Kisah Pilu Edy Supryanto, Tolak Lapor Polisi Usai 43 Kambing Mati Terbakar, Rugi Lebih Rp200 Juta
Rusaidah August 03, 2026 12:03 AM

 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG -- Kisah pilu menghampiri Edy Supryanto setelah kandang ternak miliknya rata dengan tanah usai insiden kebakaran hebat di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, Minggu (2/8/2026). 

Insiden yang menghanguskan lahan seluas 15 x 20 meter tersebut mengakibatkan 43 kambing mati terpanggang dengan total kerugian diperkirakan menembus angka Rp200 juta lebih. 

Dengan raut wajah tenang dan sikap santai, Supri pun mengisahkan peristiwa memilukan yang menghampirinya saat diajak bincang tim Posbelitung.co, Minggu (2/8/2026).

Supri menyambut kedatangan wartawan meski baru saja mengalami musibah besar yang menghancurkan usaha peternakan kambing yang dirintisnya dari nol.

“Ngopi dulu bang, santai. Habis itu baru kita berangkat ke kandang,” ujar Supri.

Baca juga: Jejak Sinyal HP Satpam Waduk Jatiluhur Tewas Terborgol, Bawa Uang Linmas, Borgol Diduga Milik Pelaku

Sekitar pukul 14.00 WIB, perjalanan menuju lokasi peternakan di kawasan hutan Dusun Rasau dimulai. 

Akses menuju lokasi cukup sulit dengan jalan tanah berpasir dan bergelombang yang harus ditempuh menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di lokasi, pemandangan memilukan langsung terlihat. 

Kandang kayu beratap seng yang sebelumnya menjadi tempat puluhan kambing Jawarandu dipelihara kini telah rata dengan tanah.

Yang tersisa hanyalah hamparan tanah pasir menghitam akibat kobaran api. 

Beberapa tiang pancang tampak hangus berdiri, sementara lembaran seng berserakan di sekitar area yang terdampak kebakaran seluas kurang lebih 15 x 20 meter.

Suasana semakin menyayat hati ketika terlihat bangkai-bangkai kambing yang hangus terpanggang masih berserakan di sekitar lokasi.

Tanpa banyak bicara, Supri mengumpulkan satu per satu bangkai ternaknya menggunakan gerobak dorong roda tiga untuk dibersihkan dari area kandang.

Baca juga: Sosok Faturhadi, Anak Petani Bangka Tolak UGM dan Beasiswa Australia, Pilih AAL Demi Bela Negara

Kemudian, Supri pun duduk beristirahat di pinggiran lahan bekas kandang sebelum akhirnya mulai menjelaskan kronologi musibah yang menimpanya itu.

Supri mengisahkan, dirinya baru mengetahui kondisi kandangnya telah musnah sekitar pukul 07.00 WIB. 

Dimana saat itu ia hendak memberikan pakan.

"Kalau untuk tahunya itu yang jelas pagi tadi jam 7, waktu mau perawatan dan kasih makan. Ternyata sudah rata dengan tanah begini, ndak ada lagi tanda percikan api, tinggal sisa asap," ujar Supri. 

Ia menjelaskan bahwa lokasi peternakan yang jauh di tengah area hutan membuat tidak ada seorang pun warga yang melihat secara langsung momen berkobarnya api pada Sabtu dini hari.

Biasanya, menurut cerita Supri, area peternakan tidak pernah kosong pada malam hari karena selalu ada yang menginap, baik Supri sendiri maupun kedua anaknya secara bergantian. 

Namun naas, peristiwa tersebut kebetulan memang sedang tidak ada yang berjaga di lokasi.

Satu-satunya petunjuk waktu terakhir adalah kesaksian rekannya yang melintas di sekitar rute peternakan seusai pulang memancing pada Sabtu (1/8/2026) malam.

"Ndak ada yang melihat kalau saat kejadian. Cuma sekitar jam 9 malam kemarin ada kawan-kawan sini pulang mancing, liat kobaran api kecil. Dikiranya bakar sampah, apalagi saat itu lampu di kandang ini masih terang dan hidup," terangnya.

