UMP Purwokerto Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas, Luncurkan Pusat Layanan Cerdas
muh radlis August 03, 2026 02:56 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif di Indonesia. 

Pada Rabu, 29 Juli 2026, UMP menggelar acara 'Seminar Penguatan Ekosistem Pendidikan Inklusif' bersama Komisi Nasional Disabilitas (KND). 

Dalam momentum ini, UMP juga secara resmi meluncurkan unit layanan khusus disabilitas yang diberi nama Smart Disability Service Center (SDSC). 

Ketua Panitia Seminar, Dr. Sriyanto, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk menciptakan sistem pendidikan yang mampu mewadahi seluruh lapisan masyarakat tanpa adanya bentuk diskriminasi. 

Untuk merealisasikan hal tersebut, UMP menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, termasuk Komisi Nasional Disabilitas, Sentra Satria Banyumas di bawah naungan Kementerian Sosial, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. 

"Tujuan dari kegiatan seminar ini sebetulnya kita pengin membangun kolaborasi dan melaksanakan amanah undang-undang yaitu terkait dengan pendidikan inklusi di Indonesia, sehingga Universitas Muhammadiyah Purwokerto itu menjadi perguruan tinggi yang siap menerima semua masyarakat dalam kondisi atau keadaan seperti apa pun," ungkap Dr. Sriyanto saat diwawancarai di sela-sela acara. 

Senada dengan pernyataan tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kerja Sama UMP, Assoc. Prof. Saefurrohman, Ph.D., menekankan bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif bukanlah sekadar pilihan bagi institusi pendidikan, melainkan sebuah kewajiban hukum yang harus dikedepankan. 

"Pendidikan inklusif ini adalah amanat undang-undang bagi kita insan pendidikan. Dari mulai PAUD, pendidikan dasar dan menengah, perguruan tinggi, kita sudah, karena ini undang-undang kita wajib Bapak Ibu, kita wajib untuk mengedepankan pendidikan inklusif," tegas Assoc. Prof. Saefurrohman. 

Baca juga: Suami Kecanduan Judi Online Jadi Salah Satu Pemicu Tingginya Angka Perceraian di Kabupaten Blora

Menariknya, komitmen UMP terhadap penyandang disabilitas terbukti tidak hanya berhenti pada tataran regulasi akademik. 

Assoc. Prof. Saefurrohman turut membagikan kisah inspiratif tentang Efrisa, seorang mahasiswi disabilitas pengguna kursi roda dari program studi Pendidikan Informatika UMP. 

Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Efrisa berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude. 

Melihat dedikasi serta terobosan program yang diciptakannya, pihak kampus kemudian secara resmi mengangkat Eprisa menjadi staf di UMP, di mana ia kini memegang langsung program penerimaan mahasiswa baru di program studinya. 

"Di kami, di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, kami berkomitmen untuk selalu menampung mahasiswa disabilitas ini.

Alhamdulillah dua tahun kemarin, salah satu mahasiswi kami dari pendidikan informatika berhasil lulus dengan cumlaude dan alhamdulillah karena prestasinya kami angkat menjadi staf di Universitas Muhammadiyah Purwokerto," jelas Assoc. Prof. Saefurrohman membagikan pencapaian tersebut. 

Melalui peluncuran Smart Disability Service Center (SDSC) dan kolaborasi lintas sektor ini, UMP berharap dapat terus menjadi motor penggerak pendidikan inklusif yang memfasilitasi mahasiswa berkebutuhan khusus, sekaligus membangun komunitas inklusif yang suportif di tengah masyarakat luas. (*/rhn/chy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.