Dosen Penguji Klarifikasi Soal Skripsi Jessica, Tudingan Bikin Depresi Ditepis
Noval Andriansyah August 03, 2026 06:40 PM

Tribunlampung.co.id, Kupang - Pihak dosen penguji Jessica Sofia Tunardjo akhirnya buka suara memberikan klarifikasi terkait tudingan pembatalan sidang skripsi hingga 12 kali, yang memicu tekanan psikologis berat bagi mahasiswi Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tersebut.

Baca juga: Nasib Dosen yang Diduga Buat Jessica Depresi, Batalkan Ujian Skripsi hingga 12 Kali

Melalui kuasa hukumnya, Rudy Tonubesi, pihak dosen menilai kabar yang beredar luas di media sosial tidak valid dan menyudutkan kliennya.

"Tolong percepat proses ini supaya klien saya jangan dihantam di publik dengan data yang tidak valid sama sekali," kata Rudy, dikutip dari video Metro TV.

Rudy menjelaskan, komunikasi antara kliennya dan pihak terkait mengenai jadwal ujian hanya terjadi satu kali dalam waktu yang sangat mepet.

Hingga tanggal 28, kliennya sama sekali belum menerima maupun membaca draf naskah skripsi mahasiswa yang akan diuji tersebut.

Tanpa memegang berkas, dosen penguji merasa tidak memiliki dasar referensi akademik untuk menguji.

"Posisinya beliau belum menerima hasil tersebut dan tentu tidak memiliki data apa pun. Terus apa yang mau diuji?"

"Demi keselamatan mahasiswa, klien saya menyarankan lewat pesan WhatsApp agar penguji diganti saja jika ujian tetap dipaksakan besoknya," beber Rudy, dilansir TribunBengkulu.com.

Soroti Mekanisme dan Etika Penunjukan Dosen Penguji

Lebih jauh, pihak dosen penguji menyoroti alur birokrasi akademik yang dinilai janggal.

Menurut Rudy, urutan logis proses ujian skripsi seharusnya diawali oleh kesepakatan antara dosen pembimbing dan mahasiswa terlebih dahulu.

Setelah pembimbing dan mahasiswa sepakat, barulah pihak prodi memohon kesediaan dosen penguji, bukan bersifat perintah dadakan.

"Secara etis, dosen penguji itu dimintai kesediaannya, bukan menerima perintah," tegasnya.

Pihak dosen meminta rektorat dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undana segera menyelesaikan proses penelusuran internal agar polemik ini dapat diluruskan secara terang benderang di mata publik.

Rektorat Pastikan Hak Akademik Jessica

Rektor Universitas Nusa Cendana, Jefri S. Bale, bersama jajaran pimpinan universitas telah menjenguk Jessica di Rumah Sakit Wirasakti Kupang pada Sabtu (1/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Jefri menegaskan universitas berkomitmen mengawal penyelesaian persoalan akademik Jessica setelah kondisi kesehatannya membaik.

Ia juga mengungkapkan bahwa Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, telah melakukan panggilan video kepada Jessica untuk memberikan semangat sekaligus memastikan hak akademiknya tetap terlindungi.

"Pak Menteri sudah berkomunikasi langsung melalui video call dengan adik Jessica, menanyakan kesehatannya dan memastikan bahwa Kementerian mendukung penyelesaian studinya hingga menjadi sarjana," kata Jefri, dikutip dari Pos Kupang.

Pihak universitas meminta keluarga Jessica memusatkan perhatian pada proses pemulihan kesehatan.

Meski demikian, kampus memastikan seluruh proses akademik Jessica akan tetap berjalan setelah kondisinya memungkinkan.

"Jadi saya baru bisa hadir ke sini karena baru tiba dari luar kota. Kami datang untuk melihat dan minimal memberikan dukungan."

"Serta menyampaikan bahwa secara kelembagaan universitas mendukung dan berkomitmen menyelesaikan permasalahan yang dihadapi mahasiswa. Kami hadir untuk mereka," ucap Jefri.

Ia kembali menegaskan bahwa Jessica tetap berhak menyelesaikan studinya.

"Kami meminta supaya keluarga dan adik Jesika fokus dulu pada pemulihan kesehatannya."

