Kisah Jhony Pantow Perajin Mobil Hias TIFF Sejak 2008, Pulang dari Raja Ampat Demi Parade Bunga‎
Chintya Rantung August 03, 2026 07:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 tinggal menghitung hari. 

‎Jalan-jalan utama mulai dipercantik.

‎Baliho-baliho promosi TIFF terpasang di seantero kota.

‎Di antara semua rangkaian acara, ada satu momen yang selalu ditunggu setiap tahun.

‎Acara itu adalah Tournament of Flowers (ToF), parade mobil hias (float) yang menjadi ikon Kota Tomohon.

‎Tahun ini ada 33 float yang siap tampil meriahkan acara.

‎Di balik kemegahan float-float tersebut, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan.

‎Saya menemui mereka di Tomohon Show Window, Kelurahan Kakaskasen II, Kecamatan Tomohon Utara, Senin (3/8/2026) sore.

‎Lokasinya cukup jauh dari keramaian kota.

‎Begitu tiba, suara palu yang bersahutan membuat langkah saya berhenti.

‎Di hadapan saya, puluhan truk berjajar.

‎Belum ada bunga warna-warni yang menghiasi. 

‎Yang terlihat baru kerangka-kerangka besar dari kayu, bambu, dan kawat. 

‎Bentuknya masih kasar, tetapi imajinasi para pembuatnya sudah mulai terlihat.

‎Tampak, di satu kendaraan, dua hingga lima orang sibuk memaku.

‎Ada yang mengikat kawat, memotong bambu, hingga mengatur posisi agar pas. 

‎Hampir di setiap sudut terdengar bunyi palu yang tak berhenti sejak pagi.

‎Saya berjalan menyusuri satu per satu rangka itu.

‎Pandangan saya berhenti pada sebuah float. 

‎Dibagian atas tampak bentuk ukiran berbentuk burung merak.

‎Lehernya sudah mulai terbentuk. Kepalanya mengarah ke depan. Begitu juga dengan badannya.

‎Di sampingnya, tampak satu lagi burung merak.

‎Dari bagian belakang, rangka kawat memanjang ke bawah, kelak menjadi ekor yang akan dipenuhi ribuan bunga.

‎Di bawah rangka itu berdiri seorang pria paru baya.

‎Namanya Jhony Pantow.

‎Ia tampak sibuk bekerja.

‎Meski begitu, pria 65 tahun itu tetap memperhatikan saat diajak bercerita.

‎"Ini float bank sulutGo," kata dia sembari terus memaku.

‎"Saya sudah buat desain mobil sejak tahun 2008, saat TIFF pertama dimulai," Sambungnya.

‎Obrolan kami terasa akrab. Padahal baru pertama kali ketemu.

‎Ia tak bekerja sendiri, ada 5 rekan kerjanya yang membantu membuat kerangka di mobil truk itu.

‎Sambil menyebat rokok, ia bercerita. Tahun itu menjadi awal perjalanannya bersama TIFF.

‎Menurut Pria Kelahiran Tomohon 22 Desember 1960 ini, saat pertama kali festival digelar, pengerjaan mobil hias belum semegah sekarang. 

‎Desain yang dibuat masih sederhana. Belum banyak detail rumit seperti saat ini.

‎"Dulu pakai sembarangan bunga, tidak kayak sekarang," ucap ayah 4 orang anak ini.

‎Namun, setiap tahun selalu ada perkembangan.

‎Tantangan semakin besar, begitu pula kreativitas yang dituntut dari para pembuat mobil hias.

‎Rangka burung merak yang sedang ia kerjakan sudah sekitar 70 persen selesai. 

‎Meski begitu, masih dibutuhkan sekitar dua hari untuk selesaikan seluruh kerangka sebelum mulai dipasangi bunga.

‎Bagi Jhony, membuat mobil hias bukan sekadar pekerjaan musiman.

‎Sudah menjadi bagian dari hidupnya.

‎Ia bekerja sebagai tukang di Raja Ampat

‎Dia baru balik dua bulan lalu hanya untuk menghias float TIFF.

‎"Yah sudah seperti panggilan alam," Katanya lalu tertawa.

‎Pandemi Covid-19 menjadi satu-satunya masa ketika aktivitas itu terhenti karena festival tidak digelar.

‎Selebihnya, hampir setiap tahun ia kembali berdiri di atas rangka-rangka kayu, memegang palu, membangun karya yang nantinya hanya dinikmati masyarakat selama beberapa jam di jalanan.

‎Saat ditanya karya yang paling berkesan, Johnny tak perlu berpikir lama.

‎Ia langsung mengingat sebuah mobil hias bertema Jepang.

‎Desain itu dipenuhi karakter dan ornamen khas Negeri Sakura. 

‎Bentuknya rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi.

‎Namun semua kerja keras itu terbayar.

‎Mobil hias yang mereka kerjakan berhasil menjadi juara.

‎"Itu jadi kebanggaan buat kami," ujarnya.

‎Kini, di usianya yang tak lagi muda, semangat Johnny belum berubah.

‎Bahkan semangat nya terlihat seperti pria berusia 30-an.

‎Saat ini, ia kembali menyiapkan karya terbaiknya untuk TIFF 2026.

‎Karena saat penonton terpukau melihat parade mobil bunga melintas di jalan, mungkin hanya sedikit yang mengetahui bahwa keindahan itu lahir dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam, jauh sebelum festival dimulai.

‎"Harapan saya satu, semoga TIFF tahun ini sukses," tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.