TERIMA KEADAAN - Edy Supryanto saat diwawanvarai di lokasi bekas terbakar kandangnya di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Meski diterpa musibah, Supri memilih pasrah dan enggan melaporkan insiden tersebut ke aparat penegak hukum guna menghindari perselisihan.
TERIMA KEADAAN - Edy Supryanto saat diwawanvarai di lokasi bekas terbakar kandangnya di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Meski diterpa musibah, Supri memilih pasrah dan enggan melaporkan insiden tersebut ke aparat penegak hukum guna menghindari perselisihan. (Bangkapos.com/Kautsar Fakhri Nugraha)

Supri menepis dugaan adanya kelalaian darinya, seperti menyalakan perapian atau membakar sampah sebelum meninggalkan lokasi kandang pada Sabtu sore sekitar pukul 17.00 WIB.

"Semenjak musim kemarau ini kami tidak ada bakar-bakar. Kalaupun ada bakar sampah, jaraknya jauh sekitar 20 meter dari kandang dan dipastikan mati total baru kami pulang," tegasnya.

Baca juga: Nasib Terbaru Mahasiswi Undana yang Viral Histeris Depresi 12 Kali Batal Sidang Skripsi

Apapun itu, yang jelas, musibah tak tersebut melahap habis seluruh 43 kambing yang berada di dalam kandang, tanpa ada satu pun tersisa. 

"Kondisi kambing waktu saya datang pagi tadi ya sudah mati semua, hangus semua tak ada yang tersisa sama sekali," ucapnya. 

Tak hanya itu, kebakaran tersebut melenyapkan investasi dan modal usaha yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

"Total kerugian material kalau dari nilai kambing saja saat ini dikalikan Rp5 juta sudah sekitar Rp160 jutaan. Untuk fisik bangunan kandang kemarin habisnya Rp100 juta lebih. Jadi totalnya bisa Rp200 juta lebih," ungkap Supri. 

Meski begitu, Supri menegaskan tidak akan menyerah untuk terus bergelut di dunia peternakan.

"Kalau semangat dan optimis, saya tetap semangat karena jalan satu-satunya kami cari makan ya cuma ini. Cuma berkenaan sekarang ada keterbatasan modal, ya masih tertunda dulu sambil nunggu rezeki," katanya. 

Kesaksian Munculnya  Api Kecil

Bau hangus sisa kebakaran masih menyelimuti area peternakan kambing milik Edy Supryanto atau Supri.

Di lokasi tersebut, tim Posbelitung.co menemui Danil (43), warga Desa Gantung yang menjadi saksi awal munculnya titik api sebelum kebakaran hebat menghanguskan kandang dan puluhan ekor kambing milik Supri.

Danil mengaku tak pernah menyangka api kecil yang sempat dilihatnya pada Sabtu (1/8/2026) malam menjadi awal dari musibah besar yang menghancurkan peternakan tersebut.

Ia menceritakan, saat itu dirinya baru pulang memancing dari kawasan Air Itam sekitar pukul 21.00 WIB. 

Perjalanan menuju rumah mengharuskannya melintasi jalan perkebunan sawit yang berada di belakang lokasi kandang kambing milik Supri.

Ketika melintas, pandangannya sempat tertuju ke arah bangunan kandang yang berada di tepi jalan. Dari kejauhan, ia melihat cahaya terang yang awalnya dikira berasal dari lampu penerangan kandang yang memang biasa menyala pada malam hari.

Namun, ketika dicermati lebih dekat dari lintasan jalan, Danil menyadari adanya percikan api kecil yang mulai menyala di area dekat bangunan kandang tersebut.

"Ada api, tapi tak besar. Aku pikir ltu biasa kan karena saat itu lampu di kandang juga masih menyala. Pokoknya masih normal lah kandang saat itu" ujar Danil. 

Baca juga: Bagan Terbaru Piala AFF 2026, Hasil Skor 12 Laga, Jadwal Sisa dan Skema Skuad Indonesia ke Semifinal

Situasi sekitar pukul 21.30 WIB itu terasa sangat tenang. Danil menegaskan, belum terlihat gulungan asap tebal yang mengudara, begitu pula tak terdengar suara gaduh kambing dari dalam kandang.

