Esai Koran, Masihkah Dirindukan?
Ratino Taufik August 03, 2026 06:44 AM

Mujiburrahman

Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEKITAR dua bulan lalu, suatu pagi di hari Sabtu. Seperti biasa, saya dan istri olahraga jalan kaki, menelusuri tepi jalan. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada pandangan seorang ibu paruh baya, yang tengah menggendong bayi. Dengan berbinar, dia berkata, “Pak Mujib ya?” “Betul,” kataku. Kami pun berhenti sejenak. “Saya suka membaca tulisan Bapak di BPost,” katanya. Saya terkejut sekaligus terharu. Si ibu adalah “orang biasa”, penjaga warung kelontong di “gerobak” pinggir jalan.

Setelah berpamitan, sambil berjalan saya bercerita pada isteri bahwa beberapa orang yang mengaku menjadi pembaca esai saya memang unik. Beberapa tahun silam, saya mendapat cerita dari kawan-kawan di UIN. Ketika itu, mereka berangkat ke sebuah toko untuk membeli berbagai kebutuhan kantor. Saat keluar dari mobil, tukang parkir menyapa mereka. “Dari UIN Antasari ya?” katanya, setelah melihat mobil yang dipakai kawan-kawan itu bertuliskan nama kampus. “Saya kenal dengan rektormu,” katanya lagi. “Ah, masa?” “Iya, saya baca tulisannya tiap Senin,” terangnya.

Cerita di atas berbanding terbalik 180 derajat, ketika saya menanyakan hal serupa kepada banyak mahasiswa di kampus saya sendiri. “Mohon jawab dengan jujur ya. Tolong angkat tangan, siapa yang pernah membaca tulisan saya?” tanyaku pada sekitar 200 mahasiswa semester 2, baru-baru ini. Ternyata tak seorang pun! Begitu pula, sejak saya menjadi Direktur Pascasarjana, saya tak segan-segan mengajukan pertanyaan yang sama kepada mahasiswa S-2 dan S-3 yang kebetulan menemui saya. Jawabnya juga hampir sama. Mereka tak pernah membaca tulisan saya!

Lantas, apa kiranya sebab-sebab di balik ini semua? Salah satunya adalah perbedaan generasi yang berkorelasi dengan pergeseran teknologi informasi, dari cetak ke elektronik-digital. Si ibu pedagang kelontong dan si tukang parkir adalah generasi yang tumbuh dewasa saat media cetak masih sangat berpengaruh, sementara para mahasiswa saya adalah generasi baru yang lahir dan tumbuh pada era digital, yang serba internet dan elektronik, dan diserbu oleh informasi berlimpah melalui media sosial. Boleh dikata, generasi muda ini tak lagi tertarik membaca media cetak.

Ponsel sebagai alat komunikasi tercanggih saat ini tentu tidak hanya memengaruhi anak-anak muda Gen-Z, tetapi juga yang tua-tua. Saya menduga, generasi tua pun kini mulai malas membaca media cetak. Mereka sibuk dengan media sosial saja, kapan pun dan di mana pun. Apalagi, media sosial memang didesain dengan cermat agar dapat merebut perhatian orang. Ponsel dan segala aplikasinya sengaja dibuat agar kita benar-benar terikat padanya. Kita dibius dengan hasrat untuk mendapatkan validasi dan puja-puji, serta diganggu oleh aneka notifikasi yang nyaris tiada henti.

Apalagi, kita bukanlah bangsa yang gemar membaca. Budaya komunikasi kita cenderung oral alias lisan ketimbang tulisan. Angka buta huruf memang sudah sangat kecil, tetapi minat dan kemampuan membaca masyarakat kita masih rendah. Survei PISA (Program for International Student Assesment) menunjukkan, anak-anak kita usia 15 tahun rata-rata hanya mampu memahami teks sederhana, bukan teks yang rumit dan abstrak. Kondisi ini membuat mereka mudah terperangkap dalam konten-konten media sosial yang ringan, dan malas membaca teks yang agak serius, apalagi yang ilmiah.

Kecerdasan buatan (AI) memperburuk keadaan ini, antara lain karena AI dapat membuatkan karya tulis dengan cepat sesuai permintaan. Godaan AI ini tentu semakin sulit dilawan oleh orang yang malas membaca. Orang hanya akan bisa menulis dengan baik jika dia adalah pembaca yang baik. Jika dia malas membaca, lalu ada tuntutan untuk membuat karya tulis, maka otomatis bantuan AI akan menjadi andalannya. Karena jarang membaca, mungkin saja dia sendiri tidak paham dengan tulisan yang dibuatkan AI itu, dan cenderung tidak sadar jika dalam tulisan itu ada banyak kekeliruan.

Saya pun teringat dengan perbincangan saya bersama (alm.) Yusran Pare pada 2009 silam, yang kala itu menjabat Pemred BPost.  Dialah yang meminta saya untuk rutin menulis di koran ini. Saat diskusi bersama beberapa orang wartawan senior sebelum esai perdana Jendela tayang, dia mengatakan bahwa berdasarkan survei, pembaca rubrik opini koran ini sangat sedikit. Dia berharap, esai saya dapat mendongkrak gairah orang untuk membaca dan membuka wawasan. Bagi Yusran, selain memberikan informasi kepada publik, koran juga harus mendidik dan mencerdaskan publik.

Lantas bagaimana sekarang? Apakah kolom, esai atau opini, sudah tak dihiraukan orang lagi? Tidak juga. Rubrik opini Kompas, yang juga ‘atasan’ BPost, masih banyak dibaca orang. Koran itu bahkan menerbitkan tiga sampai empat opini sehari. Selain itu, semua media, termasuk BPost, telah membuat versi cetak dan elektronik, termasuk menggunakan media sosial. Saya sendiri rutin mengirim versi elektronik esai saya di media sosial. Pembacanya juga lumayan. Andai media sosial BPost juga menampilkan ide-ide penulis esai dan opini, mungkin perhatian publik akan meningkat.

Alhasil, saya sungguh berterimakasih telah diberi “privilege” menjadi penulis rutin di koran ini. Kolom atau esai, memang agak berbeda dengan opini biasa. Seperti kata Ignas Kleden (2025: 543-566), esai adalah perpaduan antara subjektivitas dan objektivitas. Ia adalah prosa sekaligus puisi. Dalam esai, pembaca tidak hanya menyimak pendapat penulis, tetapi juga mengenali pribadi penulisnya. Jika wartawan berusaha menyampaikan fakta objektif, ilmuwan menafsirkan fakta itu secara ilmiah, dan penyair menghayatinya secara subjektif, maka penulis esai menghubungkan semuanya.

 

Selamat Ulang Tahun BPost ke-55! (*)

 

Dalam esai, pembaca tidak hanya menyimak pendapat penulis, tetapi juga mengenali pribadi penulisnya. Jika wartawan berusaha menyampaikan fakta objektif, ilmuwan menafsirkan fakta itu secara ilmiah, dan penyair menghayatinya secara subjektif, maka penulis esai menghubungkan semuanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.