Tribunlampung.co.id, Way Kanan – Semangat berwirausaha di usia muda ditunjukkan oleh Aniza Syahla (19), owner Eats&Coo Dimsum.
Baca juga: Dimsum Seceng Soesilo Punya Cabang di Luar Lampung
Berbekal hobi memasak dan tekad yang kuat, Aniza berhasil membangun usaha kuliner yang kini memiliki dua cabang di Kabupaten Way Kanan, Lampung.
Usaha Eats&Coo resmi dirintis sejak Desember 2025. Awalnya, Aniza melihat bahwa keterampilan memasak yang dimilikinya dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
“Awalnya saya hanya hobi masak, terus saya kepikiran kenapa tidak dijadikan peluang usaha saja,” ungkapnya Senin (3/7/2026)
Dengan dukungan dan inspirasi dari kedua orang tuanya, ia memberanikan diri memulai usaha kuliner dari skala kecil.
"Orang tua menjadi sosok yang paling menginspirasi saya untuk memulai usaha. Dukungan mereka membuat saya semakin yakin untuk mengembangkan hobi memasak menjadi sumber penghasilan," ujar Aniza.
Eats&Coo kini memiliki dua cabang, yaitu di Gunung Labuhan, Way Kanan, tepat di samping Salsamart, serta di Baradatu, Way Kanan, yang berlokasi di depan Masjid At-Taqwa.
Pada awal usahanya, Aniza hanya menjual dimsum mentai. Seiring meningkatnya minat pelanggan, ia terus berinovasi dengan menghadirkan berbagai varian menu, seperti lumpia keju, lumpia mentai, dan lumpia ubi lumer. Inovasi tersebut menjadi salah satu kunci berkembangnya usaha yang dijalankannya.
Saat ini, Eats&Coo mampu memproduksi sekitar 12 kilogram dimsum atau sekitar 750 buah per hari. Dalam satu bulan, rata-rata penjualan mencapai sekitar 1.600 porsi dengan omzet berkisar Rp10 juta hingga Rp15 juta.
Meski demikian, perjalanan bisnis yang ditempuh Aniza tidak selalu berjalan mulus. Di masa awal merintis usaha, jumlah pelanggan masih terbatas sehingga pendapatan belum stabil.
Modal yang terbatas juga membuatnya harus mengatur keuangan dengan sangat cermat. Bahkan, ia sempat mengalami penurunan penjualan dan kerugian akibat tingginya biaya operasional.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia terus melakukan evaluasi dengan menjaga kualitas produk, meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, serta aktif melakukan promosi melalui media sosial.
Untuk meminimalkan kerugian, produk yang belum terjual disimpan di dalam kulkas atau freezer agar kualitasnya tetap terjaga.
"Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah persaingan usaha yang semakin ketat, penjualan yang kadang menurun, serta kenaikan harga bahan baku. Saya mengatasinya dengan menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan terbaik, terus berpromosi, dan mengelola keuangan dengan lebih baik," jelasnya.
Bagi Aniza, setiap kerugian merupakan pengalaman berharga yang menjadi bahan evaluasi untuk terus memperbaiki usahanya.
Berkat kerja keras, konsistensi, serta dukungan keluarga dan pelanggan, Eats&Coo kini terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat.
Ke depan, Aniza berharap usahanya dapat terus bertumbuh, memiliki lebih banyak pelanggan, meningkatkan kualitas produk dan pelayanan, serta membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)