Keadaan tersebut akhirnya membuat Danil berasumsi bahwa api kecil tersebut hanyalah aktivitas pembakaran sampah atau perapian kecil yang sengaja dibuat di sekitar kandang. 

"Tak ada suara kambing, belum terbakar semak-semak tuh. Asap belum ada juga, cuman ada api kecil-kecil, kayak membakar sampah," terangnya. 

Namun, kondisi cuaca malam itu diakui Danil sangat berangin. Sehingga diduga, kobaran api kecil tersebut cepat membesar dan melahap habis seluruh kandang.

Danil pun sempat berpikiran untuk menghentikan kendaraannya dan singgah sejenak di tepi aliran air dekat kandang untuk melihat kejernihan air, guna rencana memancing berikutnya. 

Namun, karena sudah lelah, ia memilih untuk memacu sepeda motornya tanpa kecurigaan sedikit pun bahwa api tersebut adalah awal bencana.

Danil lalu memastikan sepanjang penglihatannya melintasi kawasan kandang, tidak terlihat ada orang di sekitar tempat kejadian perkara.

"Ndak ada melihat siapa-siapa, setidaknya untuk saat itu a" katanya. 

Singkat cerita, kejadian pahit tersebut baru disadari Danil saat dirinya selesai menunaikan ibadah di masjid desa pada Sabtu subuh. 

Di masjid, ia bertemu beberapa rekan sekampungnya yang sedang riuh membicarakan kabar mengejutkan tentang musnahnya lokasi peternakan Supri.

Supri Tolak Tak Lapor Polisi

Di tengah hamparan tanah hitam bekas kandang yang terbakar di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Edy Supryanto atau Supri tampak berusaha tegar menghadapi musibah yang menimpanya.

Kebakaran yang menghanguskan 43 kambing serta bangunan kandang miliknya menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai lebih dari Rp200 juta. 

Namun di balik besarnya kerugian tersebut, Supri mengambil keputusan yang tidak biasa.

Ia memilih untuk tidak melaporkan kejadian itu kepada aparat penegak hukum, meskipun hingga kini penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui.

Baca juga: Klasemen Akhir Piala Presiden 2026: Arema-Persija Bentrok Semifinal Juara Grup Persebaya-Persib

Saat ditemui di lokasi kandang yang telah rata dengan tanah, Minggu (2/8/2026), Supri mengaku tidak memiliki niat untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

"Ndak, ndak ada berniat melapor ke mana-mana. Cuma tadi sempat dihubungi orang dinas (Distangan Beltim), sama Pak Kades tadi sempat menghubungi juga" ujar Supri.

HANGUS TERBAKAR - Kandang ternak milik Supri yang rata dengan tanah usai kebakaran hebat di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Insiden yang menghanguskan lahan seluas 15 x 20 meter tersebut mengakibatkan 43 ekor kambing mati terpanggang dengan total kerugian diperkirakan menembus angka Rp200 juta lebih. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha/Kautsar Fakhri Nugraha)
HANGUS TERBAKAR - Kandang ternak milik Supri yang rata dengan tanah usai kebakaran hebat di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, Minggu (2/8/2026). Insiden yang menghanguskan lahan seluas 15 x 20 meter tersebut mengakibatkan 43 ekor kambing mati terpanggang dengan total kerugian diperkirakan menembus angka Rp200 juta lebih. (Posbelitung.co/ Kautsar Fakhri Nugraha)

Oleh karena itu, Supri menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Desa Gantung bagaimana kelanjutan peristiwa ini tanpa bermaksud menuntut proses pembuktian. 

Sikap Supri ini bukan tanpa alasan. Baginya, proses penyelidikan berpotensi memicu kecurigaan yang tak berujung di tengah ketidakpastian saksi.

Seorang warga yang sempat melintas di lokasi pada Sabtu malam mengaku hanya melihat samar bayangan api dari kejauhan, tanpa bisa memastikan titik awal dan penyebab munculnya api. 

Supri menyadari, jika kasus ini terus diselidiki tanpa pembuktian yang jelas, hal itu hanya akan membuka ruang perselisihan bagi dirinya yang sedang berduka.

"Yang jadi masalah itu kan kalau di-sidik-sidik, terus ketemu pelakunya atau penyebabnya. Kalau saat ini kan aku nrimo (menerima), sabar," kata Supri. 

