Berawal dari Keresahan, KSM Sampurno Asih Kulon Progo Pionir Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Yoseph Hary W August 02, 2026 11:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Sampah saat ini menjadi masalah yang cukup pelik di masyarakat. Pemerintah pun kini mendorong masyarakat untuk ikut mengolah sampah demi menekan lonjakan timbulan sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sampurno Asih di Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo pun hadir sebagai respons atas tuntutan pemerintah. Mereka kini jadi salah satu Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis masyarakat. 

Ketua KSM Sampurno Asih, Suryono Suryo Sumarto bahkan menyebut KSM Sampurno Asih menjadi pionir dari TPST berbasis masyarakat.

"Bisa dikatakan Sampurno Asih ini merupakan KSM pertama di Kulon Progo bahkan DIY," kata Suryono ditemui pada Kamis (30/07/2026) lalu.

Berawal dari keresahan

Pembentukan KSM Sampurno Asih diinisiasi oleh Lurah Pengasih, Budi Hartono. Ia saat itu resah melihat semakin tingginya sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, namun kemampuan pengolahannya malah semakin terbatas.

Menurut Suryono, KSM Sampurno Asih berdiri pada September 2011, namun baru aktif pada Maret 2012 setelah pengurusnya terbentuk. Pembentukan KSM ini awalnya juga menghadapi beberapa kendala.

"Awal pertama berdiri baru ada 90 anggota yang jadi pelanggan, saat itu biaya operasional juga masih nombok," tuturnya.

Namun kendala yang ada tidak serta-merta membuat Budi sebagai lurah menyerah. Ia pun terus memberikan pendampingan pada warga sampai mampu bertahan dan berkembang hingga sejauh ini.

KSM Sampurno Asih kini telah melayani lebih dari 2 ribu pelanggan, meliputi rumah tangga, lembaga, bahkan instansi pemerintahan. Setiap harinya, sampah yang masuk bisa mencapai 9 ton, ditangani oleh 17 orang tenaga.

"Biaya langganan untuk rumah tangga sebesar Rp 35 ribu per bulan, kalau untuk instansi biayanya tergantung dari volume sampah yang diangkut," jelas Suryono.

Pengangkutan sampah mengandalkan 4 armada, yang berkeliling sejak pagi hari. Sampah yang masuk kemudian diolah, untuk organik mengandalkan maggot sedangkan yang anorganik diolah menggunakan mesih pencacah.

Jadi pupuk organik, retribusi ke pemkab capai Rp100 juta sebulan

KSM Sampurno Asih turut berfungsi sebagai Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Sampah yang berhasil diolah kemudian dimanfaatkan kembali untuk berbagai hal, seperti pupuk untuk organik atau didaur ulang untuk anorganik yang bisa dijual dan menambah pendapatan.

"Retribusi dari KSM Sampurno Asih ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo setidaknya bisa mencapai Rp 100 juta dalam sebulan," ungkap Suryono.

Ia mengatakan peran KSM Sampurno Asih dalam mengolah sampah rupanya memberikan banyak manfaat positif. Terutama untuk kebersihan dan kesehatan lingkungan masyarakat.

Warga merasakan manfaatnya

Warga setempat pun ikut merasakan manfaatnya secara ekonomi. Sebab mereka ikut terlibat dalam pengelolaan sampah di KSM Sampurno Asih, baik sebagai tenaga maupun dalam menjual hasil daur ulang sampah yang telah diolah di sana.

"Adanya KSM seperti Sampurno Asih ini mampu mengatasi masalah sampah di masyarakat yang ke depan mungkin akan semakin berat," kata Suryono.

Salah satu warga yang ikut merasakan manfaat KSM Sampurno Asih adalah Yuni Astuti (40). Ibu 2 anak asal Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih ini baru bekerja 3 bulan di sana.

Aroma tak sedap dari sampah yang disetor masyarakat tak membuatnya mundur. Ia justru merasa pekerjaannya saat ini seakan menjadi kesempatan satu-satunya yang tersedia bagi dirinya yang kini dianggap sudah berumur di dunia kerja pada umumnya.

"Bekerja di sini tidak dibatasi mau umur berapa, dan bisa bekerja di sini sampai umur berapa pun," ujar Yuni.(alx)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.