TRIBUNMANADO.CO.ID - Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 tinggal menghitung hari.
Jalan-jalan utama mulai dipercantik.
Baliho-baliho promosi TIFF terpasang di seantero kota.
Di antara semua rangkaian acara, ada satu momen yang selalu ditunggu setiap tahun.
Acara itu adalah Tournament of Flowers (ToF), parade mobil hias (float) yang menjadi ikon Kota Tomohon.
Tahun ini ada 33 float yang siap tampil meriahkan acara.
Di balik kemegahan float-float tersebut, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak sorotan.
Saya menemui mereka di Tomohon Show Window, Kelurahan Kakaskasen II, Kecamatan Tomohon Utara, Senin (3/8/2026) sore.
Lokasinya cukup jauh dari keramaian kota.
Begitu tiba, suara palu yang bersahutan membuat langkah saya berhenti.
Di hadapan saya, puluhan truk berjajar.
Belum ada bunga warna-warni yang menghiasi.
Yang terlihat baru kerangka-kerangka besar dari kayu, bambu, dan kawat.
Bentuknya masih kasar, tetapi imajinasi para pembuatnya sudah mulai terlihat.
Tampak, di satu kendaraan, dua hingga lima orang sibuk memaku.
Ada yang mengikat kawat, memotong bambu, hingga mengatur posisi agar pas.
Hampir di setiap sudut terdengar bunyi palu yang tak berhenti sejak pagi.
Saya berjalan menyusuri satu per satu rangka itu.
Pandangan saya berhenti pada sebuah float.
Dibagian atas tampak bentuk ukiran berbentuk burung merak.
Lehernya sudah mulai terbentuk. Kepalanya mengarah ke depan. Begitu juga dengan badannya.
Di sampingnya, tampak satu lagi burung merak.
Dari bagian belakang, rangka kawat memanjang ke bawah, kelak menjadi ekor yang akan dipenuhi ribuan bunga.
Di bawah rangka itu berdiri seorang pria paru baya.
Namanya Jhony Pantow.
Ia tampak sibuk bekerja.
Meski begitu, pria 65 tahun itu tetap memperhatikan saat diajak bercerita.
"Ini float bank sulutGo," kata dia sembari terus memaku.
"Saya sudah buat desain mobil sejak tahun 2008, saat TIFF pertama dimulai," Sambungnya.
Obrolan kami terasa akrab. Padahal baru pertama kali ketemu.
Ia tak bekerja sendiri, ada 5 rekan kerjanya yang membantu membuat kerangka di mobil truk itu.
Sambil menyebat rokok, ia bercerita. Tahun itu menjadi awal perjalanannya bersama TIFF.
Menurut Pria Kelahiran Tomohon 22 Desember 1960 ini, saat pertama kali festival digelar, pengerjaan mobil hias belum semegah sekarang.
Desain yang dibuat masih sederhana. Belum banyak detail rumit seperti saat ini.
"Dulu pakai sembarangan bunga, tidak kayak sekarang," ucap ayah 4 orang anak ini.
Namun, setiap tahun selalu ada perkembangan.
Tantangan semakin besar, begitu pula kreativitas yang dituntut dari para pembuat mobil hias.
Rangka burung merak yang sedang ia kerjakan sudah sekitar 70 persen selesai.
Meski begitu, masih dibutuhkan sekitar dua hari untuk selesaikan seluruh kerangka sebelum mulai dipasangi bunga.
Bagi Jhony, membuat mobil hias bukan sekadar pekerjaan musiman.
Sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Ia bekerja sebagai tukang di Raja Ampat
Dia baru balik dua bulan lalu hanya untuk menghias float TIFF.
"Yah sudah seperti panggilan alam," Katanya lalu tertawa.
Pandemi Covid-19 menjadi satu-satunya masa ketika aktivitas itu terhenti karena festival tidak digelar.
Selebihnya, hampir setiap tahun ia kembali berdiri di atas rangka-rangka kayu, memegang palu, membangun karya yang nantinya hanya dinikmati masyarakat selama beberapa jam di jalanan.
Saat ditanya karya yang paling berkesan, Johnny tak perlu berpikir lama.
Ia langsung mengingat sebuah mobil hias bertema Jepang.
Desain itu dipenuhi karakter dan ornamen khas Negeri Sakura.
Bentuknya rumit dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Namun semua kerja keras itu terbayar.
Mobil hias yang mereka kerjakan berhasil menjadi juara.
"Itu jadi kebanggaan buat kami," ujarnya.
Kini, di usianya yang tak lagi muda, semangat Johnny belum berubah.
Bahkan semangat nya terlihat seperti pria berusia 30-an.
Saat ini, ia kembali menyiapkan karya terbaiknya untuk TIFF 2026.
Karena saat penonton terpukau melihat parade mobil bunga melintas di jalan, mungkin hanya sedikit yang mengetahui bahwa keindahan itu lahir dari tangan-tangan yang bekerja dalam diam, jauh sebelum festival dimulai.
"Harapan saya satu, semoga TIFF tahun ini sukses," tutupnya.