"Cuman kalau ketemu nanti, kan ndak tahu reaksi aku gimana. Masalahnya aku takut di situ," tambahnya. 

6 Kambing Milik BUMDes Ikut Terbakar

Musibah kebakaran yang meluluhlantakkan kandang ternak milik Edy Supryanto atau Supri di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur ( Beltim ), menyisakan persoalan baru.

Selain menghanguskan bangunan kandang dan menewaskan 43 kambing, kebakaran tersebut juga berdampak pada aset milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gantung yang dikelola melalui kerja sama bagi hasil dengan Supri.

Baca juga: Prediksi Skor Kamboja Vs Timor Leste Piala AFF 2026, H2H, Analisis Kekuatan & Peluang Menang Grup A

Dari total ternak yang mati terpanggang, enam kambing di antaranya merupakan kambing milik BUMDes Gantung yang dititipkan untuk dikelola di peternakan milik Supri.

“Total kambing yang terbakar itu tidak 100 persen punya saya pribadi. Ada sebagian yang sistem bagi hasil dengan BUMDes, ada enam kambing, yaitu tiga betina dan tiga jantan,” ujar Supri saat ditemui di lokasi bekas kebakaran, Minggu (2/8/2026).

Supri mengaku cukup pusing memikirkan pertanggungjawaban atas musibah ini, lantaran kontrak hanya mengatur pembagian hasil. 

"Itu ndak tahu nanti proses pertanggungjawabannya bagaimana. Kemarin disebut hanya bagi hasil, sedangkan untuk insiden human error atau musibah seperti ini tidak tertulis dalam surat perjanjian," ucapnya. 

Lebih lanjut, dari musibah ini, Supri kembali menegaskan komitmennya untuk tidak beralih profesi. Ia menilai, di tengah lesunya perekonomian sektor pertambangan timah serta kendala cuaca pada sektor pertanian, bidang peternakan tetap menjadi tumpuan utama mata pencahariannya.

"Di kondisi saat ini, pertanian masih kemarau dan harga pertambangan timah murah, saya tetap konsisten di jalur peternakan," ungkapnya.

BUMDes Tak Bebani Peternak Korban Kebakaran

Kebakaran yang menghanguskan peternakan kambing milik Edy Supryanto atau Supri di Dusun Rasau, Desa Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, tidak hanya menyebabkan kerugian bagi peternak tersebut.

Dalam peristiwa yang terjadi dan diketahui pada Minggu (2/8/2026) pagi itu, enam kambing milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gantung juga ikut mati terpanggang bersama puluhan ternak lainnya.

Ketua BUMDes Gantung, Yusfizar, membenarkan bahwa pihaknya memiliki enam kambing yang dititipkan dan dikelola di peternakan milik Supri melalui kerja sama bagi hasil.

“Benar apa yang dikonfirmasikan dari beliau, ada tiga pasang, jadi total enam kambing,” ujar Yusfizar kepada Posbelitung.co, Minggu (2/8/2026).

Baca juga: Prediksi Skor Kamboja Vs Timor Leste Piala AFF 2026, H2H, Analisis Kekuatan & Peluang Menang Grup A

Meski aset BUMDes turut musnah dalam kebakaran tersebut, Yusfizar menilai kejadian itu merupakan musibah yang berada di luar kendali siapa pun.

"Kalau musibah bencana seperti ini agak gimana juga kita nak menuntut beliau. Secara pribadi, saya rasa tak masuk akal juga kalau minta ganti rugi dalam keadaan musibah begini. Musibah ini kan bukan disengaja," ucapnya. 

Meski begitu, Yusfizar menyebut administratif BUMDes tetap harus dijalankan. 

Pihaknya berencana membawa persoalan ini kepada pengawas BUMDes Gantung guna menentukan langkah formal berikutnya.

Yusfizar mengaku ikut terpukul atas musibah yang menimpa peternakan tersebut. Pasalnya, area kandang itu menjadi tempat yang rutin dipantau dan dikunjungi pihak BUMDes.

Ia pun berharap kondisi ini cepat membaik. Karena itu, seluruh pihak diharapkan saling membantu pasca musibah ini. 

(Bangkapos.com/Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.