"Terkait kelanjutan studi dan proses akademik selanjutnya, kami pastikan ke depan adik Jessica akan memperoleh seluruh haknya."

"Hak untuk menyelesaikan studi tetap akan kami penuhi dengan prosedur yang lebih baik sehingga tidak lagi terjadi hal-hal seperti yang dialami saat ini," tegasnya.

Berdasarkan hasil kunjungan tersebut, kondisi Jessica disebut mulai menunjukkan perkembangan positif meski masih membutuhkan perawatan.

"Kami melihat adik Jessica sudah sedikit membaik. Masih ada kendala kesehatan."

"Tetapi yang bersangkutan sudah mengatakan bahwa kondisinya lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya. Itu yang paling penting bagi kami," terangnya.

Fakultas dan Rektorat Masih Melakukan Investigasi

Sebelumnya, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana, Prof. Dr. Ir. Apris A. Adu, S.Pt., M.Kes., menyampaikan keprihatinannya atas kondisi Jessica.

"Saya sangat menyesalkan kejadian ini. Kondisi seperti ini tentu bukan yang kita harapkan. Harapan kami, FKM menjadi fakultas yang memberikan pelayanan terbaik, terutama kepada mahasiswa sebagai pemangku kepentingan utama," ujarnya.

Menurut Apris, setelah menerima informasi, pimpinan fakultas langsung menggelar rapat koordinasi bersama wakil dekan, kepala tata usaha, ketua program studi, operator, serta pihak terkait lainnya.

"Prinsip kami satu, persoalan ini harus segera diselesaikan karena dosen dan mahasiswa merupakan bagian dari keluarga besar FKM," katanya.

Ia menjelaskan bahwa fakultas telah berkoordinasi dengan dosen pembimbing dan dosen penguji.

Namun, klarifikasi terhadap salah satu dosen penguji belum dapat dilakukan karena yang bersangkutan sedang berduka atas meninggalnya anggota keluarga.

"Kami memberikan waktu satu hingga dua hari agar beliau dapat melewati masa dukanya. Setelah itu kami akan memperoleh informasi secara lengkap dari semua pihak," jelasnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Prof. Apris bersama jajaran pimpinan fakultas juga mengunjungi Jessica di Rumah Sakit Wirasakti Kupang.

"Kami datang sebagai orang tua untuk memberikan semangat dan dukungan kepada Jessica agar segera pulih dan dapat kembali menjalankan aktivitasnya sebagai mahasiswa," katanya.

Di rumah sakit, rombongan juga bertemu dengan teman-teman Jessica serta orang tua angkat yang selama ini mendampinginya.

"Kami menyampaikan bahwa seluruh sivitas akademika FKM memberikan dukungan penuh dan berharap Jessica segera pulih, baik secara mental maupun fisik, sehingga dapat kembali mengikuti proses akademik," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Undana, Prof. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa universitas masih menelusuri seluruh fakta sebelum menyampaikan kesimpulan resmi kepada publik.

"Mahasiswa atas nama Jessica Sofia memang merupakan mahasiswa aktif Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat. Terkait informasi yang viral, saat ini kami sedang melakukan investigasi untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya," ujarnya.

Menurutnya, investigasi dilakukan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan kesimpangsiuran maupun kesalahpahaman.

"Kami ingin memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat agar informasi ini tidak bias ke mana-mana," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Undana tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus.

"Pada prinsipnya, Undana tidak mentoleransi adanya kekerasan dalam bentuk apa pun yang terjadi di lingkungan kampus," tegasnya.

Karena itu, pihak universitas meminta masyarakat memberikan waktu kepada tim investigasi untuk menyelesaikan pemeriksaan secara menyeluruh.

"Kami sangat mengharapkan semua pihak bersabar. Yang pasti, kami akan memberikan informasi yang tepat dan benar mengenai kejadian ini setelah proses investigasi selesai," ungkapnya.

Prof. Philiphi menambahkan bahwa hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar evaluasi dan perbaikan sistem agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

"Ke depan, kami akan memperbaiki berbagai hal sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kami memohon dukungan masyarakat agar Undana terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, bangsa, dan negara," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.