TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA — Manajemen Pakuwon Mall Jogja secara resmi menghentikan sementara proyek pembangunan pagar besi setinggi 2,5 hingga 3 meter di area perimeter luar mal yang berlokasi di Jalan Ringroad Utara, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.
General Manager Pakuwon Mall Jogja, Vicky Ratih Wandansari, membantah keras narasi yang beredar di masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemasangan pagar berwarna hijau di sisi utara dan barat bangunan tersebut murni merupakan pemenuhan standar infrastruktur dan estetika gedung yang telah dianggarkan sejak lama, bukan bentuk respons kepanikan terhadap isu keamanan wilayah.
"Itu sudah planning dari tahun lalu. Sudah untuk pembudgetan dari sejak tahun lalu, karena kan memang di kami ini kan belum ada pagarnya kan. Jadi kemudian kenapa harus dikerjakannya di bulan Agustus? Tidak, seharusnya kami tuh sudah memang dari pertengahan, dari awal Juli bahkan untuk mengerjakan ini. Kenapa? Karena kami menunggu musim kemarau, karena butuh proses mengecat dan sebagainya," urai Vicky, Senin (3/8/2026).
Vicky mengaku terkejut dengan reaksi publik yang menyambungkan proyek tersebut dengan trauma insiden kericuhan yang pernah terjadi di kawasan sekitar pada masa lampau. Terlebih, pembangunan tersebut sepenuhnya mematuhi regulasi tata ruang daerah.
"Jadi jujurlah, agak mengagetkan buat kami ketika masyarakat atau netizen meresponnya dengan dikaitkan dengan sisi keamanan. Karena sebetulnya ini sudah menjadi agenda sejak tahun lalu. Dan seharusnya itu sudah tidak menjadi isu di internalnya kami, karena kami juga membangun di sepadan pagar yang sudah sesuai dengan ketentuannya, di mana kami tidak melanggar seharusnya. Jadi tidak ada untuk alasan yang bagaimana-bagaimana," tegas Vicky.
Terkait dengan area pembangunan, Vicky merinci bahwa pagar besi tersebut hanya mengelilingi batas terluar bangunan yang memang sebelumnya dibiarkan terbuka. "Enggak (keliling semua). Jadi yang memang perimeter luar, hanya yang perimeter luar saja yang memang belum ada pagarnya. Di sisi belakang yang sudah ada pagar ya kami enggak. Jadi perimeter itu batas antara kami dengan sisi luar. Makanya sebetulnya apa yang kami kerjakan itu sudah di sepadan pagarnya kami," tambahnya.
Kekhawatiran publik tentang kemungkinan terulangnya insiden bentrokan massa di kawasan Ringroad Utara dan sekitarnya juga ditanggapi oleh Vicky. Ia memaparkan bahwa manajemen mal tidak pernah mengambil pendekatan represif terhadap massa pengunjuk rasa. Pada peristiwa unjuk rasa tahun lalu, pihak manajemen justru mengambil peran aktif dalam memberikan bantuan kemanusiaan.
"Pendekatannya kami kepada pendemo saat itu kan kami juga pendekatan yang friendly ya. Jadi kami juga bukan yang bagaimana-bagaimana yang terlalu represif atau gimana juga tidak gitu kan. Saat itu kami juga menyiapkan minuman, obat-obatan, bawa korban yang berjatuhan dengan mobil kantor kami sebagai ambulans karena ambulans tidak bisa menembus. Jadi makanya kalau ini dikaitkan dengan kejadian tahun lalu seharusnya tidak. Dan itu cukup mengagetkan ketika reaksinya seperti itu," jelasnya.
Meski seluruh pengerjaan telah sesuai prosedur, riuhnya opini publik yang telanjur terbentuk membuat manajemen Pakuwon Mall Jogja akhirnya memutuskan untuk menunda sementara penyelesaian proyek fisik tersebut demi menjaga ketenangan psikologis masyarakat Yogyakarta.
"Karena lagi kayak begini, kami hold. Kami hold karena kami tidak mau menambah kegelisahan gitu ya. Kami jujur tidak menyangka bahwa itu akan membuat gelisah. Seperti itu. Iya," kata Vicky saat ditanya mengenai status pengerjaan saat ini.
Lebih jauh, Vicky menyayangkan liarnya isu gangguan keamanan yang digulirkan publik di ranah maya. Ia mengingatkan bahwa narasi negatif tersebut berpotensi merugikan iklim investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang saat ini tengah bergairah.
Berdasarkan pantauan manajemen, animo belanja dan kepercayaan investor tetap tinggi di tengah isu yang beredar. Roda ekonomi berjalan normal tanpa ada tanda-tanda kepanikan dari konsumen maupun pemodal.
"Jadi jangan digoreng dengan isu-isu keamanan yang membikin investasi jadi takut, jadi yang enggak-enggak," pinta Vicky.
"Jadi ini benar-benar di luar prediksi kita. Kita membangun pagar itu demi kebaikan untuk semuanya, tadi yang Pak Harda (Bupati Sleman) sampaikan untuk estetika, terus kemudian karena memang kami belum ada pagar. Kenapa di tahun ini dikerjakan? Karena menunggu musim kemarau agar catnya tidak luntur," pungkasnya menegaskan kembali tujuan awal proyek.
Fenomena penambahan fasilitas pagar besi komersial ini sendiri tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Pemasangan barikade pengamanan bangunan merupakan bagian dari inisiatif standar keamanan internal dan pembaruan arsitektur di bawah naungan PT Pakuwon Jati Tbk, yang secara paralel juga dilakukan di sejumlah aset mereka di Indonesia.
Langkah serupa terpantau diterapkan di Tunjungan Plaza, Pakuwon Mall Surabaya, Kota Kasablanka dan Gandaria City di Jakarta, hingga Pakuwon Mall Bekasi.