutkan pendidikan di AAL.
Alasannya cuma satu untuk mewujudkan cita-citanya mengabdi kepada bangsa.
Baca juga: Profil Kombes Pol Norul Hidayat Kepala SPN Polda Babel, Dari Zero Pungli Peraih Hoegeng Awards 2026
Bagi sebagian orang, kesempatan kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh mungkin menjadi impian terbesar.
Namun bagi lulusan SMA Negeri 1 Pangkalpinang, ada panggilan yang terasa lebih kuat dibandingkan semua itu, mengabdi kepada bangsa.
Ia memilih melepaskan bangku kuliah di Australia maupun UGM untuk melanjutkan pendidikan sebagai Taruna AAL.
Keputusan itu bukan semata-mata tentang memilih profesi, melainkan tentang menuntaskan mimpi yang telah lama hidup di dalam keluarganya.
"Saya sempat ditanya saat seleksi, 'Bapaknya jenderal ya?' Saya jawab, 'Bapak saya petani'. Tapi dari ladang itulah kami belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan doa," tutur Fatur kepada Bangkapos.com, Sabtu (1/8/2026).
Kalimat sederhana itu menjadi gambaran perjalanan hidupnya.
Ayahnya, Fahlepi, setiap hari bekerja di kebun agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Sementara sang ibu, Heni Kusuma Dewi, selalu menjadi tempat pulang ketika semangat mulai goyah, menguatkan anaknya melalui doa yang tak pernah putus.
Baca juga: Baru Setahun Menjabat, Nasib Terbaru Hellyana Divonis 4 Bulan, Bakal Sidang Lagi Kasus Ijazah Palsu
"Alhamdulillah, semua kerja keras tidak akan menghianati hasil. Selain belajar akademik persiapn fisik juga sangat penting, saya latihan tanpa henti, waktu adalah berhaga untuk latihan terus," katanya.
Di balik keberhasilan Fatur, tersimpan pula kisah perjuangan sang kakak, Yudies Fadilah.
Selama tiga tahun berturut-turut, Yudies berusaha mengikuti seleksi Akademi Militer.
Berbagai tahapan telah dilewati, tetapi keberuntungan belum berpihak kepadanya.
Setelah akhirnya memilih melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, sang kakak justru menjadi orang pertama yang mendorong adiknya mengejar cita-cita yang belum sempat ia raih.
Mulai dari melengkapi berkas administrasi, melatih fisik, hingga mendampingi persiapan keberangkatan ke Magelang, hampir seluruh proses dijalani bersama.
Sementara itu, sang ayah tetap melanjutkan pekerjaannya di kebun.
Baca juga: Update Klasemen Grup A dan Grup B Piala AFF 2026, Thailand Gusur Malaysia, 3 Timnas Resmi Tersingkir
Ia memilih terus menanam dan memanen hasil kebun agar perjuangan anak-anaknya tidak pernah terhenti hanya karena keterbatasan biaya.
Bagi keluarga sederhana itu, keberhasilan Fatur bukan sekadar diterima di akademi militer.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang mereka rawat selama bertahun-tahun.
Perjalanan Fatur menuju AAL juga tidak ditempuh dengan cara instan.
Ia membangun disiplin sejak jauh hari. Setiap hari latihan fisik dilakukan secara konsisten. Belajar menjadi rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan. Ibadah dijaga, begitu pula sikap hormat kepada orang tua, guru, dan siapa pun yang lebih tua.
Bahkan saat mengikuti tahapan seleksi Pantukhir di Akademi Militer Magelang, Fatur memanfaatkan setiap waktu luang untuk terus belajar.
"Saya tetep membaca materi pelajaran di sela-sela aktivitas barak. Ketika tidak belajar, saya memilih membantu menyapu halaman barak atau kembali berlatih fisik agar tubuh saya tetap prima menghadapi seluruh rangkaian seleksi," pungkasnya.
Baca juga: Daftar Harga Token Listrik Rumah Tangga Terbaru Resmi Berlaku 1-7 Agustus 2026
Baginya, tidak ada waktu yang boleh terbuang sia-sia.
Hobi bermain sepak bola dan menghabiskan waktu di perpustakaan menjadi cara Fatur menjaga keseimbangan antara fisik dan pengetahuan.
Ketekunan itulah yang akhirnya mengantarkannya melewati salah satu seleksi paling ketat di Indonesia.
Di rumah sederhana mereka, kabar kelulusan itu disambut haru.
Fahlepi mengaku tidak pernah membayangkan anak seorang petani mampu diterima di tiga institusi bergengsi sekaligus.
Namun sejak kecil, ia selalu mengajarkan bahwa keadaan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
"Bapak hanya ingin anak-anak punya pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Kami mungkin tidak bisa memberikan kemewahan, tetapi kami selalu berusaha memberikan doa, kejujuran, dan semangat untuk bekerja keras. Hari ini Allah membalas semua perjuangan itu," ujar Fahlepi.
Sang ibu pun tak mampu menyembunyikan rasa bangganya.
Menurut Heni, keberhasilan Fatur bukan hanya milik keluarga mereka, tetapi juga menjadi bukti bahwa anak-anak dari desa mampu bersaing dengan siapa pun selama memiliki kemauan belajar dan tidak mudah menyerah.
Sementara itu, sang kakak, Yudies Fadilah, menitipkan pesan yang sederhana tetapi penuh makna kepada adiknya.
"Kami titipkan Fatur. Jaga nama baik keluarga, almamater, dan bendera Merah Putih. Ini bukan tentang bintang di pundak. Ini tentang bintang di mata seorang anak petani yang tidak pernah padam."
Kisah Fatur menjadi pengingat bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari keluarga berada ataupun fasilitas yang serba lengkap.
Kadang, jalan itu justru berawal dari ladang yang setiap hari digarap seorang ayah, dari doa seorang ibu yang tidak pernah lelah, dan dari mimpi seorang kakak yang akhirnya diteruskan oleh sang adik.
Kini, langkah Fatur menuju Akademi Angkatan Laut menjadi kebanggaan baru bagi Bangka Belitung.
Bukan semata karena ia berhasil menembus salah satu institusi pendidikan militer paling bergengsi di Indonesia, melainkan karena ia membuktikan bahwa anak seorang petani pun mampu berdiri sejajar, bahkan memilih mengabdi kepada negeri ketika kesempatan belajar di luar negeri telah berada di depan mata.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)