TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Siswa SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, disebut masih trauma setelah mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Untuk sementara, pihak sekolah meminta siswa membawa bekal makanan dari rumah.
Kepala SMKN 6 Semarang Berti Sagendra mengatakan, pihak sekolah juga meminta layanan MBG di sekolahnya dihentikan sementara.
Langkah ini diambil untuk memulihkan kondisi psikologi anak.
"Kami minta dihentikan dulu soalnya biar trauma anak-anak itu selesai dulu," kata Berti dikutip dari Kompas.com, Senin (3/8/2026).
Berti mengatakan, pihak sekolah masih membuka posko pelaporan selama 24 jam setiap hari.
Hingga Senin pagi, katanya, masih ada 10 siswa yang dirawat di rumah sakit.
Baca juga: Siswa SMKN 6 Semarang Korban Keracunan MBG Berangsur Membaik dan Pulang
Sementara, korban keracunan MBG di sekolah tersebut mencapai 707 orang terdiri dari 693 siswa dan 14 guru.
Mereka dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat dari kediaman masing-masing, di antaranya di RSD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang, RS Bhakti Wira Tamtama, RS Panti Wilasa, RS Permata Medika, juga Puskesmas Halmahera.
"Per hari kemarin (Sabtu, 1 Agustus 2026) saya nengok itu tinggal delapan. Tapi, hari ini (Minggu, 2 Agustus 2026) ada anak lagi masuk, jadi 10 (masih rawat inap)," ungkapnya, Minggu.
Menurut Berti, saat hari pertama keracunan MBG terdeteksi, Jumat (31/7/2026), ada 42 orang yang mendapat penanganan intensif di sekolah.
Kemudian, 13 siswa dilarikan ke rumah sakit karena harus menjalani rawat inap.
Pascakejadian, katanya, para guru bergantian menjenguk dan memantau kondisi kesehatan siswa di rumah sakit.
Berti mengatakan, dirinya sempat bertemu Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono saat menjenguk siswa yang dirawat di RS Bhakti Wira Tamtama Semarang, Sabtu (1/8/2026).
"Beliau menyampaikan, menitip anak-anak ya, tolong dijaga. Selebihnya menyampaikan doa ke siswa yang terdampak, kemudian menyampaikan komitmen memperbaiki MBG dan memberikan santunan juga," katanya.
Baca juga: 690 Siswa SMKN 6 Semarang Alami Mual dan Diare Massal, Diduga Keracunan Menu MBG Ayam Belum Matang
Dalam pertemuan itu, Sudaryono juga menegaskan bahwa biaya pengobatan para korban akan ditanggung BGN.
Ia berharap, program MBG dapat dievaluasi di seluruh tahapan agar layak dan aman dikonsumsi masyarakat, serta tidak menyisakan anak-anak yang masih trauma.
"Harapan kami, seperti harapan Bapak Kepala BGN. Jadi, makanan yang disajikan itu seperti makanan di rumah sakit kemarin, jadi makanannya sehat tidak menimbulkan masalah di kesehatan, justru menambah kesehatan anak," harapnya. (Kompas.com/Titis Anis Fauziyah)