TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mewaspadai keberadaan kawanan kera ekor panjang masih kerap dijumpai masuk ke lahan pertanian dan permukiman warga, terutama saat musim kemarau.
Panewu Imogiri, Slamet Santosa, menyebut, keberadaan kera ekor panjang kerap dijumpai di sejumlah titik termasuk daerah Tilaman, Kedung Buweng, dan sekitar Makam Raja-Raja Kalurahan Wukirsari.
"Kemudian ada juga di Kalurahan Girirejo, Kalurahan Karangtengah, Kalurahan Sriharjo bagian timur, hingga Nogosari, sekitar Srunggo dan Kalidadap Kalurahan Selopamioro," katanya, Senin (3/8/2026).
Adapun kawanan per koloni kera ekor panjang itu dimungkinkan sekitar 25 sampai 80 ekor. Kera ekor panjang biasanya dijumpai di lahan pertanian dan permukiman warga saat sumber makanan di habitat asli mereka berkurang.
Saat sumber makanan mereka berkurang, kera ekor panjang akan berburu makanan ke luar habitat aslinya. Kondisi itu terkadang mengganggu warga setempat, karena kawanan kera sering kali merusak tanaman perkebunan, menjarah hasil panen, hingga masuk ke permukiman untuk mencari sisa-sisa makanan.
"Kalau di tempat habitat aslinya masih cukup makanan, mereka tidak mengganggu. Tetapi, kalau di habitat aslinya sudah kering dan sumber makanan berkurang, kawanan kera ekor panjang akan turun ke lahan pertanian hingga sampai pekarangan rumah," ucap dia.
Terkadang, kata Slamet, keberadaan kera ekor panjang dapat memakan hasil pertanian warga mulai dari jagung, ketela, kacang-kacangan, hingga buah-buahan berupa pisang, jambu, dan kelengkeng. Akibatnya, para petani mengalami kerugian materiil yang tidak sedikit.
"Kera ekor panjang itu bisa memakan apa saja yang kita makan. Jadi jelas mereka membuat petani merasa rugi. Apalagi kera ekor panjang itu bisa mencabut hasil pertanian warga untuk dimakan," tutur Slamet.
Dikarenakan kera ekor panjang ini termasuk hewan yang dilindungi, sehingga pihaknya tidak melakukan penangkapan, pemusnahan, maupun pembunuhan. Namun, biasanya masyarakat setempat sudah paham, sehingga berupaya menghalau keberadaan mereka.
"Jadi masyarakat biasanya mengusir supaya mereka tidak menyerang. Kita juga sedang mencoba tanaman yang tidak bisa dimakan oleh kera. Ada beberapa tanaman, misalnya empon-empon, jahe, kunyit, lengkuas, tembakau. Itu kan kera ekor panjang tidak doyan," ujar dia.
Tanaman tersebut biasanya akan ditanam oleh para petani di daerah perbatasan habitat asli kera ekor panjang. Walau begitu, ada pula cara lain yang sudah dilakukan oleh warga dan dinilai cukup berhasil mengusir keberadaan kera ekor panjang.
"Cara lainnya itu berupa memelihara anjing. Anjing itu diikat atau dibuat tempat sendiri untuk berjaga. Nanti, anjing itu menggonggong saat kera ekor panjang datang. Terus kera ekor panjang merasa takut," papar Slamet.
Kendati demikian, pihaknya tidak mendorong masyarakat untuk memelihara anjing. Hanya saja, dalam rangka untuk mengusir kera ekor panjang, dapat dilakukan dengan pemeliharaan anjing.
Senada, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menyebut, keberadaan ekor panjang cukup merugikan para petani. Sayangnya, ia tidak bisa memberikan banyak komentar terkait hal tersebut.
"Iya, kera ekor panjang biasanya ditemui di beberapa titik. Dan memang itu cukup merugikan para petani karena terkadang merusak dan mengambil hasil pertanian," tutupnya.(nei)