TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN - Proses pemulangan warga negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Malaysia baru-baru ini menyimpan kisah kemanusiaan yang jarang terlihat.
Dalam suasana lelah dan kalut yang dialami Pekerja Migran Indonesia, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Nunukan hadir memberikan dukungan agar para deportan tidak merasa sendirian.
Kepala Markas PMI Nunukan, Hardiansyah, menegaskan kehadiran relawan merupakan bentuk komitmen organisasi untuk selalu berada di garis terdepan membantu masyarakat.
"Sesuai instruksi Ketua PMI Kabupaten Nunukan Saddam Husein, bahwa kemanusiaan di atas segalanya. Setiap ada isu kemanusiaan, PMI akan berusaha hadir dan memberikan bantuan," ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Baca juga: Tak Hanya Kawal Deportasi, PMI Nunukan Hadir Beri Pendampingan Psikologis Pekerja Migran Indonesia
Menurut Hardiansyah, WNI deportan tidak hanya menghadapi persoalan fisik, tetapi juga tekanan psikologis, terutama anak-anak.
"Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan berupa barang, tetapi juga membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan cerita mereka, menghargai keberadaan mereka, dan memberikan rasa tenang setelah mengalami pengalaman yang berat," katanya.
Bagi relawan PMI, mendampingi kepulangan pekerja migran bukan sekadar tugas, melainkan kesempatan memberi dukungan moral.
"Kepulangan mereka bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari harapan baru. Kami bangga bisa menjadi bagian kecil dari pelukan pertama yang mereka temui saat kembali ke Indonesia," ungkapnya.
Baca juga: 64 PMI Deportan Malaysia Tiba di Nunukan, BP3MI Kaltara Biayai Pemulangan ke Daerah Asal
Dalam pendampingan, PMI Nunukan menyediakan kebutuhan dasar seperti tikar, pakaian layak pakai, masker, dan hand sanitizer.
Selain itu, program Restoring Family Links (RFL) dijalankan untuk membantu pekerja migran kembali berkomunikasi dengan keluarga melalui wawancara dan pendampingan.
"Dukungan seperti ini penting agar mereka tidak merasa sendirian. Kami membantu mereka kembali terhubung dengan keluarga dan lingkungan sosialnya," jelas Hardiansyah.
Perjalanan kemanusiaan relawan PMI tidak selalu mudah. Salah satu tantangan berat adalah menangani pasien dengan penyakit gatal-gatal yang menyerang hampir seluruh tubuh.
Meski demikian, semangat kemanusiaan membuat mereka tetap bertahan.
"Rasa kemanusiaan yang tinggi menjadi kekuatan bagi relawan untuk terus membantu sesama, apapun kondisi yang dihadapi," tuturnya.
Di sisi lain, PMI Nunukan mengingatkan masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri agar menempuh jalur resmi.
"Bekerjalah melalui prosedur yang benar agar hak dan keselamatan para pekerja migran dapat terlindungi," pungkasnya.
Di perbatasan Indonesia–Malaysia, relawan PMI Nunukan bukan hanya mengawal proses deportasi.
Mereka menjadi saksi perjalanan para pencari nafkah yang pulang membawa luka, sekaligus tangan pertama yang menghadirkan kembali rasa kemanusiaan dan harapan.
(*)