Faturhadi memilih jalan yang tak diambil banyak orang. Saat kesempatan menempuh pendidikan di Australia melalui beasiswa penuh terbuka lebar, putra pasangan Fahlepi dan Heni Kusuma Dewi asal Desa Nibung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, itu justru menambatkan pilihannya pada Akademi Angkatan Laut (AAL).
BAGI sebagian orang, kuliah di luar negeri merupakan impian tertinggi. Namun bagi lulusan SMA Negeri 1 Pangkalpinang itu, panggilan mengabdi kepada negara jauh lebih besar. Ia rela melepas bangku kuliah di Curtin University Australia maupun Universitas Gadjah Mada (UGM) demi mewujudkan cita-citanya menjadi prajurit TNI Angkatan Laut.
Keputusan tersebut bukan sekadar memilih kampus, melainkan menuntaskan mimpi panjang yang tumbuh di tengah keluarga sederhana.
“Saya sempat ditanya saat seleksi, ‘Bapaknya jenderal ya?’ Saya jawab, ‘Bapak saya petani’. Tapi dari ladang itulah kami belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan doa,” ujar Fatur kepada Bangkapos.com, Sabtu (1/8). Kalimat itu menjadi gambaran perjalanan hidupnya.
Di balik keberhasilannya ada Fahlepi, sang ayah, yang setiap hari bekerja di kebun demi menyekolahkan anaka-naknya setinggi mungkin. Sementara ibunya, Heni Kusuma Dewi, tak pernah berhenti menguatkan lewat doa dan dukungan.
“Alhamdulillah, semua kerja keras tidak akan menghianati hasil. Selain belajar akademik, persiapan fisik juga sangat penting. Saya latihan tanpa henti. Waktu sangat berharga untuk terus berlatih,” kata Fatur.
Perjalanan menuju AAL juga menyimpan kisah pengorbanan sang kakak, Yudies Fadilah. Selama tiga tahun berturut-turut ia mencoba mengikuti seleksi Akademi Militer, namun belum berhasil. Setelah melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Yudies justru menjadi sosok yang paling mendorong adiknya mengejar cita-cita itu.
Ia mendampingi hampir seluruh proses, mulai dari melengkapi berkas administrasi, menemani latihan fisik, hingga mempersiapkan keberangkatan Fatur ke Magelang mengikuti seleksi.
Sementara Fahlepi tetap menjalani rutinitasnya sebagai petani. Setiap hari ia bekerja di kebun agar perjuangan anakanaknya tak terhenti karena keterbatasan ekonomi. Bagi keluarga itu, keberhasilan Fatur bukan sekadar lolos ke salah satu akademi militer paling bergengsi di Indonesia, melainkan buah dari perjuangan panjang yang dirawat bertahun-tahun.
Fatur sendiri membangun disiplin sejak jauh hari. Latihan fisik dilakukan setiap hari, belajar menjadi rutinitas, sementara ibadah dan sikap hormat kepada orang tua maupun guru terus dijaga.
Bahkan saat mengikuti tahapan Pantukhir di Akademi Militer Magelang, ia tetap memanfaatkan waktu luang untuk belajar.
“Saya tetap membaca materi pelajaran di sela-sela aktivitas barak. Ketika tidak belajar, saya memilih membantu menyapu halaman barak atau kembali berlatih fisik agar tubuh tetap prima menghadapi seluruh rangkaian seleksi,” ujarnya.
Baginya, tak ada waktu yang boleh terbuang. Hobi bermain sepak bola dan menghabiskan waktu di perpustakaan menjadi cara menjaga keseimbangan antara ketahanan fisik dan pengetahuan.
Konsistensi itulah yang mengantarkannya melewati salah satu seleksi paling kompetitif di Indonesia.
Di rumah sederhana mereka, kabar kelulusan itu disambut haru. Fahlepi mengaku tak pernah membayangkan anak seorang petani diterima di tiga institusi bergengsi sekaligus. Namun sejak kecil ia selalu mengajarkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
“Bapak hanya ingin anak-anak punya pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Kami mungkin tidak bisa memberikan kemewahan, tetapi kami selalu berusaha memberikan doa, kejujuran, dan semangat untuk bekerja keras. Hari ini Allah membalas semua perjuangan itu,” katanya.
Heni pun tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Menurutnya, keberhasilan Fatur membuktikan anak-anak desa mampu bersaing dengan siapa pun selama memiliki kemauan belajar dan tidak mudah menyerah.
Sementara itu, Yudies menitipkan pesan yang sarat makna kepada sang adik. “Kami titipkan Fatur. Jaga nama baik keluarga, almamater, dan bendera Merah Putih. Ini bukan tentang bintang di pundak. Ini tentang bintang di mata seorang anak petani yang tidak pernah padam.” (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)