Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE -- Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II siap membersihkan jalur irigasi persawahan rata Bena, sebagai langkah antisipasi kekeringan yang diprediksi akan terjadi di NTT Tahun 2026 imbas dari El Nino Gozilah.
Pembersihan jaluran irigasi diawali dengan peninjauan langsung kondisi irigasi pada irigasi BB5, di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan,Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Sabtu (1/8/2026) kemarin.
Baca juga: Dorong Ekonomi Umat, Paroki HTM Oeekam Buka Pusat Pelatihan Pertanian Organik Terpadu
Hadir langsung dalam peninjauan tersebut, Plt. Kepala Balai Besar wilayah Nusa Tenggara dua, Frangky Welkis bersama jajaran, didampingi Kadis TPHP TTS, Jacob Benu, Manager Irigasi Bena serta turut hadir beberapa petani.
Hasil dari tinjauan tersebut, diketahui bahwa kondisi jalur irigasi sebagian besar terdapat material sedimen yang berdampak pada penurunan debit air yang mengalir. Beberapa dinding irigasi juga terlihat ada patahan dan perlu perbaikan.
Plt. Kepala Balai Besar wilayah Nusa Tenggara dua, Frangky Welkis menyampaikan bahwa pihaknya mendapatkan mandat dari pemerintah pusat untuk menyisir, mencari dan mengeksekusi setiap laporan terkait kekeringan baik itu terhadap air bersih maupun irigasi.
"Kita dapat informasi dari BMKG bahwa kita akan mengalami kekeringan yang berkepanjangan. Kebetulan hari ini kita dapat informasi ada potensi gagal tanam di Irigasi Bena, nah untuk malam ini juga kita cek ternyata ada beberapa permasalaha".
"Yang pertama adalah ada saluran yang tersumbat sehingga malam ini juga alat akan turun dan kita bersihkan agar air mengalir ke persawahan 3.515 hektar persawahan," jelasnya di Desa Linamnutu, Sabtu (1/8/2026) malam.
Kepala BBWS Nusa Tenggara II, Frangky melanjutkan bahwa berdasarkan hasil tinjauan ini juga ada permasalahan yang lain yakni saluran yang hampir jebol.
"Beberapa petani sampaikan di MT (musim tanam) 2 mereka tidak akan tanam. Tetapi kita serahkan kembali ke pertanian untuk memastikan kembali apakah benar atau tidak. Harapan kami dengan kondisi air yang ada petani tetap melakukan aktivitas tanam walaupun kita tahu kedepan debitnya akan semakin berkurang," tegasnya.
Frangky juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengukur Debit air disungai pada (27/7) lalu. Hasilnya Debit air yang diukur hanya 4,1 meter⊃2; per detik. Sedangkan air itu menjadi rebutan bagi daerah irigasi yang ada serta pengambilan air secara bebas.
"Nah tentu dengan itu harus kita perhitungkan baik-baik supaya yang ditargetkan oleh kadis pertanian akan ada penanaman lebih dari 500-600 hektar itu bisa terlayani sampai dengan panen," ungkapnya.
Adapun berdasarkan informasi yang diperoleh, saat ini, Minggu (2/8/2026), proses pembersihan masih terus dipersiapkan. Alat berat telah berada di lokasi dan siap untuk melakukan pembersihan pada saluran irigasi yang terdapat sedimentasi tersebut. (any)