Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Antrian kendaraan roda dua maupun roda empat membludak di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Masohi yang berlokasi di Kelurahan Namasina, Kota Masohi, Maluku Tengah.
Kejadian pada Senin (3/8/2026) waktu Subuh, kendaraan roda empat mendominasi ruas jalan di sekiratan SPBU.
Kemacetan tak terhindari sejak subuh hingga pagi, menyebabkan arus lalu lintas tersendat. Antrian membludak diduga akibat kelangkaan BBM subsidi jenis solar dan pertalite.
Kondisi tersebut berlangsung cukup lama, dimana kendaraan harus mengantri berjam-jam untuk memperoleh BBM.
Kejadian tersebut dibagikan oleh pengendara di media sosial Facebook dan memunculkan sorotan dari berbagai pihak.
Yang menjadi sorotan masyarakat adalah dugaan bahwa antrean pengisian didominasi kendaraan Batap. Sejumlah warga menduga adanya kerja sama antara oknum petugas pengisian dengan sebagian sopir mobil Batap sehingga kendaraan tersebut lebih leluasa mengakses pengisian BBM.
"Kami antre berjam-jam, tapi mobil Batap terus yang mengisi. Kami sebagai masyarakat biasa sering kali tidak kebagian Pertalite," ungkap salah seorang warga yang ikut mengantre.
Baca juga: 40 Calon Paskibraka Malteng Digembleng 17 Hari, Siap Kibarkan Merah Putih pada HUT ke-81 RI
Baca juga: Damkar SBT Imbau Warga Tak Bakar Lahan, Sejumlah Kebakaran di Kota Bula Diduga Disengaja
Praktik seperti ini dinilai mencederai rasa keadilan dalam penyaluran BBM bersubsidi yang seharusnya dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Masyarakat mendesak pihak pengelola SPBU, Pertamina, serta aparat berwenang untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran Pertalite di SPBU Batas Kota Masohi. Warga berharap tidak ada perlakuan khusus maupun praktik yang merugikan masyarakat umum.
Selama persoalan ini belum ditangani secara serius, antrean panjang diperkirakan akan terus menjadi pemandangan sehari-hari di SPBU Batas Kota Masohi, sementara warga harus terus mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk memperoleh BBM bersubsidi yang menjadi hak mereka. (*)