Kelekak Bangka Menjadi Rumah Terakhir Mengkubung di Pulau Bangka
Asmadi Pandapotan Siregar August 03, 2026 11:03 AM

TIDAK banyak masyarakat yang mengenal mengkubung. Satwa bernama ilmiah Galeopterus variegatus itu kerap disebut sebagai “lemur terbang”, padahal bukan termasuk kelompok lemur dan sama sekali tidak memiliki kemampuan terbang.

Mengkubung hanya mampu meluncur dari satu pohon ke pohon lain dengan memanfaatkan selaput kulit yang membentang dari leher hingga ujung ekor. Kemampuan itu membuatnya sangat bergantung pada hutan dengan pepohonan tinggi yang saling terhubung.

Konservasionis satwa liar Bangka Belitung sekaligus Founder Dewa Rimba Project, Zikri Alamsyah, mengatakan Pulau Bangka masih menjadi salah satu habitat penting bagi mengkubung. Populasi yang relatif mudah dijumpai berada di kawasan Kelekak Bangka, Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.

“Saat ini kami memusatkan kegiatan perlindungan dan penelitian di Kelekak Bangka. Populasinya masih cukup melimpah karena hutan sekundernya relatif terjaga. Hanya saja, kawasan ini belum memiliki payung hukum yang kuat untuk menjamin perlindungannya,” kata Zikri kepada Bangkapos.com, Rabu (29/7).

Menurut dia, kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan sejumlah kawasan konservasi formal. Di beberapa kawasan yang berstatus taman nasional maupun taman wisata alam, populasi mengkubung justru semakin sulit ditemukan.

Berdasarkan hasil pengamatan timnya, dalam area seluas satu hingga dua hektare di Kelekak Bangka dapat dijumpai tiga hingga empat individu mengkubung. Sementara di kawasan hutan lain, termasuk sekitar Taman Nasional Gunung Maras, jumlahnya jauh lebih sedikit, yakni hanya satu hingga dua ekor pada luasan yang sama.

Zikri menjelaskan, mengkubung merupakan mamalia arboreal yang hampir seluruh siklus hidupnya berlangsung di atas pepohonan. Satwa ini tidak pernah berpindah dengan cara terbang, melainkan meluncur untuk mencapai batang pohon berikutnya.

“Mengkubung hidup dari pohon besar ke pohon besar. Dia bermanuver dengan meluncur untuk mendarat di pohon lain. Karena itu, keberadaan pohon-pohon tinggi yang saling terhubung menjadi kebutuhan utama bagi satwa ini,” ujarnya.

Selain bergantung pada struktur hutan, mengkubung juga merupakan herbivora yang mengonsumsi pucuk daun, tunas muda, bunga, buah, hingga bagian tanaman hutan lainnya.

Aktivitasnya berlangsung hampir seluruhnya pada malam hari atau bersifat nokturnal. Saat siang, mengkubung lebih banyak beristirahat dengan menempel di batang pohon. Corak bulunya yang menyerupai warna kulit kayu membuat satwa ini sulit dikenali, bahkan dari jarak dekat.

“Kalau mencarinya memang tidak mudah karena aktifnya malam hari. Siang hari dia tidur di pohon-pohon besar dengan kamuflase yang sangat baik sehingga sering tidak terlihat,” tutur Zikri.

Mengkubung juga hidup dalam kelompok keluarga kecil yang umumnya terdiri atas empat hingga lima individu. Koloni tersebut biasanya beranggotakan sepasang induk beserta anak-anaknya.

Meski populasinya di Kelekak Bangka masih relatif baik, Zikri mengingatkan ancaman terbesar satwa ini bukan berasal dari perburuan, melainkan terus menyusutnya
habitat akibat deforestasi dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan maupun penggunaan lahan lainnya.

Ketika pohon-pohon besar ditebang, jalur jelajah mengkubung ikut terputus. Akibatnya, satwa yang bergantung pada tajuk hutan ini semakin sulit mencari makan, berkembang biak, hingga mempertahankan populasinya.

Karena itu, menurut Zikri, perlindungan habitat menjadi langkah paling penting untuk menjaga kelestarian mengkubung di Bangka Belitung.

“Selama hutan yang menjadi rumahnya tetap terjaga, peluang mengkubung untuk bertahan hidup juga akan tetap ada,” katanya. (u2)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.